Maria Oentoe

Surprise !!! Saya bertemu dengan Ibu Maria Oentoe ( baca : Untu ). Pertemuan kami dalam kapasitas saya sebagai Project Officer Indonesian Radio Awards 2012 dan beliau sebagai juri. Awalnya saya merasa biasa saja bertemu dengan sosok lembut keibuan tersebut, pun Ketika kami berkenalan dan bertegur sapa sebelum rapat dimulai.

Kejutan demi kajutan, baru saya alami ketika kami ngobrol santai sesaat setelah meeting selesai. Ternyata ibu berusia 64 tahun tersebut, adalah pengisi suara pada beberapa sandiwara radio yang kerap saya dengar saat masih kanak – kanak. ( maaf nih, untuk anda yang lahir tahun 80 an keatas, mungkin cenderung sudah tak merasakan masa dimana sandiwara radio menjadi primadona ).

Tapi sumpah, dia bersama Ferry Fadli dan Elly Ermawati, adalah idola kami anak – anak dikampung yang kerap mendengar suara merdunya pada beberapa sandiwara radio zaman itu. Sebut saja Brama Kumbara, Tutur Tinular dan Ibuku Malang Ibuku Sayang. Saat sedang bermain, kami anak – anak sekampung, akan bergegas pulang saat sandiwara radio favorit kami itu akan segera mengudara. Dan OMG !, saya sedang berhadap – hadapan dengan salah satu dubbernya. Untuk saat sekarang, mungkin Ibu itu bisa disejajarkan dengan Agnes Monica atau bahkan Justin Beiber🙂.

Sekali lagi, kalau anda tak pernah merasakan betapa sandiwara radio menjadi hiburan favorit di era kami kanak – kanak, keterkejutan saya mungkin sesuatu yang berlebihan. Tapi pernakah anda tau, ternyata rekaman suara di biskop – bioskop yang berbunyi “pintu theatre satu telah dibuka, untuk anda yang telah memiliki karcis, silahkan memasuki pintu theatre satu” adalah suara ibu Maria Oentoe. Dan tau nggak, ternyata suara itu sudah direkam sejak tahun 1986 lho.

Suprise saya selanjutnya adalah, ternyata Ibu Maria Oentoe tak pernah lagi mendapatkan royalti atas  suaranya yang masih kita dengar  dibioskop – bioskop Twenty One di seluruh Indonesia itu. ( saya gak sempat nanya, sampai tahun berapa dia dibayar dan berapa nominal yang dia dapatkan. Takut dicap menanyakan hal – hal yang tidak semestinya ).

Apapun itu, Sesaat saya tersentuh dan seperti ada yang berontak di dada saya. Meskipun saya sebenarnya tak tau betul regulasi yang mengatur soal penggunaan suara untuk tujuan komersil dalam jangka panjang. Toh perasaan sentimentil saya terlanjur hadir, apalagi setelah tau aktivitasnya Ibu Maria yang jauh menurun seiring menurunnya animo masyarakat mendengar sandiwara dan siaran radio secara umum.

Keterkejutan saya berikutnya adalah ketika saya mengantarkan ibu itu ke halaman kantor dan bertanya, “ibu kesini naik apa ?” lalu di jawab : Saya naik Bus. Entahlah, tiba – tiba perasaan saya seperti berkecamuk. Campur aduk antara kaget dan iba karena ibu setua itu harus berdesak – desakan di bus ( di Jakarta pula ). Di sudut hati saya yang lain, ada perasaan tidak rela, Idola kanak – kanak saya itu seperti terpinggirkan di masa tuanya. Sama terpinggirkannya dengan sandiwara radio yang sudah sangat jarang kita dengar, dikalahkan oleh sinetron dan sarana serta perangkat hiburan lain yang membuat acara radio favorit saya dimasa kecil itu, seperti hilang ditelan bumi…

Sayang sekali, saya tidak sempat berfoto bersama dengan Ibu bersuara merdu tersebut. Tapi ini saya memperoleh foto Ibu Maria di internet. Semoga Ibu itu selalu dianugerahi kesehatan, umur panjang dan hidup yang barokah. Amien !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s