Bapak dan Makanan Tanpa MSG

Sejak saya kecil hingga sekarang, saya sering dibuat bingung oleh Bapak saya. Setiap dia sakit, kami anak-anaknya selalu kerepotan untuk meminta dia minum obat apalagi ke dokter. “nanti juga sembuh,” selalu seperti itu cara dia menampik setiap kami anak-anaknya berniat mengantar ke puskesmas atau menawarkan untuk membelikan dia obat. Kadang bapak saya baru bisa “mengalah” kalau sakitnya benar-benar membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur atau berlangsung selama beberapa hari.

Bukan hanya soal berobat yang membuat saya dan saudara-saudara saya kerap sedikit sewot. Waktu kecil, kami anak-anaknya sering dibuat kesal karena sayur dan lauk yang dihidangkan dirumah, tak boleh pakai penyedap rasa. Jadinya kami kerap sembunyi-sembunyi menambahkan sendiri penyedap rasa di piring lauk yang akan kami makan. Bukan apa-apa, makanan tanpa MSG, pastilah hambar nyaris tanpa rasa.

Beberapa kali saya dan kakak perempuan saya kedapatan menambahkan penyedap rasa ( dulu merek yang terkenal, Ajinomoto🙂 ), kedalam sayur atau makanan kami. Waktu itu bapak saya kerap menunjukkan mimik kesal. Kadang juga diam saja meskipun kami tau betul kalau dia menyimpan kekecewaan. Yang saya tau, akhirnya ketika saya dewasa dan kebetulan pulang ke rumah orang tua, leher saya dan kakak-kakak saya seperti sudah terpola untuk mengikuti selera bapak, makanan tanpa MSG.

Saya jadi ingat dengan dua hal tentang bapak saya itu saat akhir-akhir ini yang entah apa sebabnya, tiba-tiba jadi eneg dengan makanan serba berlemak, serba bersantan atau apapaun yang akan melewati tenggorokan saya dan diolahnya dengan cara digoreng. Mungkin karena saya sudah lama tak menikmati makanan di rumah yang serba alami itu. Atau mungkin juga seperti halnya siklus hidup, ketika menjalani aktivitas yang menoton, suatu waktu kita akan sampai pada titik jenuh.

Leher kampung saya ini mungkin sedang protes dengan makanan jenis itu-itu saja yang saya konsumsi akhir-akhir ini. Kalau bukan digoreng pasti bersantan. Dan satu lagi, pasti penuh dengan penyedap rasa. Bingung, dulu leher saya enjoy – enjoy aja. Sekarang kok seperti resisten.

Dan jadilah pada puncaknya, saya hunting makanan tak ber MSG di sekitar tempat tinggal saya di Dago Pojok, Bandung. Mungkin alam bawah sadar saya sedang rindu rumah dan kedua orang tua saya lalu mengirimkan sinyal ke otak. Lalu otak saya sukses mempengaruhi indra perasa saya. Yang jelas, saya akhirnya menemukan sebuah rumah makan di Simpang Dago ( Arah Tubagus Ismail ) yang di depannya bertuliskan : MENYEDIAKAN MAKANAN TANPA MSG.

Makan di rumah makan minang itu, tak benar-benar mengobati fenomena rindu makanan ala bapak yang akhir-akhir ini saya rasakan. Mungkin karena diolahnya juga kebanyakan digoreng dan menggunakan santan meskipun sudah “NON MSG”. Dan akhirnya sayapun sukses didera kurang nafsu makan. Saya ingin sayur yang baru dipetik bapak dan dimasak oleh ibu saya. Saya ingin ikan yang dimasak dengan hanya tambahan asam, kunyit dan garam yang selalu saya makan saat saya mudik. Saya rindu !! Rindu yang membuat saya merenung dan merangkai-rangkai sendiri semacam benang merah dari dua kebiasaan bapak saya.

Mungkin sesekali memang kita harus sedikit “menikmati” sakit semacam sakit kepala, flu, atau ngilu di badan karena capek, mendera raga kita dan membiarkannya hilang secara natural karena respon alamiah dari tubuh, bukan karena obat yang kita telan atau oleskan. Mungkin tubuh kita memang butuh sakit karena lelah dipaksa oleh sang pemilik raga bekerja seharian. Mungkin kita butuh membiarkan tubuh kita juga yang melawan atau menatralisir kondisi itu. Dengan itu kita belajar menghargai hidup yang gak selamanya menyamankan. tidak selamanya nikmat !

Dengan makanan tanpa MSG itu, bapak saya mungkin ingin mengajarkan bahwa alam dengan segala isinya sudah memberikan segala bentuk kenikmatannya. MSG hanya akan menawarkan kesenangan sesaat dan membuat badan kita lemah dan rapuh suatu waktu kelak karena zat-zat perusak yang terus menerus mengaliri darah dan bercampur dalam daging dan tulang-tulang kita. Hidup itu butuh berjalan apa adanya. Sedih dan bahagia harus dinikmati sebagai sebuah siklus. Hidup itu menerima apa yang terjadi dan menikmati apa yang tersaji, mungkin itu filososfi yang ingin ditanamkan bapak saya, mungkin…

2 thoughts on “Bapak dan Makanan Tanpa MSG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s