Trinity Lagi :)

Ini kali kedua saya sharing soal Trinity, penulis beken yang getol menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke berbagai negara dan ke seluruh wilayah di Indonesia, melalui buku. Terakhir saya bertemu dengan perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini di Plaza Senayan Jakarta sebelum dirinya melakukan perjalanan keliling dunia selama setahun. “Gue traktir nih, kan bakal gak ketemu setahun.” Begitu kata Trinity berkelakar.

Setelah perjalanan panjangnya ke berbagai negara itu, saya sudah tak pernah lagi sempat bertatap muka dengan Trinity. Sebagai seorang penggemar yang kebetulan dianugerahi kesempatan beberapa kali bisa berinteraksi face to face, berikutnya saya hanya bisa mengetahui aktivitas perempuan yang selalu rame itu di berbagai sosmed. Dari timeline di twitter dan status-statusnya di facebook. Minggu lalu dia sempat berada di Bandung ( sekali lagi saya tau informasinya dari facebook ) dan saya tak bisa menunaikan keinginan saya untuk sekali lagi bisa bertegur sapa dengan Trinity.

trinityKerinduan saya sedikit terobati ketika dirinya menjadi bintang tamu pada acara Indonesia Lawak Klub di Trans TV. Ya saya selalu rindu ngobrol dengan orang yang selalu bisa menebar isnpirasi melalui aktivitas yang dilakukan. Rindu ingin seperti Trinity yang bisa bekerja sambil menekuni hobby jalan-jalannya. Melanglangbuana keberbagai negara dan lalu menuliskan berbagai aktivitasnya itu di majalah tempat dirinya menjadi editor in chief. Menuangkannya dalam sebuah buku yang kemudian menjadi best seller. Tentu pundi-pundinya pun semakin tebal. Ah, terdengar begitu menyenangkan🙂. Jujur saya kagum dan iri dengan Trinity.

Membaca beberapa seri bukunya membuat saya sempat berpikir untuk suatu waktu bisa juga menyambangi tempat-tempat menyenangkan di muka bumi ini. Salah satu yang spontan terlintas di benak saya adalah Emirates Stadium, markas klub sepak bola kebanggaan saya, Arsenal !. Saya juga ingin mengunjungi negara Jepang yang kata Trinity dalam buku The Naked Traveler, di salah satu wilayahnya terdapat sebuat tempat dimana kaum perempuan gak ada yang pake busana sehelai pun ha..ha..

Anyway, bicara soal jalan-jalan, beberapa waktu lalu, saya yang belum pernah kemana-mana ini selain bolak balik Bandung – Makassar seperti dihakimi oleh Trinity melalui postingannya di Facebook :

Kenapa saya suka nyebar virus traveling?
Karena makin banyak jalan2 = makin open minded = makin toleran = dunia makin damai!
(jadi kalo ada org yg bigot dan picik, berarti kurang jalan2 dia)

Ah Trinity paling bisa.. Meski mungkin bernada iseng tapi status ini sukses menuai pro dan kontra diantara teman-teman dia di facebook dan membuat saya sesaat berpikir menjadi manusia kurang lengkap karena tak pernah sekalipun menyambangi daerah-daerah destinasi di Indonesia, apalah lagi berkunjung ke luar negeri.  Jalan-jalan dan mindset berpikir tentu bukan dua faktor tunggal yang kemudian saling kait-mengait. Tapi yang dikatakan Trinity ada benarnya.

Perjalanan adalah proses melihat dan ajang untuk belajar. Belajar untuk memahami apa yang ada di sekeliling kita. Betul, dengan banyak berinteraksi, cakrawala dan khasana berpikir akan semakin terbuka. Tapi tentu “berjalan” tak semata seperti yang dilakoni Trinity. Menjelajahi Asia lalu menyeberang ke Eropa. Berjemur di pantai Raja Ampat lalu seketika sudah memasang foto di Instragram sedang berada di Banda Aceh. Perjalanan bukan hanya oleh raga.

Melewati bangku SD dan kemudian tampil dengan seragam putih abu-abu adalah sebuah perjalanan. Berkenalan, tukar nomer telpon, menjadi sepasang kekasih lalu kembali menjadi teman biasa ( ini curhat sebenarnya :p ), juga sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengajarkan kita berbagai value dalam hidup. Bahkan duduk berdiam diri di cafe seperti ketika saya mengetik tulisan ini lalu menayksikan pengunjung cafe berseliweran adalah proses melihat dan berpikir.

Raga kita tak kemana-mana tapi jiwa kita bisa melanglangbuana dengan apa yang kita lewati di kehidupan. Satu lagi, Bukankah ada yang disebut dengan perjalanan spiritual ? Bukankah kita sedang melakoni perjalanan hakiki dari lahir menuju fase kematian ?  Sejatinya, semua kita sedang jalan-jalan. Ah,. akhirnya saya dapat pembenaran untuk tak lagi terlalu iri dengan Trinity.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s