Saat Blackberry Tak Lagi Ditangan

HPMinggu lalu. Saat Blackberry saya akan berpindah tangan, malam harinya saya berinisiatif mengirimkan pesan seragam ( broadcast ) ke seluruh teman yang selama ini terkoneksi melalu fasilitas Blackberry Messenger. Maksudnya sih buat pamitan, sekaligus memberi informasi bahwa selanjutnya saya hanya bisa dihubungi melalui SMS atau berkomunikasi langsung.

Fakta bahwa dunia maya untuk sebagian besar orang sudah menjadi rumah atau kampung kedua, membuat saya merasa bahwa pamitan itu wajib adanya. Saya berlebihan ? Oke, Anggap saja ini cara saya menjaga stabilitas pertemanan sehingga tak terjadi konspirasi hati dan labil ekonomišŸ˜€

Inilah keajaiban Konektivitas di social media. Keberadaanya telah melahirkan pola interaksi baru yang untuk sebagian orang sama pentingnya dengan eksistensi di dunia nyata. Seorang teman bela-belain meminta saya menyebarkan PIN Blackberry miliknya dengan alasan tidak memiliki banyak teman di kontak BBM. Ada pula yang panik setengah mati karena I-Phone miliknya hang selama beberapa waktu dan merasa kehilangan “dunia’ karena ketinggalan dari hingar bingar keterhubungan di jagad maya.

Bahkan seorang teman saya pernah ngomel-ngomel ke pelayan cafe karena ingin segera mempublish foto saat dia makan dan Tab miliknya lowbat sementara di tempat itu tak ada colokan listrik !. Layaknya di dunia nyata, eksistensi, perhatian dan pengakuan, mungkin memang kita butuhkan juga di dunia maya. Sekarang ada fasilitas Unfollow.me dan fllwrs.com yang memberi tahuk kita bahwa ada orang yang telah memfollow ataupun meng-unfollow kita secara otomatis dijadikan tweet di twitter kita. Sebegitu insecure nya kita sampai harus mengetahui, siapa yang telah meninggalkan kita ( unfollow ) di twitter ?

Terlepas dari itu, Buat saya pribadi, kehadiran social media sungguh memberi keuntungan yang signifikan. Ini terkait denganĀ  status saya sebagai om yang tidak memiliki takaran perhatian yang cukup untuk 7 ponakan saya. Karena sebagian dari mereka berteman dengan saya di facebook, twitter dan terkoneksi melalui fasilitas BBM, kadang saya tak perlu menanyakan kabar mereka, untuk tau apa yang sedang terjadi, sedang mereka rasakan dan dimana mereka berada.

Saya tau ponakan saya mengalami kecelakaan ketika di status facebooknya tertera kalimat “huft.. jatuh dari motor.” Meski sebenarnya saya agak bingung, dia nulis status itu setelah jatuh atau sambil melayang nyambi ngetik di wall facebook , namun dengan kehadiran status itu, saya bisa memastikan dia baik-baik saja dan jari-jarinya masih kuat menekan tuts handphone. Setidaknya dia tidak sedang berdarah-darah karena masih sempat berpikir mempublikasikan apa yang sedang dialaminya ke ruang publik.šŸ˜€

Dan ternyata benar adanya, sebelum sempat saya menelpon dia untuk tau kondisi yang sesungguhnya, status di akun facebook miliknya sudah ter update “Untung cuman lecet dikit.” Sykurlah,. gumamku dan membatalkan niat untuk menghubungi lewat telepon. Ah.. si Mas Mark Zuckerberg ini bikin saya makin gak care ajašŸ™‚.

Merasa cukup akrab dengan ponakan-ponakan saya lewat interaksi di dunia maya, ternyata menjadi boomerang. Saat lebaran kemarin saya membeli selembar baju bergambar robot untuk seorang ponakan yang seleranya telah bergeser jauh ke pakaian branded yang banyak dipajang di distro-distro. Sesaat saya merasa berdosa tak ikut hadir dalam setiap tumbuh kembang mereka.

Hari ini seorang ponakan yang lain, menelpon dan protes karena saya tak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Setelah ngeles sana sini, berikutnya saya hanya bisa menyesali kelalaian saya. Saat Blackberry masih di tangan, salah satu aplikasi dari ponsel nan mutakhir itu selalu setia mengingatkan hari ulang tahun ponakan dan teman-teman saya.

Tiga hari lalu. Dua hari sebelum hari jadi saya yang ke – *sensor* :p, saya sengaja menyembunyikan data tanggal lahir di akun facebook dengan tujuan tak ingin direpotkan oleh aktivitas membalas ucapan selamat dan berbagai macam komentar di situs pertemanan tersebut. Tindakan yang selanjutnya justru membuat saya jadi feel lonely. Tak ada lagi hiruk pikuk ucapan selamat seperti yang saya rasakan tahun sebelumnya. Tak ada lagi candaan tentang usia saya yang semakin bertambah tapi belum juga menikah. Seingat saya, tak sampai 5 orang yang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun.

Mungkin ini balasan atau bahkan karma atas rasa kesal ponakan-ponakan saya. Atau jangan-jangan selama ini memang kita tak pernah benar-benar mengenal orang-orang disekitar kita. Jangan-jangan kita tau hari jadi teman-teman kita hanya karena ada pemberitahuan di facebook, bukan karena kedekatan itu sendiri. Jika facebook tak lagi hadir menginformasikan hari jadi teman-teman kita, jika blackberry dan apapun alat-alat komunikasi canggih yang kita miliki tak lagi ditangan untuk memberitahu keberadaan teman-teman kita, masikah kita ingat ulang tahun mereka ?. Masikah kita tahu kalau mereka sedang dilanda kemalangan ?

Jangan-jangan kita sudah terlalu jauh dilenakan oleh hubungan semu di dunia maya dan lupa bahwa bertatap dan berbicara tak akan bisa diwakili oleh keterhubungan melalui gadget super canggih sekalipun. Apa karena ini sampaiĀ  kerap ada diantara kita yang betah berlama-lama nongkrong bareng dicafe tapi bukan untuk ngobrol. tapi untuk memainkan gadget mereka masing-masing !.

5 thoughts on “Saat Blackberry Tak Lagi Ditangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s