Indonesia, Dari Battik-battik sampai Ondel-ondel

Liburan akhir tahun ini, saya memiliki kesempatan melewatkan waktu selama beberapa hari di kampung halaman saya di Kabupaten Kepulauan Selayar sana.

Ingin menikmati sepuasnya momen – momen terlepas dari rutinitas sehari – hari, berkeliling kampung menjadi ritual yang tak pernah saya lewatkan. Menikmati udara segar, bertemu dengan orang – orang sekampung, reuni dengan teman SD hingga kebiasaan menikmati makanan – makanan enak khas kampung halaman, di rumah sanak famili.

Dalam rangka ritual berkeliling kampung itu pula, kemarin saya bertemu kembali dengan sosok pemetik gambus yang sering duduk di sebuah bale – bale disudut kampung kami. Dia adalah pemetik gambus yang handal. Pada setiap pertunjukan musik battik – battik,  Pak Tua berusia 70 tahunan tersebut, hampir pasti didaulat sebagai penampil.

Battik-battik adalah kesenian khas Kabupaten Selayar berupa lagu-lagu berbahasa Selayar yang dinyanyikan oleh pria dan wanita secara berbalas. Semacam berbalas pantun. Kalimatnya terkadang berupa peribahasa atau kalimat bijak dalam bahasa Selayar. Saat tampil, mereka diiringi gambus dan gendang.

Beberapa saat saya melewatkan waktu dengan pria bertubuh ceking yang kumisnya dibiarkan tumbuh lebat tersebut, sambil menikmati angin pantai di atas bale bambu tempat dia kerap memainkan gambus. Obrolan singkat yang kemudian membuat saya merenung dan terhenyak. Betapa kesenian daerah saya itu ( mungkin ) akan punah dalam waktu yang tak terlalu lama.

Dari pengakuan pak Tua itu, tak ada lagi anak – anak remaja atau anak muda di kampung kami yang tertarik mempelajari musik gambus. Mungkin pula tak ada waktu seperti saya ini. Asal tau saja, pak tua itu sudah menjadi dedengkot musik battik – battik sejak remaja hingga di senja usianya.

Di era dimana anak – anak dikampung saya lebih gemar mengutak – atik handphone ( bahkan blackberry ), dia muncul menjadi sosok the one and only pada setiap pertunjukan musik battik – battik yang masih sering digelar saat ada pesta perkawinan.

Orang – orang di kampung kami masih gemar menikmati kesenian khas Kabupaten Selayar itu. Tapi penampil yang terlihat entah itu ketika ada pesta perkawinan atau saat dipertunjukkan pada acara ulang tahun daerah kami, bisa dikatakan itu lagi dan itu lagi.

Disetiap daerah di Indonesia, mungkin banyak kesenian khas dan ritual adat yang akan segera punah karena digilas zaman dan moderenisasi yang kadang teramat kejam menelan kearifan lokal yang ada disetiap aktivitas adat dan budaya kita. Di Jakarta Ondel-ondel dipakai oleh pengamen untuk menarik perhatian pengguna jalan. Pun dengan Ketoprak dan Tari Jaipongan, mungkin sudah lebih banyak dipertontonkan dijalan raya untuk tujuan yang sama. Duh… harusnya kan mereka hadir diperesmian gedung baru atau Mall. Mungkin Chery Belle memang lebih bisa menarik animo..

Mengamen dengan Ondelondel

Mengamen dengan Ondel-ondel

Kita adalah bangsa yang kaya. Tapi kekayaan itu tak jarang hanya dinikmati oleh segelintir orang atau bahkan oleh kepitalis asing yang tanpa henti mengeksplorasi Indonesia dan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena bangsa ini sedang terjepit oleh kebijakan sistematis yang dibuat untuk mengikat ( baca : menjajah ) kita secara politik dan ekonomi dalam jangka panjang.

Kita masih punya kekayaan budaya, sisa-sisa pencaplokan malaysia dan peninggalan sifat acuh tak acuh kita melestarikan kekayaan warisan dari nenek moyang kita itu. Mungkin memang tak begitu penting membicarakan warisan budaya dan nilai-nilai luhur ( indigenous  knowledge ) saat dunia hadir dengan teknologi  yang mendobrak sekat ruang dan waktu.

Tapi jangan lupa, pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadi manusia dan bangsa yang maju. Kita harus punya karakter dan identitas. dan karakter itu, ada dalam ekarifan lokal yang kita miliki. Bangsa jepang menjadi digdaya dalam ekonomi dan unggul dalam teknologi karena kemampuan mereka membangun bangsa dengan perpaduan karakter dan ilmu pengetahuan. Begitu kira-kira…

Minimal pakaian adat yang jadi salah satu ciri Budaya kita, masih bisa dipertontonkan saat ada acara seremonial seperti ini

Minimal pakaian adat yang jadi salah satu ciri budaya kita, masih bisa dipertontonkan saat ada acara seremonial seperti ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s