Tentang Kejujuran

Sore tadi saya dibuat shock oleh seorang Ibu berusia sekitar 40 tahun yang baru saja keluar dari box Anjungan Tunai Mandiri ( ATM ) dengan beberapa lembaran uang ratusan masih di tangan. Bukan apa-apa, saya baru saja bersua bahkan sekilas saling tatap dengan perempuan itu saat menggendong anak kecil di perempatan jalan dan menegadahkan tangannya sambil memelas ke seluruh penumpang angkot yang saya naiki.

Ok, mungkin saya berlebihan menganggap bahwa pengemis tak bisa menabung dan punya ATM.  Kan bisa jadi, ngemis di jalan bukan main job si ibu tadi. Ngemis bisa jadi cuman kerja “sambilan”. Atau mungkin dengan mengemis uangnya kemudian di tabung. Whateverlah.

Saya sangat berharap apa yang saya liat tadi hanya semacam dejavu. Tak seperti cerita teman-teman saya tentang orang-orang berkecukupan dan berlaku seperti manusia tak berdaya lalu mencoba meraup untung dari belas kasih orang lain. Pengemis yang ternyata pemilik rumah kos kosan, anak-anak yang jadi pengamen di jalan dan ternyata dikoordinir oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Mungkin karena terlalu sering mendengar cerita seperti itu sampai saya dihinggapi prejudise saat bertemu ibu tadi.

Bicara soal modus operandi memohon belas kasih orang lain, beberapa kali saya menemukan kasus seseorang yang berkedok sebagai calon penumpang bus kota yang kehilangan tas dan lalu minta “tambahan” ongkos pulang ke daerahnya.  “kurangnya lima ribu lagi” begitu kata-kata yang mereka ucapkan setelah bercerita panjang lebar soal kemalangan yang menimpanya. Tak taunya di tempat keramaian lain, saya menemukan sang “penumpang malang” itu dengan kasus yang sama, Ingin pulang kampung dan tas hilang, ongkosnya kurang lima ribu lagi. beuh.

Beberapa kali saya mencoba memahami jika himpitan hiduplah yang membuat sebagian orang kehilangan akal atau bahkan gelap mata lalu menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Apapun itu, alasannya tetaplah salah. Tapi mari sepakat untuk melupakan itu. Karena orang-orang dengan materi berlimpahpun masih kerap nipu sana sini karena memanjakan sifat tamak dan serakah dalam diri mereka.

Tidak salah jika kita kerap mencaci-maki para koruptor yang hampir setiap saat nongol di televisi, atau menghakimi oknum-oknum yang ketahuan berkedok seperti kaum miskin papa lalu berusaha mempengaruhi sentimen kemanusiaan kita dengan datang menegadahkan tangan. Tidak salah jika kita murka. Karena ketidakjujuran adalah seburuk-buruk tabiat manusia. Dan sifat itu bisa menghinggapi siapa saja dan dilingkungan mana saja.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????Coba berhitung. Berapa kali kita sedikit memanipulasi angka pada laporan pencapaian di divisi kita, untuk menjaga bos tidak sampai murka. Saat kuliah dulu, berapa kali kita diam-diam melihat catatan kecil yang terselip di laci meja karena ingin mendapatkan nilai ujian yang baik. Berapa kali kita membohongi pasangan demi “mengamankan” hubungan agar tak terjadi cekcok. Mungkin kita pernah tak mengakui telah memecahkan vas bunga dikantor karena toh tak ada yang melihat kita menjatuhkannya.

Jangan-jangan karena Pembenaran terhadapa Kebohongan ( yang kita anggap ) kecil itu yang kemudian berujung pada pengikisan nilai kejujuran itu sendiri. jangan-jangan karena kita terbiasa melakukan kebohongan kecil, lalu lambat laun menghilangkan rasa berdosa melakukan kebohongan besar.. Ah, pantas mantan saya dulu begitu gampang berselingkuh *curcol :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s