Ke Tana Toraja, nonton adu kerbau sampai ketemu orang mati !

Usai merampungkan laporan event dimana saya menjadi project officer, membuat saya berpikir untuk berlibur di akhir Desember tahun ini. Mulailah saya hunting tempat wisata yang representatif. Karena dilahirkan di daerah pantai, sepertinya wisata bahari tidak menjadi alternatif utama. Bertahun – tahun melewatkan masa kanak – kanak diatas pasir putih dan bersahabat dengan ombak, membuat panorama pantai menjadi sangat biasa buat saya.

Atau mungkin ke pegunungan ? Sepertinya tidak, berdomisili di Bandung dan kerap melewatkan waktu di daerah kabupaten sekitar kota kembang saat ada libur, menjadikan daerah pegunungan tidak pula menimbulkan hasrat yang luar biasa. Ribet ya ?😀. Ya namanya juga liburan, harus dilewatkan ditempat yang sejatinya menyajikan sensasi.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Acara Bocah Petualang di Trans 7, membuat saya menemukan referensi baru untuk rencana acara akhir tahun saya. Tana Toraja !. Meski hanya menyaksikan sepenggal cerita tentang Tana Toraja dari program televisi dengan tokoh sentral anak – anak itu, keunikan adat istiadat plus daya tarik rumah tongkonan, membuat saya spontan memilih daerah wisata di Sulawesi Selatan tersebut sebagai target !

Usut punya usut, Toraja ternyata memang memiliki ritual – ritual adat dan kepercayaan yang sangat unik bahkan mungkin tak ada duanya di Indonesia. Pilihan saya sepertinya benar – benar gak salah lagi. Hasil perbincangan panjang lebar saya dengan seorang teman asal Tana Toraja dan Om Google yang pemurah lagi tidak sombong, membulatkan tekad saya menunjungi daerah berjarak sekitar 300 kilometer dari Makassar tersebut.

Lalu planning pun mulai di rancang. Beruntunglah, setiap tahun, di daerah berhawa sejuk itu rutin digelar sebuah event bertajuk Toraja Lovely December. Toraja Lovely December adalah program tahunan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Pagelaran yang sudah berlangsung sejak tahun 2008 lalu ini, akan menampilkan berbagai potensi kesenian dan budaya Toraja dalam berbagai bentuk atraksi seni budaya. Artinya saya bisa menyaksikan berbagai ritual adat dan atraksi seni   yang mungkin tidak akan ditemukan di luar penyelenggaraan event.

Apapun itu, saya punya rencana sendiri untuk mengunjungi beberapa tempat yang dari penelususran saya, sepertinya menjadi menu wajib karena hampir pasti saya tak akan temui di daerah lain, bahkan dibelahan dunia manapun.

Yang pertama, rumah adat tongkonan pastinya. Menurut saya, arsitektur rumah adat Tana Toraja sangat luar biasa dan tak ada duanya. menurut om google, tongkonan adalah rumah panggung yang menjadi rumah tinggal sekaligus simbol kehidupan masyarakat Tana Toraja. Ada filosofi kepercayaan, kebanggaan dan sekaligus tradisi yang melekat pada rumah yang diatapnya dibiarkan rumput tumbuh menjalar. Unik kan ? saya sudah tidak sabar untuk berfoto didepan rumah adat tongkonan lalu mengunduhnya di facebook. narsis :p

Rumah adat Tongkonan di Tana Toraja

Berikutnya adalah upacara Rambu Solo yang menjadi agenda rutin Toraja Lovely December. Rambu Solo sepintas seperti pesta besar. Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.

Semakin tinggi strata sosial sebuah keluarga, semakin besar biaya yang harus dikelurkan untuk upacara adat Rambu Solo. Kerbau yang dipotong bisa sampai 150 ekor, acaranya bisa tiga hari tiga malam. Gileee ya !. Pada upacara itu, terdapat pula prosesi adu kerbau ( Ma’pasilaga Tedong ) yang selalu menarik perhatian para wisatawan, baik lokal maupun wisatawan mancanegara. Wah,so amazing !!.

Upacara Rambu Solo

Atraksi Ma’pasilaga Tedong

Oh iya, ada pula upacara adat Rambu Tuka . Ritual Rambu Tuka adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat atau tongkonan baru, atau selesai direnovasi. Rambu Tuka menghadirkan semua rumpunkeluarga. Semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.

Dalam upacara adat Rambu Tuka’ diikuti oleh seni tari : Pa’ Gellu, Pa’ Boneballa, Gellu Tungga’, Ondo Samalele, Pa’Dao Bulan, Pa’Burake, Memanna, Maluya, Pa’Tirra’, Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa’pompang, pa’Barrung, Pa’pelle’. Seni Musik dan seni tari yang ditampilkan dalam upacara adat Rambu Solo tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara adat Rambu Tuka. Unika benner ya ?

Menu wajib berikutnya adalah kuburan adat Tana Toraja yang takkan bisa anda temui ditempat lain. Namanya LemoLemo merupakan kuburan yang dibentuk di dinding bukit dan awalnya khusus diperuntukan bagi bangsawan suku Toraja. Ada lebih dari 70 buah lubang batu kuno menempel di dindingnya dan padanya disimpan patung kayu (tao-tao) sebagai representasi dari mereka yang sudah meninggal. Tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan tao-tao, hanya kalangan bangsawan saja yang berhak dibuatkan tao-taodan itu pun setelah memenuhi persyaratan adat.

Pekuburan adat di Tana Toraja

Saya berharap, ketika berada di sana, ritual membangunkan mayat seperti yang saya baca pada sebuah situs online, bisa berlangsung dan pasti akan menjadi cerita menarik ketika kembali ke kantor. Ritual yang disebut ma’nene itu sendiri, sekali lagi merupakan adat dan kepercayaan suku Toraja terkait keberadaan orang – orang yang telah meninggal dunia. Kematian menurut adat dan kepercayaan Tana Toraja adalah sebuah bagian perjalanan hidup dimana seseorang harus tetap diperlakukan seperti ketika hidup. Tradisi menggantikan pakaian jenazah ini juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan diantara mereka. Kalo di arena permainan kita ketemu jenazah buatan, di Tana Toraja anda bisa ketemu aslinya !. Bisa jadi sarana wisata adrenalin🙂

Anda juga tertarik juga mengunjungi Tana Toraja ? jangan khawatir, 5 jam perjalanan darat dari Makassar, sepertinya akan terbayar tuntas dengan pesona dan daya tarik dari obyek wisata andalan Sulawesi Selatan tersebut. Shuttle Bus ber ac seperti Litha, Bintang Prima, Liman Express dan Manggala Trans bisa anda dapatkan di jalan Urip Sumiharjo Makassar ( Depan Makassar Town Square ) atau di terminal regional Daya. Ada lima kali pemberangkatan. Masing – masing pukul 08.00, 10.00, 13.00, jam 8 malam, dan pukul 21.30 malam dengan tarif seratusan ribu rupiah. Pengen lewat udara ? bisa liat infonya di http://www.torajaland.com/travel/info/003-makassar-toraja-dengan-pesawat

Pilihan akomodasi dari yang murah banget sampai yang high class bisa dilihat disini nih.. http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/tostay. Disana, pemandangan alam juga menjadi daya tarik tersendiri, alam pegunungan dengan persawahan di kanan kiri, adalah suasana yang sayang untuk dilewatkan. Mumpung lagi ada event Toraja Lovely December,yuk rame – rame ke Tana Toraja !!!

Hotel Sahid Toraja, salah satu pilihan hotel dengan nuansa khas Toraja

http://www.mymakassar.com/

6 thoughts on “Ke Tana Toraja, nonton adu kerbau sampai ketemu orang mati !

  1. Pingback: Ke Tana Toraja, nonton adu kerbau sampai ketemu orang mati ! « achmadriyadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s