Seolah-olah Jokowi

A3MrbmJCEAAEtHi.jpg large

Ini lagi, ikut-ikutan sama Jokowi :p

Di Makassar, pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Rudiyanto Asapa dan Andi Nawir Pasinringi, menjadikan baju kotak – kotak khas Jokowi-Ahok sebagai brand image mereka. Pun di Bandung, Rieke Dyah Pitaloka dan Teten Masduki, tak mau ketinggalan mencoba peruntungan dari tuah baju kotak – kotak ala Jokowi. Di daerah lain, langkah serupa banyak dilakukan. Harapannya tentu saja sama, bisa mengikuti sukses Jokowi memenangkan pesta demokrasi, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Saya tak mengerti banyak soal politik, tapi logika awam saya tetap saja tidak bisa terima dengan kebiasaan kita menjiplak metode yang belum tentu sesuai dengan konteksnya. Tidak memperhitungkan timing dan momentum. Apa yang ditawarkan oleh Tim Jokowi-Ahok adalah nilai “khas”, sesuatu yang lain daripada yang lain. Tim mereka tau betul, bahwa Dalam teori komunikasi, publik cenderung gampang mengingat sesuatu yang berada diluar kelaziman.

Ketika Jokowi dan Ahok menjadi top of mind berkat kekhasan mereka. Tentu tingkat penerimaan dan elektabilitas mereka akan lebih kuat dibenak pemilih. Lalu ketika metode itu diadopsi pada seremoni pilkada ditempat lain, nilai unik baju kotak – kotak itu pasti sudah berkurang jika tak bisa disebut hilang sama sekali. Baju kotak – kotak ala Jokowi-Ahok, antiklimaks pasca pasangan itu terpilih sebagai pemimpin Jakarta.

Di sisi lain, Tim Jokowi-Ahok tentu tidak sembarangan memilih motif kotak – kotak sebagai trik marketing mereka. Sosok Jokowi yang santun, bersahaja, bertubuh ceking, jauh dari kesan birokrat yang glamour, memang begitu menyatu dengan corak kotak – kotak yang mewakili sifat kesederhanaan bahkan ndeso. Jadi belum tentu corak kotak – kotak itu bisa tune in ketika dikenakan oleh tokoh-tokoh lain pada sebuah event pilkada. Analogi awam saya, Tim sepak bola dari kampung halaman saya, PSM Makassar, tak akan berubah menjadi skuat superior hanya dengan berbekal kostum club Real Madrid.

Tak ada yang salah dengan keinginan para calon pemimpin mengambil inspirasi dari kemenangan Jokowi-Ahok. Tapi yakinlah, Baju kotak-kotak mereka tak lebih sebuah hasil kerja cerdas tim kampanye yang dengan perhitungan dan analisa terstruktur, memainkan benak, persepsi dan opini publik untuk sebuah kemenangan politik.

Akan lebih baik jika calon kepala daerah kita, meneladani sisi positif Jokowi, bahwa masyarakat kita butuh seorang pempimpin  yang membumi dan tidak menempatkan dirinya di menara gading kekuasaan. Itu lebih bermakna ketimbang menjiplak simbol – simbol yang belum tentu berkesesuaian. Karena pemimpin yang berharap dirinya terpilih hanya karena simbol kemenangan dari pemimpin lain, adalah sosok yang tak ingin memberi pendidikan politik yang baik buat masyarakatnya.

Atau mereka mungkin ingin berlaku seolah-olah Jokowi karena masyarakat kita sedang demam dengan boy band dan girl band yang seolah-olah Korea. Maaf kalau saya nyinyir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s