Multi Level Marketing

Jika ada yang paling saya takuti selain Tuhan, Maka itu adalah MLM ( multilevel marketing )🙂. Mungkin agak berlebihan, tapi saya benar – benar trauma aipama. Beberapa kali saya dibuat kurang nyaman oleh MLM, lebih tepatnya teman yang kebetulan menggeluti bisnis tersebut.

Pernah suatu waktu saya di telpon oleh teman lama yang sudah beberapa tahun tak berkomunikasi ataupun bertemu langsung. Tau – tau dia menghubungi saya dan mengaku dapat nomer saya dari teman juga. Di ujung sana, sejenak dia bercerita tentang kenangan pertemanan kami dan sedikit bertanya kabar. Selanjutnya dia mengajak saya ketemuan dengan alasan, sudah lama pengen ngobrol – ngobrol.

Saya sedikit heran, Dia bukanlah teman dekat, jadi agak ganjil kalau tiba – tiba dia merasa “kangen” pengen ngobrol – ngobrol, seperti istilah dia. Tapi rasa tidak enak menolak ajakan berbalut kata “silaturrahmi” itu, membuat  saya akhirnya menerima undangan dia untuk bertemu di sebuah kafe. Jujur, “tidak enakan”  benar – benar” jadi penyakit saya dari dulu.

Singkat cerita disuatu senja yang temaram ( hallahh !! ), kami sudah berhadap – hadapan dan mengawali perbincangan dengan sedikit basa – basi, setelah itu tiba – tiba dia menanyakan berapa gaji saya perbulan. Pertanyaan pertama yang langsung membuat saya kurang nyaman. Kalau kurang emang mau ditambahin ?😦

Ketidak nyamanan saya semakin menjadi – jadi ketika ditengah perbincangan yang belum saya tangkap topik dan arahnya itu, dia menghakimi saya telah melewatkan banyak waktu dengan sia – sia, “kamu bisa lebih baik dari keadaan kamu sekarang, kamu bisa jadi orang besar !” begitu dia berbicara sedikit berapi – api.

Lalu mulailah dia mengeluarkan setumpuk brosur dan sekilas saya melihat beberapa diantaranya memuat gambar beberapa produk kesehatan, sejurus kemudian saya baru tau kalau itu adalah bisnis berantai yang orang istilahkan multi level marketing. Alamaaak !!. Dia gak tau aja, untuk pertemuan itu, saya sampai harus memporsir waktu dan tenaga saya untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor lebih cepat. Beberapa agenda terpaksa saya reschedule ( sok ngartis🙂 )

Tapi sungguh tak ada maksud meragukan niat baik teman saya itu. Tapi mungkin dia bisa melakukannya dengan cara yang sedikit elegan. Pernyataan melewatkan waktu dengan sia – sia itu mengandung makna, pekerjaan yang saya lakoni ( sebagai penyiar ) itu kurang memiliki nilai ( setidaknya seperti itulah saya menangkapnya ). Dan lagi, kenapa dia menilai sesuatu itu bernilai atau justru sia – sia dengan ukuran banyaknya duit yang kita dapatkan karena memperoleh banyak downline.

Mungkin maksud teman saya itu, saya bisa memperoleh duit tambahan dengan tidak mengganggu main job saya. Tapi ketidaknyamanan terlanjur hadir. Jujur saya tidak terlalu respek dengan sesuatu yang ditutup – tutupi atau dibias – biaskan. Kalau mau silaturahmi ya silaturahmi kalau mau bisnis ya bisnis biar saya ketemu pakai dasi sekalian heehehehe..

Tak ada maksud juga menganggap pekerjaan saya lebih baik. Semua pekerjaan dan profesi sama baiknya jika ditekuni dengan sungguh – sungguh dan niat baik. Tapi buat saya setiap orang memiliki kecenderungan masing – masing. Kita terlahir dengan bakat, pribadi dan intersetnya masing – masing. Saya juga tidak mengingkari jika ada orang yang sukses dan menjadi orang besar seperti kata teman saya itu berkat MLM.

Tapi kembali lagi ke soal bakat, minat dan karakter pribadi kita yang menjadi kodrat manusia. Tidak semua orang mampu, mau dan berbakat pada bidang pekerjaan bersifat “sampingan” sekalipun. Jika uang jadi barometernya, Mungkin MLM bisa mendatangkan duit banyak dengan cepat. Tapi jika saya gak punya bakat disitu, mungkin saya akan melewatkan banyak waktu untuk meraihnya, karena saya baru akan belajar mengasah bakat, ketertarikan dan meningkatkan kemampuan negosiasi saya.

Sementara mungkin dibidang pekerjaan lain, tidak menjanjikan duit yang banyak dalam waktu singkat, tapi saya lebih progressif di profesi itu, karena saya mencintainya, ditambah bakat dan kemampuan saya memang disitu adanya. Berikutnya, kata sampingan dari teman saya itu, sedikit saya protes. Bertemu dengan orang, memprogres dia sebagai mata rantai bisnis kita, mempromosikan produk dan lain – lain sebagainya, jelas tidak memakan waktu sampingan seperti istilah dia.

Anyway, ada yang bisa sukses di MLM, tapi saya bisanya sukses sebagai model seperti sekarang :p :p.. Lagipula saya bahagia dengan apa yang saja jalani meskipun nominal yang saya dapatkan baru sebatas cukup. Fislosfi hidup saya buka memiliki banyak, tetapi memiliki apa yang saya butuhkan, enough !!.

Akhirnya ketika kemarin dapat BBM dari teman yang mengajak saya ketemu dengan iming – iming akan mengubah diri saya, dengan tegas saya menampik, karena saya bukanlah power ranger😀😀

2 thoughts on “Multi Level Marketing

  1. hehehehe…iya model…model majalah, “majalah sobek” xixixixix…peace…mantab tulisannya…tp apapun yang dilakukan selagi halal kenapa ga…..mau atau tidak ada di tangan anda……Gud Job….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s