Tentang Jilbab

Nurul NizzaPonakan dari kakak perempuan saya, saat ini usianya masuk 12 tahun. Sebentar lagi jadi remaja. Artinya sayapun semakin tua. Tapi gak usah dibahas ah… Kemarin saya telponan dengan ponakan saya itu. Dan seperti biasa saya hanya bisa ngobrol sebentar karena memang agak kurang suka ngobrol dengan anak-anak ( om yang jahat🙂 ). Pada Obrolan super singkat itu, Indri, nama ponakan saya, sempat ngomongin soal statusnya sebagai murid baru pada sebuah sekolah menengah pertama di kampung halaman kami, lalu berlanjut dengan curhat soal keinginannya untuk masuk pesantren .

Sebagai Om yang ganteng :p, Saya pasti senang. Karena setau saya, banyak anak seusia dia yang ogah disekolahkan di pesantren. Mungkin karena diasramakan dan sistem pengajaran yang untuk sebagian anak terlalu kaku, hingga lebih banyak yang memilih masuk sekolah konvensional.

Saya juga senang dengan rencana dia menggunakan jilbab jika naik kelas 2 kelak. Lalu diapun meminta saya mencarikan jilbab. Katanya di Bandung pasti lebih murah dan lebih banyak pilihan. Lalu sayapun iseng mengetik kata jilbab di kolom ajaib om google yang pemurah lagi tidak sombong itu. Maka bermunculanlah berbagai artikel, toko online, jasa kursus hijab, situs komunitas hijab sampai event pameran jilbab dan fashion show yang diiklankan di internet. Saya jadi bingung, karena awalnya saya memang hanya bermaksud mencari toko jilbab yang paling murah ( om yang pelit🙂 )

Bukan hanya agak bingung mencari referensi, tapi sesaat saya seperti tersadarkan, betapa peradaban kadang berubah begitu cepat. Atau mungkin saya yang tak bisa mengkuti akselerasi peradaban, hingga baru tersadarkan ketika terantuk pada satu momen yang membuat saya ngeh, betapa hidup terus bergerak. Nilai berubah dan bergeser atau bahkan frontal berbalik 180 derajat. Konstruksi sosial dan peradaban yang ada di 10 tahun lalu, kadang berubah drastis bahkan menawarkan paradoksal.

Termasuk soal jilbab. Jilbab yang awalnya adalah tuntunan untuk kaum muslimin berbusana dan bersikap sesuai syariat Islam ( menutup aurat seperti yang diperintahkan agama), ternyata keberadaanya tak lagi sesederhana  itu. Dan Pula, tak sebersahaja seperti yang diilustrasikan pada lagu qasidah berjudul Jilbab Putih.

Jilbab, kemudian banyak yang menyebutnya hijab ( tirai dalam bahasa arab ), saat ini tak lagi persoalan bahwa wanita harus mencegah kerusakan di muka bumi dengan tidak mempertotntonkan bagian tubuhnya. Bicara jilbab juga bicara soal trend, life style, soal citra ( orang yang cara berjilbabnya biasa aja dengan mereka yang modis, bisa jadi akan dipandang berbeda secara sosial, Mungkin ya.. ). Anda pasti sudah sering dengar soal komunitas hijab yang kemudian ( maaf, seperti ) eksklusif itu.

HijabersSengaja atau tidak, Ekslusifitas dan pengklasifikasian secara sosial itu memang terjadi. Ya,. karena dalam diri manusia secara kodrati terdapat sebuah defence mecanism, dimana seseorang ingin mengaktualisasikan diri sebagai muslim, namun tak ingin lepas dari label sebagai manusia modern yang selalu harus  tampil modis, menarik dan tidak kuno seperti yang akhirnya tercitrakan pada pengguna jilbab konvensional. Medialah yang memiliki peran besar menciptakan perkawinan budaya pop dan religion identity dan akhirnya melahirkan sebagian pribadi yang lebih mengutamakan sisi konsumtif, mode dan trend ketimbang hakikat dari jilbab itu sendiri.

Diawali dari label Hijabers, sebuah perpaduan nama Arab dan Inggris yang membentuk image modern. Lalu beralih ke pemilihan model busana yang saya yakin akhirnya berharga tak sedikit ( karena untuk melahirkannya butuh sentuhan desainer sekelas Jenahara, Ida Royani sampai desainer muda Dian Pelangi dan Zaskia Mecca ). Membutuhkan bahan yang pastinya tak berharga standar. Lalu harus mengikuti seminar dan kursus agar mahir menggunakan jilbab yang pemakaiannya setau saya tak lagi sekedar ditutupkan kekepala dan jidat lalu menautkan peniti seperti nenek saya di kampung. Harus tetap up date dengan mengikuti acara fashion show pakaian hijab. Hasil hunting saya, ada jilbab yang harganya hampir setengah juta dan setara dengan  Down Payment kredit kendaraan road dua🙂

Dengan citra manusia modern dan high class  yang melekat pada para hijabers, tempat nongkrongannyapun ( mungkin ) tak boleh sembarangan. Maaf sekali lagi, ini fenomena. Dalam artian masih banyak teman-teman saya yang menjadi pemakai jilbab modis namun gaya hidupnya tetap biasa saja bahkan tidak berubah secara signifikan. Namun harus disadari, fenomena yang saya sebutkan sebelumnya, nyata adanya. Sayapun tak menafikan bahwa komunitas-komunitas hijab banyak melakukan hal-hal positif semisal aktivitas sosial, kegiatan edukatif dsb.

Mungkin ketakutan dan penilaian saya berlebihan. Mungkin juga saya cuman takut tak mampu membelikan jilbab buat ponakan saya lalu niat baiknya tak terakomodasi lalu saya ketakutan telah memberi andil didalamnya. Lagian saya mungkin tak perlu terlalu nyinyir karena diluar sana begitu banyak perempuan yang telah melakukan “kekerasan” terhadap laki-laki dengan mempertontonkan kemolekan tubuhnya dalam balutan busana yang mini nan ketat. Setidaknya berjilbab ( apapun modelnya tetaplah lebih baik ). Ataukah mungkin sejatinya lebih baik sekalian terbuka daripada berjilbab tapi tetap ada yang terbuka dan menonjolkan bagaian tubuh yang tak semestinya ?

Sisi baiknya adalah, fenomena maraknya berbagai model dan varian pakaian hijab, akan mendorong tumbuhnya ekonomi secara makro. Memberi stimulan pada industri kreatif. Dan secara sosial, dengan berkelompok,  individu-individu memiliki banyak ruang untuk berinteraksi dalam sebuah komunitas sehingga memungkinkan terlahir menjadi pribadi yang berpikiran lebih kreatif dan produktif.

Pun, kenapa saya terlalu ribut soal jilbab. Dibalik balutan busana apapun yang dikenakan, mereka itu adalah manusia . Perilaku, sifat dan cara berpikir merekalah yang secara hakiki memberi nilai terhadap kemanusiaan seorang manusia. Iyeaa kan ?

5 thoughts on “Tentang Jilbab

  1. karena memang jaman terus berkembang oleh karenanya perubahan akan terus terjadi, asalkan tidak menyalahi aturan syariat islam dalam berjilbab it’s ok….karena pada dasarnya islam itu tidak kaku…..”tulisan yang bagus dan bisa menjadi inspirasi para wanita yang ingin menutup aurat tapi tetap fashionable”🙂 gud job

  2. Tulisan yg apik dr kaca mata yg berbeda tentang jilbab…untk sy jilbab lebih kepd fungsi untk pribadi,untk bisa jd ‘rem’ dlm bertindank dan bersikap sbg perempuan Muslim..tp kadang skali2 remx blong😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s