Finally, ITB

Anda jangan kaget, saya tidak sedang menempuh perkuliahan di Institut Teknologi Bandung yang menjadi salah satu diantara 100 kampus tekhnik terbaik di dunia. Boro – boro, orang waktu SMU aja, nilai matematika saya nggak pernah jauh – jauh dari angka lima. Matematika, fisika dan pelajaran biologi, memang hal yang paling saya takuti setelah Tuhan, MLM dan hantu pocong perawan ( kasian, masih perawan udah jadi pocong :p ).

Tapi jika saya memiliki kesempatan kuliah di ITB,  jujur itu akan menjadi kebanggaan tak terkira, disamping sebuah kesempatan terbaik memperoleh ilmu dari perguruan tinggi yang sudah berdiri sejak tahun 1959 itu. Dulu semasa mahasiswa, saya pernah punya kesempatan berkunjung ke ITB dalam rangka acara Kongres Radio Kampus se Indonesia.

Saat itu saya begitu takjub dengan aura yang dipancarkan oleh kampus yang terletak di jalan Ganesha itu, kultur mahasiswanya benar – benar berbeda dengan kampus tempat saya kuliah. Jika saat tak ada jadwal kuliah kami lebih banyak nongkrong di kantin, di ITB mahasiswanya nonkrong di pohon, eh.. maksudnya di bawah pohon sambil baca buku. Waktu itu saya berpikir, apa gak bosan tuh belajar di kelas, belajar juga diluar kelas. Dasar saya memang orangnya malas belajar😀

Ketika akan meninggalkan ITB, saya sempat bergumam “kapan ya bisa kembali lagi kesini, jika Tuhan memberikan jalan, ingin suatu waktu saya kembali lagi, entah sebagai mahasiswa atau apapun”. Dan ternyata perjalanan nasib membawa saya ketempat itu lagi untuk kedua kalinya. Ini bukan untuk sholat jum’at dimesjid Salman seperti yang kerap saya lakukan selama bermukim di Bandung tapi untuk bekerja, Ya bekerja.

Sebagai Dosen ?, Staf administrasi ? atau mungkin sebagai pegawai Lab ?. Tidak ketiga – tiganya. Sesungguhnya saya hanya akan menempati sebuah gedung yang terletak didalam kawasan kampus ITB sebagai karyawan sebuah perusahaan, tepatnya di Salman Business Centre. Jadi gak ada surprise sama sekali🙂

Saya hanya ingin mengatakan, jangan pernah berkecil hati dengan keadaan, mengerdilkan nasib lalu melupakan kuasa Tuhan. Ketika saya menyambangi ITB beberapa tahun lalu, saya sempat berpikir, Kampus mewah dengan nama  nama besar yang tidak hanya dikenal di Indonesia itu, bukanlah tempat saya. Saya mungkin gak akan pernah kembali lagi. Hampir tak ada alasan yang bisa saya bayangkan untuk suatu waktu bisa menyambangi ITB apalah lagi kuliah di tempat itu.

Itulah hidup, alurnya kadang tak pernah bisa kita tebak. Dan buat saya, lagi – lagi radio menjadi episentrum dari perjalanan tersebut. Saya bertandang pertama kali ke ITB karena Radio, dan sekarang saya akan bekerja dalam kawasan kampus ITB pada sebuah perusahaan konsultan teknologi informasi yang salah satu divisi nya mengurusi masalah radio, terkhusus bisnis radio berbasis IT. ITB I am Coming :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s