Tahun Baru

Saya termasuk pribadi yang tak begitu berhasrat, larut dalam perayaan hari – hari besar. Bukan karena saya tak memiliki apresiasi terhadap orang – orang penting dibalik seremoni semacam hari pahlawan atau acara tujuhbelasan misalnya. Yang saya maksudkan adalah, saya lebih memilih menjadikan hari peringatan apapun, sebagai momentum semata dan mengambil semangatnya untuk diaplikasikan sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahun dan sepanjang Tuhan memberi saya nikmat kehidupan. Sepertinya saya memang sok idealis..

Jika hidup manusia tak harus diukur oleh waktu, jika aktivitas kita tak harus terencana dan sistematis yang otomatis berhubungan dengan limit detik, menit, jam, hari dan hitungan bulan, sayapun mungkin akan mengabaikan momentum perayaan tahun baru. Toh tanggal 30 Desember atau 2 Januari, saya tetap beraktivitas seperti biasa dan melakukan apa yang seharusnya saya lakoni ( ini dia alasan paling tepat meminimalkan budget jelang pergantian tahun )😀.

Tapi perlunya planning dan skala prioritas, membuat tahun baru tetaplah menjadi sesuatu yang penting. Sekali lagi, tidak semata untuk dirayakan, tapi sebagai moment perubahan, titik awal untuk bangkit, berbenah atau apapaun yang berbau move on. Saya dan anda tentu memiliki rencananya masing – masing.

Tahun 2012, sepertinya akan ditutup dengan kisah cinta Dwi Andika dan Irma Darmawangsa yang penuh liku. Nah lho ?. Maafkan atas study kasus ini. Saya memang hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari salah dan dosa dan masih suka nonton acara gosip.

Masih saya ingat kata – kata Ibunda Dwi Andika ketika diwawancarai oleh sebuah acara infotainment, “gimana ya, soalnya penyanyi dangdut itu ( profesi Irma darmawangsa ) kesannya seronok dan mengumbar aurat”. Begitu kata Ibu Dwi Andika yang wajahnya mirip Dwi Andika ( yaiyalah..).

Kalau saja musik dangdut masih tampil dengan elegan seperti yang dipertontonkan oleh Rita Sugiarto, Asep Irama, Chaca Handika dan Raja Dangdut Rhoma Irama, mungkin kisah cinta Dwi Andika dan Irma Darmawangsa akan mulus – mulus saja tanpa ada “sentilan” dari Ibu Dwi Andika yang mirip Dwi Andika ( hallahhh.. ).

Semuanya memang sudah berubah. Dangdut bukan lagi musik marginal yang identik dengan suling dan gendang. Dangdut sudah menjauh dari citra sebagai musik kampung dan menjelma sebagai musik modern dengan sentuhan disco remix, music techno, digital music plus goyangan erotis ala lantai pub. Dalam waktu bersamaan, nilainyapun mulai bergeser menjadi musik pengumbar aurat dan gerakan sensual yang membuat sang pengusa musik dangdut, bang Haji Rhoma Irama spontan berang dan berucap, terlaaaluuu !.

Semua memang akan berubah dan bergerak maju seperti kita ingin terus berubah setiap tahun berganti. Siapapun kita, pasti ingin terus sukses dalam karir dan berhasil dalam setiap usaha. Tapi dalam setiap kemajuan, kerap ada yang terabaikan. Solidaritas kita mungkin terlupakan, kepedulian kita mungkin agak tergerus, atau nilai – nilai kemanusiaan kita justru bergerak kearah negatif dan tak berbanding lurus dengan apa yang kasat mata kita raih.

Seperti halnya musik dangdut yang harus kembali ke jalan yang benar, Ditengah orientasi kita untuk terus maju dan berubah, kitapun mungkin sekali – sekali harus berani kembali ke khittah, seperti istilah kaum cerdik pandai. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s