Belajarlah dari Suporter !

Salut dan takjub. Dua kata itu yang pantas mewakili perasaan saya ketika dua hari lalu membaca status seorang teman di facebook, yang sedang berada di Malaysia. Tepatnya di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Kawan saya itu adalah anggota The Macz Man, sebutan untuk salah satu kelompok suporter PSM Makassar. Sudah bisa ditebak, keberadaan mereka di negara tetangga itu adalah untuk mendukung timnas Indonesia berlaga di piala AFF 2012.

Bukan hanya anak – anak dari Makassar yang “nekad” menyeberang ke negeri jiran tersebut. Beberapa orang anggota Viking, sebutan untuk pendukung Persib Bandung, The Jak ( pendukung Persija Jakarta ) yang menjadi seteru abadi suporter Persib serta Bonek yang menjadi “mantan” musuh bebuyutan pendukung Juku Eja, dikabarkan sedang berada di Kuala Lumpur.

Bukan karena pengorbanan dan fanatisme beberapa anggota kelompok suporter itu  yang membuat kita harus angkat topi. Lebih dari itu, ketulusan merekalah yang semestinya menjadi pelajaran. Anda tentu masih ingat, bagaimana panasnya hubungan pendukung Persebaya Surabaya dan PSM Makassar di era perserikatan hingga kompetisi sepakbola dinegeri ini berubah nama menjadi Liga Indonesia. Demi sepakbola Indonesia yang lebih baik, kedua kelompok sepakat berdamai di Stadion Tambaksari beberapa waktu lalu.

Pun Perseteruan pendukung Persib dan Persija, sampai kini masih menjadi cerita klasik dunia sepakbola di Indonesia. Tapi di Kuala Lumpur, aroma dendam itu, sirna seketika. Saat berbicara klub, jangankan tenaga, nyawa para suporter fanatik mau mereka pertaruhkan. Uniknya, ketika bicara Timnas Indonesia, semua elemen suporter, rela menanggalkan embel – embel dan identitas klub masing – masing demi mendukung pasukan Garuda.

Terlepas dari fanatisme sektoral, nun jauh di dasar hati para suporter, terdapat hasrat dan semangatyang sama menjadikan sepakbola indonesia lebih baik dengan dukungan yang mereka berikan. Mereka berseteru, saling caci dan saling benci, tapi dilain waktu mereka dipersatukan oleh sepakbola itu sendiri. “Ketika bicara klub mari kita berhadap – hadapan, tapi demi Indonesia, mari kita tanggalkan ego masing – masing”, mungkin seperti itu yang ada di benak mereka.

Perjanjian damai kelompok suporter akhir – akhir ini sering kita temui dari pemberitaan media – media lokal dan nasional. Sebuah Iklim positif yang mulai terbangun ditengah minimnya prestasi sepak bola Tim Nasional Indonesia.  Sebuah kesadaran baru dari para pendukung klub, bahwa atmosfir yang sehat di dalam stadion, akan memberi kontribusi berharga terhadap persepakbolaan secara umum. Suporter kita sejatinya sedang dalam proses untuk dewasa.

Ironinya, Diwaktu yang bersamaan, pemangku kepentingan olah raga sepakbola di negeri ini, justru tak berhenti berseteru. Yang terakhir adalah konflik PSSI dengan kelompok  yang bergabung dalam Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI)  terkait pengelolaan kompetisi sepakbola kita. Situasi yang berujung pada perpecahan Timnas setelah sebelumnya Liga Indonesia yang terlanjur terbagi dua, tak kunjung bisa dipersatukan.

Ketika para suporter harus terlunta – lunta di Malaysia, saat Bambang Pamungkas dan kawan – kawan sedang bermandi keringat membela nama bangsa, Dua kompetisi sedang dipersiapkan  dan sama – sama mengklaim sebagai Kompetisi yang legal dan profesional. Indonesia Super League ( ISL ) akan digulirkan oleh KPSI dan rencananya ditayangkan di ANTV, sementara  Indonesia Primer League ( IPL )  akan diselenggarakan oleh PSSI pimpinan Djohar Arifin.

Seorang penggemar sepak bola sejati, sebenarnya hanya ingin menikmati hiburan dari olah raga terpopuler tersebut. Tak penting apakah berada dibawah naungan IPL atau ISL. Bahkan tanpa dinaungi oleh siapapun dan hanya dimainkan disebuah tanah kosong sebuah komplek perumahan, olah raga ini tetaplah sebuah tontonan menarik.

Hanya saja, bicara sepak bola, tak semata urusan hiburan. Ada bisnis ( baca : ekonomi ) yang bermain disana. Dan lagi Kompetisi yang baik dan terarah adalah sarana membentuk dan membina pemain untuk melahirkan Tim Nasional yang tangguh. Perpecahan ini jelas akan berdampak pada semakin terpuruknya sepak bola kita.

Lihatlah bagaimana display  iklan di pinggir lapangan tak lagi bertabur merek atau Logo Perusahaan – perusahaan besar, entah itu di IPL atau ISL tahun lalu. Ya, Ketidak pastian dalam dunia sepak bola kita, hampir pasti berpengaruh pada animo dan minat sponsor untuk membiayai kompetisi kasta tertinggi di tanah air. Artinya, cita – cita menjadikan sepak bola kita sebagai sebuah industri kembali mundur beberapa langkah , kalau tak bisa dikatakan  jauh api dari panggang.

Belum lagi kalau kita bicara soal prestasi.  Jauh – jauh hari, polemik PSSI dan KPSI membuat pemain gamang ketika mendapat panggilan mulia membela negara. Sebagian besar menolak untuk bergabung dan hanya Bambang Pamungkas yang nekad memenuhi undangan Nil Maizar yang menjadi arsitek Timnas. Contoh teranyar adalah “rekor” baru timnas yang ditahan imbang Laos dengan skor 2-2 pada laga awal piala AFF 2012. Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, Laos bisa mengimbangi skuat Garuda.

Sebelum berlaga di Kuala Lumpur, Timnas hanya mampu menang tipis 1 – 0 melawan anak kemarin sore, Timor Leste. Meski berhasil menahan imbang Kamerun U-23, namun fakta saat melawan Thim Xad, julukan Timnas Laos, menjadi bukti baru betapa dari waktu ke waktu, kita terus mengalami degradasi kemampuan. Analogi sederhananya adalah, saat Tim Nasional tampil dalam formasi lengkap hasil seleksi dari seluruh klub yang ada di Indonesia saja,  kita jarang menuai prestasi. Apalah lagi jika Tim Nasional tidak menyertakan pemain – pemain dari Klub ISL yang saat ini banyak diisi pemain – pemain berpengalaman. Tentu tak terlalu ideal berharap pada pameo bola itu bundar.

Nasi Sudah jadi bubur, Tak ada yang bisa menolong sepak bola kita saat ini, selain kemauan para pemangku kepentingan negeri ini belajar pada kerendahan hati para suporter, belajar melupakan kebencian di masa lalu, menanggalkan ego dan melupakan kepentingan politik dan golongan demi kemajuan sepak bola Indonesia. Tak penting lagi mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

Suporter rela mengorbankan diri mereka demi kemajuan sepak bola. Pengorbanan yang tulus tanpa pamrih, tanpa kepentingan. Karena bagi mereka, mendukung klub dan menggelorakan sepak bola tidak saja menjadi kebanggan tetapi juga menjadi hiburan ditengah himpitan kemiskinan dan kesulitan Ekonomi. Mungkin motivasinya berbeda dengan para petinggi sepak bola yang sedang berseteru itu. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s