Tulisan ke 100

Finally, tulisan di blog ini melewati jumlah 100🙂. Sebenarnya gak ada yang istimewa terkecuali bahwa angka seratus kerap diassosiasikan sebagai sebuah level pencapaian. Apapun itu, untuk diri pribadi saya, tulisan keseratus lebih pada sebuah pembuktian bahwa ternyata seorang penyiar bisa menulis juga !. Dulu saya seperti dikurung oleh sebuah mental block bahwa sebuah kewajaran jika orang yang trampil berbicara, semisal penyiar ( Boleh dong penyiar ngaku trampil berbicara🙂 ), terkadang susah untuk mengaktualisasikan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan.

Tak ingat lagi dimana dan darimana saya mendengar pernyataan itu, hingga kemudian saya mengadopsinya mentah-mentah dalam alam berpikir saya. Bertahun-tahun saya bertahan di zona nyaman bahwa tak mahir menulis tak harus ditangisi. Pernah sih beberapa kali mencoba menulis sesuatu dan selalu gagal ketika akan memulai, padahal idenya sudah ada di otak. Saat gagal, begitu gampang saya menyerah karena mungkin sudah terpenjara pada miss persepsi tadi.  Padahal saya sadar betul bahwa dengan menulislah pesan-pesan yang ingin kita sampaikan bisa lebih massif penyebarannya dan mungkin akan lebih long lasting.

Kata Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” . Saya gak bilang saya pandai dan lalu punya kewajiban moral menularkan kepandaian saya lewat tulisan. Setidaknya, dengan menulis saya merasa lebih bisa berlatih mengemukakan ide, pendapat dan pikiran saya secara terstruktur, mengasah kepekaan terhadap apa yang terjadi, plus belajar berempati dan melihat segala sesuatu dari berbagai sisi. Syukur-syukur jika kemudian mampu memberi inspirasi dan manfaat untuk orang banyak.

Alhamdulillah, sekitar 5 diantara seratus lebih tulisan di blog ini, pernah terpublikasikan di media cetak. Dari blog ini, saya kemudian mendapat tawaran menjadi penulis paruh waktu pada sebuah Majalah Nasional. Mungkin itu belum apa-apa. Tapi ternyata ketika saya berhasil mengatasi mental block tersebut, banyak hal-hal positif dan produktif yang bisa saya lakukan. Sekedar bahwa saya berhasil menaklukkan “inferior complex” dalam diri saya, saya telah sukses !!.

Terima kasih tak terhingga wajib saya sematkan untuk orang-orang yang telah memberi inspirasi. Dia adalah Indra Herlambang, presenter yang jago capciscus sekaligus trampil mengemukakan ide-idenya lewat tulisan. Cara dia bertutur dalam bukunya “Kicau Kacau” mengalir natural dan nggak njelimet. membaca tulisannya seperti mendengar dia berbicara. Menelaah satu persatu uraian kata dan kalimatnya, membuat saya dan mungkin orang-orang yang pernah membaca tulisannya sekonyong-konyong menyunggingkan senyum, manggut-manggut atau bahkan geleng-geleng kepala karena kejelian Indra mengamati fenomena yang ada disekitarnya.

Lalu ada seorang Aulia Halimatussadiah yang pernah ngomong ke saya, “nggak punya ide itu justru adalah sebuah ide” maksudnya, kondisi apapun yang tengah terjadi pada diri kita, itu bisa menjadi sebuah bahan tulisan dan tulislah selayaknya kamu ingin mengemukakan apa yang sedang kamu alami ke orang lain, mungkin itu yang ingin dikatakan Olie, panggilan akrab Aulia Halimatussadiah yang telah menulis 20 lebih judul buku.

trinity2Saat masih siaran, saya pernah bertemu dengan penulis buku “The Naked Traveler”, Trinity. Dari perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini pulalah saya banyak belajar meski dari beberapa kali pertemuan kami, semuanya hanya berlangsung dalam hitungan jam. “Jadilah diri kamu dalam tulisan kamu” itu pesan yang pernah saya tangkap dari obrolan saya bersama Trinity pada sebuah kesempatan.

Sedikit banyak saya bisa mengartikan bahwa selama kita bisa berbicara, maka selama itu pula kita bisa menulis. Tinggal bagaimana belajar mengemukakan pikiran kita dalam tulisan secara lebih terstruktur. Berinteraksi dan banyak membaca, menurut Trinity menjadi kuncinya.

Di tulisan yang telah melewati angka seratus ini, semoga tak berlebihan jika saya mengucapkan terima kasih sekiranya ada yang sudi dan pernah mampir ke blog ini. Dan Jika boleh bercita-cita, suatu waktu kelak, ingin rasanya seperti Trinity, Aulia Halimatussadiah dan Indra Herlambang. Bukan karena berhasrat menjadi beken seperti mereka, tapi ingin punya pemikiran-pemikiran yang bisa menginspirasi orang lain. Dapat membuat orang lain menjadi lebih baik dan produktif. Akankah ?

4 thoughts on “Tulisan ke 100

  1. Dr kecil sy suka skali nulis,nulis pikiran2 di buku khusus,cm belum nyampe2 bisa nulis yg terstruktur..kutipan Pramoedya Ananta Toer sgat menyentil hati,insyaAllah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s