Ada apa dengan Ariel ?

Ariel sudah bebas dan bahkan sudah bisa kembali menghibur penggemarnya yang rata – rata kaum remaja alias ABG. Pro kontra terkait euforia penyambutan vokalis band Peterpan itu ( sekarang NOAH ) juga sudah tak terdengar. Yang kontra kembali asyik dengan aktivitas lain, yang pro juga mungkin sedang asyik memandangi idolanya itu dilayar kaca atau mungkin dilayar handphone jika ingin menyaksikan keahlian Ariel lainnya selain beryanyi.

Asal tau saja, banyak penggemar berat Ariel yang justru jarang atau tak pernah mendengar lagu – lagunya🙂. Anyway, Saya tiba – tiba saja tergelitik  berbicara Ariel lagi setelah mendapatkan status seorang kawan saya di facebook yang mati – matian menghujat Ariel.

Saya bukan penggemar Ariel tapi saya penggemar Arsenal ( nah lho, apa hubungannya ? ) tapi berita tentang tentang pria bernama lengkap Nazriel Irham itu tak urung saya konsumsi. Maklum, Ariel ini adalah sosok pendongkrak rating yang paling ampuh. Seumpama di dunia politik, dia adalah seorang vote getter yang bisa diandalkan.

Tidak heran jika beritanya bisa kita dapatkan ketika kita memncet angka berapapun pada remote control televisi🙂. Di social media dia menjadi trending topic, di display picture BBM dia wara – wiri. Sungguh saya tak bisa menghindar dari berita tentang Ariel, seperti tak berdayanya saya untuk tidak menonton videonya, Upss…

Banyak yang menyayangkan ketika Ariel disambut bak pahlawan. Persoalan moral pasti jadi alasannya. Meskipun moral sebenarnya tidak  terkait langsung dengan interest kita terhadap kualitas vokal Ariel sebagai seorang biduan ( halah.. istilahnya 80 an banget😀 ). Tapi keberadaan Ariel sebagai public figure jelas memiliki posisi berbeda dengan orang kebanyakan. Belum lagi fakta ilmiah bahwa Anak – anak dan remaja ( yang banyak menjadi penggemar Peterpan ) adalah peniru paling ulung di dunia ini ( kata psikolog).

Dan masih kata psikolog lagi, seorang penggemar cenderung memandang idolanya sebagai tokoh inspiratif. Disitulah letak kesalahan laki – laki asal Pangkalan Brandan tersebut. Menyebarkan video porno ( entah sengaja atau tidak disengaja ) dan berpeluang ditonton oleh jutaan orang, terutama remaja. Itulah resiko seorang public figure yang tidak hanya dituntut untuk tampil perfect secara fisik tapi juga dalam hal moral.

Ketika Luna Maya banyak disorot dan muncul keinginan untuk juga dijebloskan di penjara, saya termasuk orang yang kurang setuju. Bukan karena saya penggemar Luna ( saya penggemar seafood ; gak ada hubungannya lagi ). Bukan pula karena saya setuju dengan perlakuan kedua sosok rupawan tersebut. Tapi bagaimanapun, kita harus berpikir secara proporsional.

Yang menjadi persoalan hukum adalah penyebaran video. Sementara perbuatan mereka adalah sebuah private activity. Jadi yang merugikan masyarakat adalah publikasi video, bukan aktivitas seksualnya. Asal tau saja, ada ribuan video serupa yang tersebar di jagad maya dan harus kita telusuri pelakunya jika ingin menjudge Luna Maya. Kalau anda kurang setuju silahkan dibantah !.

Sejatinya memang mereka menjadi terdakwa dalam konteks kehidupan sosial, idealnya seperti itu. Seharusnya mereka ( Ariel, Luna dan Cut Tari ) tak lagi mendapat space di ruang publik, plus di ruang hati kita masing – masing. Tapi yang terjadi kan sebaliknya. Sebagian besar kita masih menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang jamak. Bahkan Ariel disambut seperti pangalima perang yang baru saja memenangkan laga. Ini realita. Realitas masyarakat yang sakit dan kekurangan stok panutan ( baca : idola ).

Lalu relakah Media kita mengabaikan kehadiran Ariel, Luna dan Cut Tari yang notabene menjadi magnet paling menggiurkan demi tujuan menambah pundi – pundi pendapatan. I don’t think so. Sebuah lingkaran setan yang susah untuk di cut. Prinsip supply and demand adalah anutan pemilik media yang masih dipegang teguh sampai sekarang. Pemirsa menginginkan ( bukan membutuhkan ) media menyediakan. So kenapa Ariel menjadi figur sentral yang terus disorot ??.

Sejatinya kita malu mengakui Ariel sebagai idola, pun Ariel semestinya malu untuk eksis lagi sebagai bentuk pertanggungjawaban moral. Sayang, kita bukanlah negara Jepang yang sangat mengagung – agungkan budaya malu dan tenar dengan ritual harakiri untuk menebus kesalahan. Kita sedang berada di negeri dengan sifat pemaaf yang sangat kuat dan penyakit amnesia yang sangat akut. Kita bahkan lupa, bukan kali ini saja kita lupa dan memaafkan kesalahan pesohor yang entah berasal dari dunia selebritis atau dunia politik. Pasti anda juga lupa, berapa kali menonton video Ariel dan Luna Maya ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s