Bravo Bambang Pamungkas !

Jika tak ada aral melintang, Kita akan kembali menyaksikan aksi Bambang Pamungkas pada Piala AFF tahun ini. Pemain kelahiran Salatiga itu, memilih bergabung dengan Timnas setelah sebelumnya memboikot dua organisasi ( PSSI Dan KPSI ) yang sama – sama mengklaim diri sebagai organisasi resmi dan menjadi induk dari olah raga sepakbola di Indonesia.

Mari sama – sama mengabaikan polemik kedua kubu yang semakin tak berujung bak cerita sinetron Cinta Fitri di televisi. Secara pribadi, sebagai penggemar sepak bola sejati, sesungguhnya saya dan mungkin anda, hanya ingin menyaksikan 22 orang saling berhadapan di lapangan hijau dan bersorak ketika ada yang berhasil membobol gawang lawan, itu saja.. Tak peduli organisasi apa yang menaunginya, siapa yang bermain dan untuk tujuan apa mereka berkompetisi.

Kembali ke soal Bp ( panggilan akrab Bambang Pamungkas). Tak ada yang pernah tau, apa yang ada di hati kapten kedua timnas itu, ketika tiba – tiba muncul di lokasi latihan Timnas Indonesia asuhan Nil Maizar. Meski isi hati legenda hidup Persija Jakarta itu telah dituangkan dalam laman pribadinya, tapi seperti sebuah ungkapan kuno, dalamnya laut bisa diukur, dalam hati seseorang takkan ada yang pernah tau.

Apapun itu, Semua orang bisa berdebat terkait sikap yang diambil oleh Bambang Pamungkas.  Semua opini tentang mantan pemain andalan Selangor FC itu wajar adanya. Segala sesuatu di dunia ini selalu hadir dengan dua sisi yang kadang bertolakbelakang. Itu kodrat !.

Sama dengan kebebasan kita mengemukakan penilaian atas sikap Bp, Seorang Bambang Pamungkas memiliki kebebasan mutlak menentukan pilihan hidupnya, termasuk keputusan besar bergabung dengan Timnas Indonesia yang sejauh ini masih lekat dengan sikap pro dan kontra penggemar sepakbola di Indonesia.

Secara pribadi saya harus angkat topi pada seorang Bambang Pamungkas. Jika keputusannya harus dinilai dengan ukuran baik atau buruk, Bambang adalah sosok yang mau dan mampu mengambil keputusan penting disaat yang terbilang genting. “Kepentingan negara diatas segala – galanya. Timnas Indonesia bukan milik  siapa – siapa, bukan kepunyaan La Nayla, tidak pula milik seorang Djohar Arifin. Tim Nasional adalah milik rakyat Indonesia”. Demikian pernyataan Bp pada situs pribadinya.

Bambang Pamungkas bisa dibenci oleh Jakmania dan orang – orang yang pro pada kubu KPSI. Bahkan, semua orang bisa tidak setuju dengan sikap Bp. Tapi Indonesia menunggu darma bakti seorang Bambang Pamungkas, membela panji – panji merah putih di Malaysia dan Thailand nanti.

Saya yakin, di dada Elie Aiboy, Rasyid Bakri, Arthur Irawan dan seluruh punggawa Timnas Indonesia, terpatri semangat seperti yang menggelora di dada Bambang Pamungkas. Lalu, jika kita penggemar sepakbola sejati dan mengaku cinta Indonesia, buat apa sebagai supporter, kita terkotak – kotak dan berada dibelakang orang – orang yang tak sepenuhnya tulus membangun sepakbola di negeri ini ?.

Para pembesar itu, bisa saja berpolitik di sepakbola, tapi dukungan kita harusnya total untuk merah putih, bukan warna biru ataupun kuning. Bravo Indonesia, Bravo Bambang Pamungkas !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s