Kartu Sakti itu adalah kartu Klub Radio

Pulang dari Makassar, saya beruntung dapat oleh-oleh dua buah buku dari penyiar senior, Andi Mangara dari Radio Mercurius FM Makassar. Dua buah buku tersebut bercerita tentang dunia Radio, suka duka bekerja di dunia siaran dan hal-hal unik di balik bilik siar yang terkadang tak banyak diketahui orang kecuali mereka yang memang aktif di bisnis cuap-cuap tersebut. Judulnya Radio an Obsession dan Nothing But The Radio On. Keduanya ditulis oleh rekan saya itu. Sosok yang saya kagumi karena bertahun-tahun mendarmabaktikan diri pada dunia radio, ditengah kondisi dimana tak banyak orang yang menjadikan siaran sebagai main job, tentu pertimbangan dunia radio yang belum begitu menjanjikan dari sudut pandang ekonomilah penyebabnya.

Radio memang tak lagi menjadi primadona seperti ketika saya masih kanak-kanak dulu. Siaran radio tak lagi menjadi pilihan utama penikmat musik dan hiburan apalah lagi untuk pengiklan. Radio sedang dirundung duka karena pola konsumsi media yang banyak bergeser ditengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Radio tak benar-benar ditinggalkan pendengarnya. Namun fakta bahwa budget iklan untuk bisnis radio yang hanya 0,9 persen dari trilyunan yang beredar setiap tahunnya ( Data 2011 ), jelas bukan kabar yang terlalu baik bagi segenap insan penyiaran di Indonesia. Di Amerika, Radio masih mampu meraup 7 persen dari keseluruhan budget promosi yang tersedia.

Bukan karena saya begitu dekat dengan teman yang berbaik hati memberi saya dua buah buku tersebut yang membuat saya ikut-ikutan masygul. Sebagai mantan broadcaster yang hampir satu dekade bergelut dibelakang mike, romantisme pada dunia radio tentu takkan bisa saya hindari. Penyiar, reporter, script writer dan produser adalah aktivitas yang pernah saya tekuni ketika masih aktif di dunia siaran. Saya begitu mencintai profesi saya tersebut. Empat tahun duduk dibangku kuliah sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Radio dan Televisi sebelum terjun ke studio siaran, juga menjadi bukti sekaligus alasan kenapa saya harus bisa memberi andil memperbaiki kondisi itu.

“Allah tidak akan mengubah nasib kaumnya sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri”. Mudah-mudahan saya tak salah mengutip. Tapi tak ada yang bisa menolong radio keluar dari keterpurukan selain para praktisi radio itu sendiri, tanpa mengenyampingkan peran stakeholder yang lain. Dan saya patut berbangga, ditengah perjalanan nasib yang membawa saya ke bumi Parahyangan, ternyata saya masih bisa ikut berperan mengangkat kembali kejayaan radio siaran, minimal radio bisa menjadi bisnis menjanjikan dan bermuara pada kesejahteraan oran-orang yang berkecimpung didalamnya. Bergabung bersama teman-teman di Zamrud Technology, ternyata menjadi jalannya.

Adalah sebuah kartu kecil yang oleh orang kebanyakan disebut sebagai smart card yang menjadi kartu truf mengembalikan radio kemasa-masa dimana keberadaannya menjadi begitu lekat dengan masyarakat. Kondisi yang diharapkan membuat profesi di dunia radio tak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang di luar sana. Bekerja di radio tak semata sebagai hobby tapi dapat pula menjadi tumpuan hidup. Namanya adalah kartu Klub Radio. Sebuah kartu yang oleh teman-teman di Zamrud Technology ( Inovator teknologi Radio 2.0 yang kemudian mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi radio siaran ), disebut kartu sakti.

Kartu klub Radio tak semata sebuah tuntutan gaya hidup tapi kehadirannya adalah sebuah keniscayaan, setidaknya untuk menyelematkan eksistensi radio siaran. Jika selama ini pendengar hanya dilihat sebagai potensi pasar yang kemudian “dijual’ kepada pengiklan, dengan kartu Klub Radio, pendengar adalah sumber pendapatan baru bagi radio. Tentu dengan pola hubungan saling menguntungkan. Radio mendapatkan tambahan revenue, sementara pendengar memperoleh benefit, fasilitas dan berbagai kemudahan. Di kartu Klub Radio, sang pemilik selain mendapatkan fasiltas selayaknya kartu ATM ( untuk debet dan tarik tunai ), meraka akan dimanjakan dengan fasilitas download lagu gratis, discount di ribuan merchant yang menjadi mitra seluruh radio yang berafiliasi pada teknologi Radio 2.0 serta fasilitas beriklan ( iklan baris ) pada website radio-radio yang telah memberdayakan kecanggihan teknologi Radio 2.0.

Contoh kartu Klub Radio yang diterbitkan oleh Radio Trijaya FM

Contoh kartu Klub Radio yang diterbitkan oleh Radio Trijaya FM Palembang

Jika seluruh radio mampu membentuk ekosistem dengan bermitra dalam hal penggunaan teknologi ini, maka kolaborasi itu akan menjadi kekuatan besar untuk menjadikan potensi pendengar yang oleh teman-teman diradio dianalogikan sebagai raksasa tidur ( The Sleeping Giant ), sebagai sumber pendapatan baru bagi radio. Syaratnya, radio-radio harus mau bergeser dari pengelolaan radio konvensional menuju pemanfaatn teknologi informasi dan komunikasi. Karena harus diakui, pola konsumsi media masyarakat telah bergeser jauh seiring terbukanya public sphere baru bernama dunia maya. Kondisi inilah yang harus ditangkap oleh para praktisi penyiaran radio. Keunggulan dan seperti apa teknologi Radio 2.0, diantaranya dapat dibaca dari artikel yang ditulis oleh Bapak Hemat Dwi Nuryanto selaku CEO PT. Zamrud Khatulistiwa Technolgy, pengembang teknolgi Radio 2.0, http://www.hdn2020.com/2012/04/02/radio-collaboration-20/#more-193

Sisi lain dari konsep bisnis yang dikembangkan dari teknologi Radio 2.0 ini adalah bagaimana mengubah habit memperoleh musik secara ilegal ( bajakan ), sebagai sesuatu yang semestinya sudah harus ditinggalkan. Kartu Klub Radio yang bisa diperoleh melalu radio-radio yang telah menggunakan teknologi Radio 2.0 akan memungkinkan pengguna mengakses sekitar 500 ribu lagu dari berbagai genre dan negara sebagai bagian dari kerjasama Zamrud Technology dengan layanan penyedia lagu, Melon dari PT. Telkom. Artinya, kartu ini tak lagi sekedar alat baru dalam mendorong kemajuan ekonomi dan industri radio. Lebih dari itu, keberadaanya menjadi social engginering untuk mendobrak kebiasaan dalam masyarakat kita yang sepertinya sudah menggurita.

Bunga Citra Lestari ( BCL ) mengkampanyekan download lagu legal melalui Klub Radio

Bunga Citra Lestari ( BCL ) mengkampanyekan download lagu legal melalui Klub Radio

Saat ini ada sekitar 150 radio di Indonesia yang telah menggunakan teknologi Radio 2.0 dan berafiliasi dalam situs kolaboratif diradio.net. Kolaborasi yang diharapkan bisa mendorong agregasi konten dimana program-prgram acara lokal dari radio-radio di Indonesia dapat diakses secara gratis ( on demand ). Fasilitas ini memungkinkan pendengar mengakses acara yang telah disiarkan ( listening everywhere, broadcasting anywhere ). Ketika karakter siaran radio tak lagi sepenuhnya berifat selintas, niscaya itu akan menjadi kekuatan baru mendorong loyalitas dan jumlah pendengar.

diradio.net dan website seluruh radio yang tampil lebih atraktif dan dinamis, juga akan menjadi ranah baru menyampaikan informasi periklanan untuk seluruh pelaku usaha di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Dimana Radio-radio yang telah menggunakan teknologi ini, akan menjadi Katalis. Kondisi yang diharapkan bermuara pada kembali bergairahnya bisnis radio di Indonesia.

Dengan tampilan website radio dimana run down, log iklan, request pendengar dan playlist lagu yang dan telah di on air kan, terintegrasi dalam satu fitur teknologi, maka ini akan menjadi iklim positif terkait image, trust pengiklan dan juga kemudahan lembaga pengawas siaran ( Komisi Penyiaran Indonesia Daerah ), mengontrol conten-conten siaran. Tak pelak lagi, kehadiran teknologi Radio 2.0 adalah jalan keluar dari keterpurukan industri radio yang oleh para pemerhati, dianggap hampir mendekati titik nadir…

2 thoughts on “Kartu Sakti itu adalah kartu Klub Radio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s