Hari Perempuan dan Bapak di warteg itu

Hari Perempuan !, Tiba-tiba saya teringat dengan seorang perempuan yang kalau kata saya, sungguh sangat-sangat beruntung. Saya sama sekali tak pernah melihat wujud perempuan itu. Pun, sekarang saya tidak pernah tau lagi kabar dan keberadaan perempuan itu. Tujuh tahun berlalu, semoga dia baik-baik saja..

Ketika saya masih bermukim disebuah rumah kos di Perumahan Mekarsari, Cibaduyut, Bandung, seperti kebanyakan anak kos, Warteg kerap menjadi pilihan ketika waktu makan tiba. Apalah lagi, saya termasuk orang dengan kemampuan memasak di bawah rata-rata. Jadilah dapur yang disediakan oleh Ibu Kos, merana tak terpakai. Anak-anak kos lain dirumah tersebut juga tak pernah atau mungkin tak ada waktu memasak sendiri, Warteg akhirnya menjadi alternatif kami.

Saya masih ingat.. Setiap melewatkan waktu makan siang di warteg langganan kami pada hari libur ( di hari kerja kami makan siang di tempat kera masing – masing ), beberapa kali saya bertemu seorang bapak tua berusia sekitar 70 tahaunan. Dia adalah penjual minyak tanah keliling. Gerobaknya selalu terparkir di depan warteg saat kami bertemu dan makan bersama. Kulit bapak itu mulai keriput dan legam. Sisa minyak yang kadang menempel pada pakaian dan tubuhnya yang ringkih, membuat bapak itu keliatan sedikit kumal.

Setiap melewatkan waktu makan bersama sang Bapak, selalu ada sesak yang tiba-tiba menyerang rongga dada saya. Bahkan air mata saya pernah satu kali hampir tumpah, menyaksikan bapak tua itu manunaikan rutinitas makan siang. Bukan apa-apa, hanya kerupuk dan nasi yang menjadi santapannya. Sangat jauh dari menu dengan predikat “seadanya” sekalipun. Dan selalu seperti itu..

Saat makan, kadang dia menambahkan kecap pada nasi atau kerupuk yang terhidang didepannya. Suatu waktu saya menyodorkan piring berisi beberapa jenis lauk dan Si bapak yang selalu menggunakan topi itu, hanya mengambil sepotong tahu. Saat saya berinisiatif  memberikannya lagi sepotong ikan goreng, dia menampik, “ntos aa’ ini udah cukup” Katanya dalam aksen sunda yang kental. Sayapun akhirnya jadi segan untuk memaksa.

Sang Bapak penjual minyak tanah keliling itu, terlihat sangat pendiam. Hampir tak pernah dia berkomunikasi dengan pemilik warteg sekalipun yang notabene menjadi langgannnya. Setiap selesai makan, dia segera merogoh uang dari saku celananya, membayarnya lalu bergegass pergi. Mungkin dia harus mengantarkan minyak tanah ke palanggannya yang ada disekitar komplek perumahan tempat saya tinggal.

Satu hal yang saya perhatikan, bapak itu selalu memesan satu bungkus nasi plus lauk pauk, menyimpannya didalam tas dan membawanya pergi.

Dilahirkan dari keluarga yang juga tidak berkecukupan, membuat saya selalu sentimentil ketika bertemu bapak itu. Pola tingkahnya tak luput dari amatan saya, termasuk kebiasaannya memesan nasi dan lauk  yang lengkap untuk di bungkus dan dibawa pulang , berbeda dengan apa yang dia makan di tempat, hanya nasi dan kerupuk !

Pada suatu libur saat sedang bersih-bersih kamar dan menemukan beberapa potong pakaian yang sudah tak pernah saya pakai, tiba-tiba saya teringat dengan pak tua pedagang minyak keliling itu, “buat dia, pakaian itu mungkin masih bisa digunakan” Begitu saya berpikir.

Saat makan siang akhirnya saya menyodorkan beberapa lembar pakaian dalam kantongan plastik berwarna putih. Awalnya saya segan. Takut ditolak seperti ketika saya memberinya sepotong ikan goreng. Tapi melihat matanya yang selalu menatap kosong itu, tiba-tiba berbinar, ketakutan saya hilang.

Bahkan, momentum itu menjadi awal saya bisa sedikit akrab dengannya. Meskipun saat ngobrol, ada beberapa kata-katanya yang tidak bisa saya tangkap karena disampaikan dalam bahasa sunda. Kegembiraan saya semakin bertambah saat sholat jum’at di mesjid komplek dan menemukan bapak itu memakai baju pemberian saya itu. Saya senang, terharu dan perasaan lain yang tak bisa saya lukiskan, bercampur aduk jadi satu.

Dua hari kemudian saat saya bertemu lagi di warteg yang menjadi langganan kami, saya berusaha membuka perbincangan. Berbasa-basi lalu tiba-tiba tergerak bertanya soal nasi dan lauk yang selalu di bawanya pulang. Perbincangan singkat yang membuat saya tiba-tiba kagum sekaligus terenyuh mendengar pengakuan bapak itu, “itu ( nasi yang dibungkus) buat nini di rumah” *nini : nenek dalam bahasa sunda.

Pengakuan yang membuat saya merangkai cerita sendiri. Pantas aja si bapak itu selalu makan siang dengan menu yang teramat sederhana jika tak bisa disebut memprihatinkan, ternyata itu dilakukannya demi sang istri, makan seadanya agar dia mampu membeli makan buat sang istri dengan menu yang lumayan komplit.

Mungkin juga dia tidak ingin makan bersama dengan istrinya karena takut sang istri tau kalau sehari-hari dia ternyata hanya menyantap kerupuk dan nasi demi dirinya, demi seorang istri dan perempuan yang pasti sangat dicintainya…Selamat Hari Perempuan. Semoga perempuan-perempuan di dunia, beruntung mendapatkan laki-laki seperti penjual minyak tanah keliling itu.

3 thoughts on “Hari Perempuan dan Bapak di warteg itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s