Balada Salesman

Apa yang salah dengan profesi Salesman ?. Pertanyaan itu menyeruak di benak saya ketika kemarin diatas sebuah angkot, iseng saya menyimak perbincangan dua orang mahasiswi yang sepertinya sedang dalam tahap akhir menyelesaikan study ( Keliatan dari map plastik berisi proposal penelitian yang dibawanya ). “Idih amit-amit jadi account executive, itu kan profesi sales yang dihalus-haluskan.” Ujar salah seorang diantara mereka. Mungkin saya tak akan terpancing menyimak jika saja saat ini tidak sedang dalam posisi sebagai koordinator proses rekruitmen di kantor tempat saya bekerja. Posisi yang kami cari persis sama dengan yang disebut si mahasiswi tadi : Account Executive.

Meskipun pengertian salesman sebenarnya teramat luas, namun profesi salesman yang dimaksud oleh dua perempuan itu, kemungkinan besar adalah mereka yang dalam menjalankan aktifitas selling, dilakukan dengan sistem door to door atau menawarkan dan mempresentasikan produk yang dijualnya dari orang ke orang.

salesJujur, sebenarnya sayapun sering alergi dengan perilaku salesman yang kerap menawarkan produk tertentu dengan sangat berapi-api. Tapi disatu sisi, saya salut dengan salesman yang bekerja di lapangan. Salut karena tidak semua orang bisa seulet dan setekun mereka. Tidak semua orang mau menerima tantangan. Dan tak semua orang memiliki kesabaran layaknya seorang Salesman. Saya ingat betul, mereka tak pernah patah arang meskipun kita menunjukkan ekspresi sinis dan bahasa tubuh menolak.

Andapun pasti sering menyaksikan bagaimana seorang salesman menenteng produk jualan mereka disiang hari yang panas dengan pakaian khas kemeja putih dan bawahan warna hitam. biasanya ada yang pakai dasi. Selain menenteng, kadang mereka menggendong ransel atau menarik koper yang tentu saja adalah stok barang yang harus dibawa serta berkeliling mencari calon konsumen.

Menyaksikan mereka bermandi peluh dibawah terik matahari, berjalan menenteng barang-barang yang harus dijualnya dan lalu satu persatu orang yang ditawarinya menolak secara halus atau mungkin tidak dengan secara halus, membuat saya yakin gak akan bisa tahan bekerja seperti mereka. Bukan karena saya takut tantangan, tapi karena mood saya gampang jatuh berada didepan orang ( calon konsumen ) yang menunjukkan muka mesum, eh masem😛🙂

Saya tak tau betul seperti apa sistem reward untuk pekerjaan sejenis salesman seperti yang biasa kita lihat dijalanan, tapi cibiran perempuan muda diangkot itu, membuat saya iseng bertanya pada seorang teman yang pernah menjadi seorang salesman gagal ( istilah yang dia buat sendiri karena hanya bertahan kerja selama 3 hari ).

Ternyata, fakta salesman sebagai profesi kelas dua, terungkap dari hasil wawancara investigasi saya ( halah..) dengan teman yang sudah sukses itu ( sukses berhenti jadi sales😀 ). Betapa tidak, sebagian perusahaan yang mempekerjakan tenaga sales, ternyata tak memberikan gaji tetap bersifat flat. Penghasilan sang tenaga sales sangat tergantung dari berapa produk yang dia jual dalam sehari. Bahkan untuk transport dan makan mereka, tidak pula ditanggung oleh perusahaan. “kadang kita malah nombok buat duit angkot dan makan” Ujar teman saya, Yogi sambil mewanti-wanti namanya tidak disebut. Eh udah kesebut tadi he..he..he..

Apakah jenis pekerjaan seperti itu tidak diakomodasi dalam sistem perundang-undangan kita sampai banyak perusaahaan yang tega mempekerjakan sumber daya manusia dengan apresiasi yang teramat minim ?. Saya yakin aturannya sudah ada dan sangat komprehensif, sama yakinnya saya dengan kemampuan para pengusaha nakal mengakali peraturan yang sudah ada.

Untungnya tidak semua tenaga sales bernasib kurang baik. Ternyata ada juga yang cukup beruntung, bahkan sangat beruntung. Yang ini namanya Sales Promotion Girl atau bisa disingkat SPG. Mereka tak perlu berjalan dibawah terik matahari, menenteng barang bawaan atau bersusah payah menjelaskan manfaat produk. Menurut Teman saya yang pacarnya seorang SPG. Ceweknya itu “hanya’ perlu berdiri saja di samping produk dan mendapat upah 350 ribu dalam satu hari. Kalaupun melakukan komunikasi dengan calon konsumen, effort yang dikerahkan tidak seperti yang harus dilakoni seorang salesman.

100_1605Kemampuan berkomunikasi, ketrampilan mempresentasikan produk, skill negosiasi  dan figting spirit yang mungkin tak semua orang memilikinya, seperti tak bernilai sama sekali. Jujur, sebagai alumni jurusan komunikasi yang semasa kuliah banyak belajar bagaimana melakukan interaksi antarpersonal, agak ( sok ) prihatin dengan kondisi ini.

Akhirnya saya bersyukur karena dalam proses rekruitmen di kantor kami, pertimbangan kapasitas dan kompetensi adalah sesuatu yang mutlak. Reward yang kami berikanpun sangat berbasis kemampuan. Menurut kami, SDM itu adalah investasi. menghabiskan energi hanya untuk mengurusi SDM yang keluar masuk adalah pekerjaan sia-sia dan jauh dari kesan profesional. Artinya secara pribadi dan institusi, kami sudah berada di track yang semestinya.

Tapi selanjutnya saya jadi khawatir dengan fakta bahwa kita kerap lebih mengahargai hal-hal bersifat semu ketimbang mengapresiasi proses dan substansi. Akibatnya Kita akan semakin terjebak pada perilaku pragmatis. Lebih suka jalan pintas dan malas mengikuti jalur yang semestinya. Toh bersusah payah seperti sang salesman itu gak ada artinya sama sekali.

Hal-hal yang berbau artifisial akhirnya didewakan. Jangan-jangan karena itu pula, tanpa bekal kemampuan yang mempuni, artis banyak yang tiba-tiba terpilih jadi legislator. Di televisi, Ustadz yang memiliki tampang oke, akan gampang menjadi pesohor dan dikagumi, meskipun ilmu agamanya bisa jadi amat pas-pasan. Mungkin kita memang sudah sangat terbiasa berorientasi pada packaging.

Tapi kenapa juga saya jadi sok kritis ? Bukankah saya juga lebih banyak menghindar dari kejaran salesman-salesman itu dan selalu berusaha nyamperin SPG *Eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s