Televisi bicara tawuran

Dalam beberapa hari ini,  kita terutama saya pribadi, sukses dibuat geregetan oleh ulah adik – adik kita. Eh.. adik – adik apa anak – anak kita sih ?? whateverlah!. Yang jelas, kalau anda melihat tayangan beberapa stasiun televisi, pastilah anda sudah menyaksikan betapa perilaku sebagian siswa SMU yang akan menjadi penerus bangsa ini dimasa mendatang, telah melampaui batas – batas kewajaran.

Gimana nggak, Bukan buku atau penggaris yang mereka tenteng. Tapi celurit, rantai, bambu runcing dan benda – benda tajam lainnya. Masya Allah, apa yang terjadi dengan mereka ? mengapa kekerasan begitu akrab dengan dunia remaja yang seharusnya dilewati dengan sesuatu yang lebih positif dan bernilai. Saya juga pernah melewati masa remaja yang kata orang menjadi fase pencarian jati diri, tapi saya dan teman – teman, tak pernah seberingas anak – anak SMU yang sekilas saya saksikan di televisi. Apalalah lagi sampai punya hasrat menghabisi hidup orang lain.

Rasa gemes dan prihatin saya semakin menjadi – jadi, ketika media TV terus – terusan menyorot persoalan tersebut dan berulang – ulang menayangkan gambar tawuran disela – sela voice over penyiar ataupun pernyataan narasumber. Pagi tadi, sebuah stasiun televisi “nekad” mewawancarai orang tua korban tawuran saat sedang membahas topik mencari akar permasalahan tawuran antar pelajar.

Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi perilaku anak – anaknya. Tapi saya sangat tidak habis pikir dengan keputusan stasiun televisi tersebut mewawancarai orang tua korban yang mukanya masih sembab karena baru saja kehilangan anak tercinta. Apa urugensinya terhadap program ? Dimana empati media terhadap seseorang yang baru saja ditinggal pergi oleh sosok yang di cintainya. Semua orang tau betapa sedih kehilangan buah hati. Tentu tak perlu diperkuat dengan wawancara.

Kalau tujuannya untuk mengorek bagaimana sang orang tua mengawasi anaknya, tepatkah waktunya ? i don’t think so…Sekilas media itu seperti menjadikan momentum maraknya tawuran sebagai komoditas menaikkan rating, wallahualam. Tapi jika benar adanya, hanya satu kata yang pantas mewakili : miris !!

Lagian kenapa media yang satu itu spontan muncul seakan – akan ingin menjadi problem solver dalam masalah perkelahian antar remaja ?. Tidakkah mereka menengok sejenak ke dapur redaksi mereka ? tidakkah mereka sadar bahwa mereka sebetulnya punya andil besar dalam fenomena aksi anarkis itu ?.

Tayangan kekerasan selama ini dianggap sebagai sebuah peristiwa biasa lalu ditayangkan secara vulgar. Aksi lempar batu saat demonstrasi, menghakimi maling yang kepergok mencuri, aksi jagoan menghabisi penjahat pada sinetron – sinetron mereka dan berbagai tayangan berbau kekerasan lainnya, menjadi  makanan sehari – hari kita dan anak – anak kita yang kata psikolog mejadi peniru paling ulung di dunia. Ingat, selain fungsi informasi, media juga mengemban fungsi pendidikan dan amanat mencerahkan publik pemirsanya.

Saya sangat yakin, remaja yang tega menghabisi nyawa temannaya itu, adalah produk masa lalu yang ketika kanak – kanak, nyaris kehilangan dunia mereka. Mereka tak pernah lagi mendengarkan lagu anak – anak yang penuh inspirasi dan nilai – nilai luhur seperti yang sering saya liat di TVRI dulu. Mereka itu adalah buah perkawinan antara ruang maya bernama internet dengan game onlinenya yang menyuguhkan aroma kekerasan yang sangat kental dan kesibukan orang tua yang membiarkan anak mereka berteman dengan teknologi dan media audio visual yang kebetulan tak bisa menjadi teman yang baik.

Mereka kehilangan tempat berkeluh kesah lalu lari kedalam pelukan layar ajaib bernama televisi, jatuh dan terbuai belaian hangat teknologi canggih bernama game online. Kondisi yang melahirkan mereka kembali menjadi pribadi individual, anti sosial dan menjauh dari sifat setia kawan, di waktu tertentu, mereka muncul menjadi sosok agresif jika tak bisa disebut beringas.

Mungkin dibeberapa kasus, tawuran antara pelajar lebih disebabkan oleh dendam sejarah hasil doktrinisasi para senior. Tapi dengan frekwensi yang semakin meningkat dan skala yang semakin massif, patutlah kita mengurut dada ( dada sendiri ya, jangan dada orang disebelah anda :p )

Lalu untuk apa televisi itu tiba – tiba muncul seperti hero yang bisa menyelesaikan masalah dengan mewawancarai aktivis anak, psikolog sampai pejabat sekelas menteri ? Maaf, saya sangat meragukan ketulusan anda ( televisi ). Disaat wawancara saja, anda masih saja menayangkan gambar – gambar berbau kekerasan tanpa rasa berdosa sedikitpun.

Saya curiga anda malah menjadikan semua ini sebagai komoditas untuk menaikkan rating dan menambah pundi – pundi pendapatan anda. Maaf, saya pantas marah karena sebentar lagi akan menikah dan menjadi seorang ayah🙂. Saya tak mau sosok kecil mungil buah hati saya tumbuh dan dibesarkan olehmu , karena kamu tidak pernah tulus menjadi teman dan sahabat buat mereka. Enough, hentikan wawancaramu itu !!!!

Gimana, ada yang mau nekad tawuran ama meraka ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s