Marahnya Pejabat Publik

AA036965Mencoba mengalihkan perhatian dari Feni Rose yang sedang antusias jualan rumah, sayapun sukses disuguhi tayangan pejabat sedang marah-marah oleh dua chanel televisi berbeda. Melewatkan masa kecil dimana TVRI yang menjadi tontonan  kami kerap hanya menampilkan pidato pejabat atau tayangan saat mereka melakukan pengguntingan pita, membuat adegan kepala daerah marah-marah itu menjadi sangat menarik untuk disimak.

Dan jika dirunut kebelakang ( Nah tuh kan, istilah saya TVRI banget ), Siaran kepala daerah naik pitam yang saya tonton itu, bukan yang pertama hadir di layar kaca. Ada Ahok yang pernah mencak-mencak didepan para Kepala Dinas, Ibu Risma nunjuk-nujuk hidung penyelenggara bagi-bagi es krim, Ganjar Pranowo yang berkasi melototin pegawai dinas perhubungan dan yang terakhir saya tonton semalam, Bupati Lebak, Banten Iti Octavia Jayabaya murka gara-gara saluran air di salah satu tempat diwilayah pemerintahannya dipenuhi sampah.

Aksi itu seolah menjadi model baru cara memimpin. Semestinya kita menyambut baik dan mengapresiasi hal tersebut sebagai bentuk ketegasan sikap atas berbagai pelanggaran yang terjadi. Kita juga harus memaklumi, mungkin amarah Ibu Risma, Pak Ganjar dan Ahok  menjadi pelampiasan dari rasa frustasi mereka menyaksikan segala bentuk penyimpangan yang seakan menjadi fenomena lazim. Atau mungkin sebagai kanalisasi kemarahan karena malam harinya melihat di handphone pasangan ada SMS dari orang lain yang manggil honey :p

Apapaun itu, marah seorang pejabat publik dengan marahnya seorang tukang gerobak yang tempat jualannya digaruk Satpol PP menjadi sesuatu yang berbeda ketika ditampilkan di televisi. Tidak salah jika adegan Ibu Risma berteriak-teriak saat Taman Bungkul di Surabaya rusak, sampai di tayangkan berulang-ulang. Demikian pula adegan Gandjar Pranowo. Dalam Ilmu Jurnalistik, value berita banyak ditentutak oleh subjek berita itu sendiri atau biasa disebut names make news.  Seorang dosen saya sering menganalogikan : Presiden digigit anjing adalah berita besar, dan menjadi bisa saja ketika yang digigit anjing itu seorang rakyat jelata.

Tidak mengherankan jika tayangan ulang peristiwa Taman Bungkul di Youtube pun telah di view oleh ratusan ribu orang. Saat saya mencoba mengetik key word Ibu Risma di google, kata Ibu Risma Ngamuk berada diurutan teratas pencarian otomatis google mengalahkan kalimat Ibu Risma di Mata Najwa yang sebelumnya menjadi tayangan yang juga banyak diperbincangkan publik.

Terlepas kemarahan-kemarahan itu natural atau bentuk pencitraan, mengacu pada analogi presiden digigit anjing, bagi media televisi, kemarahan para pejabat yang selalu terlihat formil dan menjaga wibawa pada tiap penampilannya, adalah informasi berharga. Meskipun buat saya pribadi, yang lebih penting sebenaranya adalah membahas substansi kemarahan semisal perlunya filterisasi perizinan ditempat publik untuk kasus Taman Bungkul atau semakin telanjangnya praktek pungutan liar yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum untuk kasus Gandjar Pranowo.

Ah, media kita selalu saja getol menayangkan sesuatu yang berbau sensasi dan kerap mengabaikan konteks. Padahal efek tayangan tak selalu positif untuk penonton, anak-anak misalnya. Belum lagi fakta bahwa subyek berita yang notabene adalah figur yang mungkin menjadi idola publik dan selama ini kerap diposisikan sebagai teladan banyak orang. Marah marah tetaplah marah, dilakukan untuk kepentingan apapun, tetap saja sifatnya destruktif jika tidak dalam kontrol.

Satu lagi, sebagai mantan mahasiswa komunikasi, saya selalu percaya dengan teori yang pernah saya peroleh di bangku kuliah. Berbagai acara TV entah itu berita atau yang menyebut diri reality show dan menayangkan adegan marah-marah, sadar atau tidak sadar ( atau tidak mau tau ) sebenarnya sedang menularkan kebiasaan marah itu kepada audience. Dalam banyak buku komunikasi , terdapat  teori agenda setting dan teori jarum suntik, dimana publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah diterpakan oleh media komunikasi, layaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. Sementara teori Agenda Setting Media menyebutkan bahwa tayangan media oleh publik dianggap sebagai sebuah kebenaran umum.

Kalau masyarakat mendapatkan tayangan kemarahan secara vulgar setiap hari secara terus-menerus, alam bawah sadar mereka akan menganggap kemarahan itu sendiri sebagai sesuatu yang jamak bahkan sebuah kebenaran umum. Saya sedang tidak mencari siapa yang salah, apakah TV atau pejabat publik yang marah-marah itu, atau mungkin keduanya salah ?, Apapun itu, saya amat percaya bahwa media memang menjadi sarana yang ampuh untuk menularkan nilai-nilai, terlepas itu positif atau negatif. Lalu maukah kita menjadi bangsa pemarah ? bangsa yang selalu menjadikan kemarahan sebagai jalan keluar sebuah persoalan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s