Bertemu Jamaah An Nasir

IMG01792-20120303-1322Beberapa waktu lalu saya berkunjung kesebuah perkampungan yang dihuni oleh sekelopok Jamaah yang orang kenal dengan Jamaah An Nasir. Komunitas ini selalu menuai kontroversi terutama saat menjelang perayaan hari raya Idul Fitri dan hari besar keagamaan lainnya. Gara-garanya adalah kepercayaan mereka terkait cara penentuan hari keagamaan yang jauh berbeda dengan metode yang dipakai oleh pemerintah atau organisasi keagamaan lain seperti NU atau Muhammadiyah.

Jamaah An Nasir, mejadikan tanda-tanda alam sebagai acuan menentukan kapan pelaksanaan hari raya seperti halnya Idul Fitri. Tanda-tanda itu seperti arah angin, volume air laut dan arah terbit dan terbenamnya matahri. Ciri-ciri lain yang menjadi identitas jamaah ini adalah pakaian serba hitam dan rambut serta janggut dan cambang yang dibiarkan tumbuh lebat dengan cat warna-warni seperti kuning, coklat dan merah maroon. Perilaku dan tata cara yang diyakini sebagai sunnah Rasul.

Untuk menemui perkampungan jamaah yang berjarak sekitar 20 kilometer sebelah selatan kota Makassar itu, saya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Maklum, jalan yang menghubungkan kota Sungguminasa ( Ibukota Kabupaten Gowa yang berbatasan dengan kota Makassar ), masih berupa jalan setapak dengan pengerjaan seadanya. Ada yang menggunakan aspal dan beberapa bagian lainnya masih berupa tanah dan batu gunung.

Saya tak merasa punya bekal ilmu yang cukup untuk bicara soal kepercayaan mereka. Tapi dari kunjungan itu, banyak cerita unik dan manarik yang saya bawa pulang. Di Mawang, dusun yang ditempati oleh jamaah An Nasir, saya sempat berinteraksi dengan Ustad Rangka ( Pimpinan jamaah ) dan beberapa pengikutnya selama hampir setengah hari. Bahkan sebelum pulang, saya dan seorang rekan yang menemani, sempat dijamu makan siang berupa ikan bakar plus dua ikat rambutan setelahnya.

Dari perbincangan kami dengan Ustad Rangka dan beberapa jamaah, ternyata banyak hal yang mungkin belum banyak diketahui orang. Di perkampungan yang terletak di Daerah aliran sungai Jeneberang itu, tata cara beribadah, Bertani, hubungan sosial kemasyarakatan dan aktivitas perekonomian seperti berdagang dan utang piutang, ternyata telah diatur sedemikian rupa dan ditaati oleh seluruh anggota Jamaah. Pengaturannya dibicarakan secara musyawarah dan menjadi aturan baku.

Dari pengakuan warga yang menjadi pengikut, Ustad Rangka memang sangat disegani sekaligus disenangi oleh para jamaah. Sekilas dari perbincangan saya dengan sang pemimpin kelompok tersebut, sosoknya memang terlihat tegas, berwibawa tapi sekaligus menyenangkan. Beberapa kali dia melontarkan humor-humor segar yang membuat saya tiba-tiba tergelak disela-sela perbincangan.

Ustad Rangka sang Pimpinan Jamaah.

Ustad Rangka sang Pimpinan Jamaah. Kacamata Merk Oakley, Jam tangan Casio dan Coca Cola di tangan. Mereka memang tak seprimitif yang kebanyakan orang bayangkan.

Saya mengistilahkan prinsip hidup mereka dengan one for all, all for one. Hal itu diterapkan dalam berbagai hal. Hasil pertanian seperti padi dan buah-buahan dapat dinikmati oleh semua jamaah dari berbagai profesi, seperti  pedagang, peternak dan annggota jamaah yang lainnya. Hasil tambak, diperuntukkan kepada seluruh jamaah dengan sistem pembagian yang telah diatur. Tanah dikelolah tanpa ada kepemilikan tunggal. Pun pengelolaannya diatur sehingga tidak merusak lingkungan. Bahan kimia untuk tanah, tak pernah mereka gunakan. Mereka hidup dalam harmoni. Harmoni dengan sesama manusia dan bersahabat dengan alam.

Di tempat itulah, pasal “bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” benar-benar bisa diimplementasikan. Kemakmuran dalam artian jangka panjang karena alam tetap lestari dengan pemanfaatan yang tidak berlebihan dan destruktif. Di situlah wibawa pemimpin bisa benar-benar ditegakkan. Pemimpin disegani sekaligus disayangi. Di dusun Mawang itulah pancasila masih utuh diamalkan dengan gotong-royong dan sistem musyawarah yang masih amat kental.

Dusun Mawang selayaknya menjadi miniatur Indonesia yang semestinya. Negara yang oleh founding father kita dicita-citakan sebagai negeri yang makmur, lestari dan beradab. Harusnya seperti itu !. Bukan negeri yang penuh huru-hara, keserakahan, minim rasa solidaritas lalu akrab dengan kekerasan.

Makanan dari hasil kebun dan lauk dari hasil budi daya. Semuanya tanpa MSG dan bahan kimia

Makanan dari hasil kebun dan lauk dari hasil budi daya. Semuanya tanpa MSG dan bahan kimia

Tiba -tiba saya rindu dengan ikan bakar yang disajikan pengikut Ustad Rangka yang tanpa MSG itu, rindu dengan keramahan penduduk disana, rindu ingin ke Dusun Mawang lagi, seperti rindunya saya pada Indonesia yang damai, gemah ripah loh jenawi tata tentrem kerta raharja…

11 thoughts on “Bertemu Jamaah An Nasir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s