Drama di Siliwangi

Ini bukan aksi kejar – kejaran skor seperti yang terjadi pada ajang Capital One ketika Reading menjamu Arsenal. Bukan pula pertunjukan klasik yang selalu menarik animo manusia sejagad ketika  Barcelona bertemu Los Galaticos.

Drama di Siliwangi tak lebih sebuah pertunjukan menegangkan yang terjadi diluar lapangan hijau dan merembet sampai kedalam stadion Siliwangi, venue Celebes Cup II yang akan dilangsungkan di Kota Kembang Bandung. Aktor utamanya tak lain dan tak bukan adalah pihak kepolisian.

Gimana nggak, hingga kick off babak pertama antara tuan rumah Persib Bandung dan Makassar United sebagai penggagas turnamen, izin dari pihak kepolisian belum juga ditandatangani.

Meski tidak masuk dalam daftar kepanitiaan inti, ketegangan tak urung saya rasakan. Nama Celebes pada turnamen tahunan itu secara tidak langsung membuat saya sebagai putra Makassar merasa harus turut prihatin dan berbuat sesuatu yang bisa saya lakukan sebagai seorang perantau di kota Bandung.

Sayang sekali karena tak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa. Ya, ketika puluhan ribu bobotoh, sebutan untuk pendukung Persib Bandung berkumpul dan berteriak histeris diluar lapangan, hanya berdoa yang bisa saya lakukan sambil tertunduk lesu diatas sebuah kursi penonton di stadion milik TNI AD itu.

Semoga tak terjadi apa – apa jika pertandingan betul – betul batal digelar ! begitu harapan saya dan mungkin seluruh jajaran panitia yang sebagian adalah teman baik saya dari Makassar.

Wajah – wajah gelisah bercampur kesal di luar lapangan

Wajah tegang panitia

Penonton hopeless

Drama sejatinya telah dimulai, dua hari sebelum pembukaan turnamen. Pihak kemanan dalam hal ini polisi, bersikukuh untuk tidak mengeluarkan izin keramaian. Sekali lagi, gonjang – ganjing dunia sepakbola kita membuat izin keramaian dari turnamen itu tak kunjung menemui kejelasan hingga jelang hari H. Polisi gamang terkait PSSI mana yang harusnya memberi rekomendasi, lalu berujung pada tarik ulur soal lisensi pegelaran pertandingan . Nominal fee pengamanan pun akhirnya membuat urusan makin ribet.

Saya nggak tau, apa fee pengamanannya yang bikin jadi ribet atau lisensinya. Silahkan anda mengira-  ngira sendiri😀. Yang jelasnya, pertandingan baru bisa digelar dua jam dari jadwal yang telah direncanakan. Siaran langsung di Trans 7 pun jadi berantakan. Polisi akhirnya membiarkan pertandingan berlangsung dengan alasan kondusifitas kota Bandung.

Ini hanya sebagian kecil dari carut marut pengelolaan sepak bola di negeri ini yang tak kunjung menemui titik terang. Organisasi induk terbelah, liga terbagi dua, pendukung sepak bola bercerai berai. Mungkin hanya Indonesia yang Timnas sepak bola nya ada dua, Lucu sekaligus ironi.

Ketika politik membuat kita terpecah belah, saat kesenjangan ekonomi sukses memisahkan si kaya  dan si miskin, saat kehidupan sosial kita tidak sedang dalam kondisi baik dengan pertikaian antar kelompok dimana – mana, sepakbola sejatinya hadir sebagai pendobrak sekat – sekat itu. Sayang karena dalam mengelolah olahraga termasyhur sejagad itupun, lagi – lagi kita gagal..Mari memaklumi !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s