Tahun Politik di Negeri SMS

Dalam sebulan terakhir, hampir setiap minggu malam, saya menerima SMS atau BBM dengan pesan yang sama : permintaan dukungan kepada salah seorang peserta pencarian bakat di sebuah televisi swasta dengan cara mengirimkan SMS ke nomer tertentu. SMS dan BBM tersebut kebanyakan berasal dari teman-teman sekampung saya di Kabupaten Kepulauan Selayar Sana. Usut punya usut, rupanya salah seorang peserta talent scouting di televisi yang dimaksud, adalah perempuan dari daerah kami. Oalahhh :))

Satu, dua sampai tiga kali, saya tak terpengaruh dengan ajakan teman-teman saya. Berusaha menjadi pribadi yang mempertahankan idealisme, ajakan bertubi-tubi itu tak pernah saya gubris. Buat saya, menentukan juara kompetisi dengan mekanisme voting adalah sesuatu yang kurang fair. Unsur subyektifitasnya terlalu kental jika tak bisa disebut dominan. Kalau saya lebih suka suara penyanyi dari daerah lain, gak salah dong kalau saya punya pilihan sendiri. vokal itu soal taste, gak bisa dipengaruhi oleh unsur subyektif apalagi sesuatu yang bernuansa primordial. Duh, betapa kakunya saya ini :))

Sampai suatu waktu, sayapun luluh. Keangkuhan saya dikalahkan oleh perasaan berdosa ketika menemukan  semua orang mulai dari pejabat, teman sekolah dan komunitas masyarakat dari kampung saya, bahu membahu mengirimkan SMS. Mungkin memang saya harus sedikit mengabaikan idealisme yang sudah saya pertahankan sejak Akademi Fantasi muncul beberapa tahun yang lalu. Kapan lagi daerah saya, setiap minggu disebut-sebut di televisi kalau bukan sekarang.

Kalau kampung saya lebih beken, mungkin orang akan penasaran dan mencoba mencari tau keberadaanya. Mungkin dengan itu potensi wisata Kepulauan Selayar yang selama ini tak banyak diketahui orang, akan terekspose dengan sendirinya dan ekonomi di daerah saya akan semakin maju.. Ah, sepertinya saya sedang berusaha mempertahankan ego dan mencari pembenaran soal perubahan sikap saya soal SMS dukungan tersebut.

Karena jika mau jujur, sebenarnya saya tak sekalipun melihat perempuan asal kampung saya itu tampil di televisi😀. Kesimpulannya saya melakukan vote dan sama sekali buta dengan pilihan saya.

Kemarin saya kembali mendapat SMS dari seorang teman SMU yang mengabarkan pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif. Pendekatannya hampir sama dengan ajakan mengirim SMS untuk pencarian bakat di televisi itu. “Kapan lagi ada teman SMU kita yang jadi legislator kalau bukan sekarang. Ayo pilih sesama anak petani”.

Ah, kali ini saya tak boleh luluh oleh romantisme yang coba dijadikan senjata oleh teman saya itu. Persoalan dukung mendukung peserta pencarian bakat tentu tak bisa disamakan dengan pilih memilih caleg meskipun kerap kita tanpa sadar terjebak menyama-nyamakannya. Bukankah menjadi sangat berbahaya memilih calon pemimpin atau wakil kita hanya karena dia adalah teman sekolah, rekan sepermainan saat kecil atau karena kebetulan berasal dari suku yang sama ? wallahualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s