Ibu Kita

Meski tak ikut nimbrung saat Ibu kos dan salah seorang Ibu lain sedang ngobrol seru, tapi telinga saya terus menyimak apa yang mereka perbincangkan. Di warteg langganan saya, mereka bicara mulai dari harga bawang hingga cerita tentang seorang Ibu tua tetangga kami yang sakit-sakitan dan lima orang anak-anaknya, berbulan-bulan tak sekalipun datang menjenguk. Untuk membawanya ke rumah sakit, anak-anak remaja mesjid di komplek tempat saya bermukimlah yang mengupayakannya.

Sekali lagi, meski tak ikut bergabung, hati dan pikiran saya terus merespons obrolan mereka, terutama soal Ibu yang sedang sakit itu. Sungguh tak habis pikir dengan perlakuan anak-anak dari Ibu yang katanya sudah berumur lebih dari 60 tahun tersebut. Saya tak tau seperti apa pola dan karakter hubungan antara si ibu itu dan anak-anaknya, Tapi mereka yang melahirkan kita, tetaplah ibu kita, orang tua kita yang telah membesarkan kita dan selayaknya mendapatkan perlakuan yang baik, bahkan seharusnya istimewa.

Atau saya mungkin kelewat sentimentil saja karena baru dua malam lalu teman saya curhat soal kepergian ibunya setelah Ayahnya juga mendahului dia dan saudara-saudaranya beberapa tahun lalu. Kepergian sang Bunda yang dinilainya sebagai cobaan berat, karena  dia merasa belum siap. Belum siap secara pisikologis demikian pula dalam hal ekonomi yang notabene akan menjadi pertanggungannya sebagai anak sulung. Dia juga merasa sangat menyesal belum bisa menunaikan cita-cita memberangkatnkan ibunya ke tanah suci.

Saya hanya bisa mendoakan semoga teman saya itu kuat. Pun do’a terdalam untuk ibu tetangga saya semoga cepat sehat dan anak-anaknya segera bisa tersadarkan, minimal sebelum mereka ditinggalkan oleh sang ibu yang saya yakin pasti selalu memikirkan anak-anaknya itu. Ketika menyangkut ibu dan kehilangan, jujur saya memang sangat gampang tersentu. Mungkin karena sayapun telah mengalaminya.

Memang saya tak sepenuhnya telah ditinggalkan, namun ketika Ibu saya harus kehilangan indera penglihatannya, itu artinya kami anak-anaknya telah kehilangan sebagian dari sosok yang begitu kami cintai itu. dan itu meninggalkan lara. Kami kehilangan tatapan tulus yang selalu menjadi spirit ketika kami sedang lemah. Ibu saya juga kehilangan sebagian dari kami karena dia tak mampu lagi melihat kami anak-anaknya yang sesekali pulang menengok.

Setiap saya punya kesempatan mengunjunginya, dia harus memegang bagaian tertentu di tubuh saya seperti lengan atau pinggang untuk memastikan apakah saya bertambah gemuk atau agak kurusan. Setelah itu dia akan berucap “gak penting kurus atau gemuk, yang penting kamu sehat.” Seorang Ibu memang selalu lebih bijak melihat hidup.

Saya masih ingat, ketika dokter memvonis mata ibu saya tak bisa diselamatkan, hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana menyampaikan itu ke Ibu saya agar tak membuat dia shock. Maklum, kondisi badan ibu masih kuat dan dia masih menjalani aktivitas seperti biasa. Saya gak bisa membayangkan, bagaimana terpukulnya dia ketika tau kenyataan pahit itu. Tapi bagaimanapun itu harus disampaikan.

Kakak saya yang tertua mendapat tugas untuk itu. Saya tidak tau seperti apa dia menyampaikkanya. Tapi yang jelas, ketika saya pulang setelah tak sempat menemani dia operasi, pertanyaan yang spontan terucap dari Ibu saya adalah ” saya masih akan melihat kan nak ?.” Saya belum lagi menyimpan tas yang saya bawah. Saya terduduk lesu dan tak bisa mengucapkan apa-apa. Bibir saya gemetar lalu butiran bening tiba-tiba mengalir dipipi saya tanpa saya sadari.

Saya mencoba menguatkan diri lalu berucap “pasti bu, pasti”. Saya tau saya sedang mencoba memberi harapan kosong. Tapi itu mungkin yang terbaik yang bisa saya lakukan. Selanjutnya saya mencoba bercerita banyak hal tentang pekerjaan saya, tentang harapan-harapan, tentang bisnis kecil-kecilan saya yang mulai menunjukkan hasil. Sebuah upaya menghindari situasi kurang menyamankan.

Beruntung saya memiliki ibu yang tabah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, perlahan dia mulai sadar bahwa harapan untuk bisa menyaksikan hiruk pikuk dunia memang sudah tertutup. Diapun menerima itu dengan sabar. Jujur saya banyak belajar dari kesabaran dan sifat tabahnya. Tak pernah sekalipun dia mengeluh atau menyesali apa yang terjadi.

Hanya memang, banyak perubahan dalam kondisi psikologi Ibu saya. Dia lebih sensitif dengan apa yang didengar, dirasakan dan terjadi di sekitarnya. Mungkin karena indra penglihatannya yang tak lagi berfungsi, sehingga dia lebih banyak merasa ketimbang memikirkan sesuatu. Dalam kondisi seperti itu, seorang ibu atau siapapun yang mengalami nasib serupa dengan ibu saya, cenderung banyak membutuhkan kehadiran orang lain. Sekedar untuk bercerita. Karena untuk mengetahui apa yang terjadi dan sedang berlangsung, dia membutuhkan kehadiran orang lain. Setidaknya dia tetap merasa “melihat” dunia.

Ibu saya, Ibu tetangga saya itu dan ibu anda adalah sosok terbaik yang dihadirkan Tuhan untuk kita. Jangan pernah bosan berucap I LOVE YOU untuk mereka ..🙂

7 thoughts on “Ibu Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s