Hari Radio ??

Hari ini hari Radio ??? Sungguh saya merasa menjadi manusia yang tidak tau diri. Penyiar, tapi sama sekali gak pernah tau kalau hari ini adalah peringatan Hari Radio😀.  Momentum bersejarah itu baru saya tau pagi – pagi, saat membaca status teman – teman di contact BBM saya. Tiba – tiba saya didera rasa berdosa sudah melupakan hari lahir Radio.  Padahal radiolah yang telah membesarkan nama saya ( halah.. sok sukses ! ).

Sejurus kemudian saya teringat bagaimana saya bisa tercebur kedalam dunia cuap – cuap itu. Tercebur ? ya, karena saya seperti tidak sengaja dan tidak pernah terpikir sama sekali untuk menjadi seorang penyiar. Ketika guru SD saya menanyakan cita – cita kami jika dewasa kelak, kalo gak salah saya lebih sering jawab ” Pengen jadi polisi pak”. Kalau guru saya nanya lagi, kenapa pengen jadi polisi ?. saya kadang jawab ” karena saya ingin mengobati orang sakit” hehehehe… ya, sejak kecil cita – cita saya memang kurang jelas.

Namanya juga nasib ya. Penuh dengan misteri dan teka – teki. Saat akan memasuki fase hidup baru sebagai mahasiswa setelah nganggur selama dua tahun, saya sama sekali belum tau akan kemana orientasi akademik saya diarahkan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, gara – gara salah sambung di telpon, saya berkenalan dengan seorang penyiar bernama Ade dan kebetulan kuliah pada sebuah perguruan tinggi swasta dengan konsentrasi kajian Ilmu Komunikasi, Yess.. ini dia sekolah dan jurusan yang tak ada mata kuliah hitung – hitungannya, Ucapku dalam hati saat itu ( saya memang paling benci matematika sejak orok ! ). Profesi penyiarpun akhirnya jadi obsesi dadakan gara – gara banyak ngobrol soal kuliah dan aktivitas Ade.

Tapi sejatinya, menjadi penyiar tidaklah pernah menjadi tujuan hidup saya dimasa depan kala itu. Menurut saya, penyiar itu “sekedar” hobby atau mungkin side job dan bisa ditekuni oleh siapapun. Intinya, saya menganggap aktivitas itu sebelah matalah. Tapi pandangan saya itu terbantahkan ketika jelang akhir kuliah, saya mendaftar untuk jadi penyiar. Terhitung ada dua stasiun Radio yang menolak CV saya ketika saya berniat menjadi salah satu penyiar di dua radio itu. Kesadaran baru mulai muncul, bahwa tidak semua orang bisa diterima menjadi penyiar. Padahal saya sekolah di Perguruan tinggi dengan konsentrasi Ilmu Komunikasi lho. Jurusan Radio pula !.

Ketika sebuah stasiun Radio menerima saya sebagai calon penyiar dan reporter, tak urung saya harus menjalani training selama setengah tahun sebelum bisa on air. Hampir saja saya putus asa karena tak membayangkan akan sebegitu panjang jalan yang harus saya lalui. Saya masih ingat, untuk menyebut nama frekwensi radio tempat saya bekerja dengan baik dan sesuai dengan style yg diinginkan, saya harusa berlatih hampir tiga hari ( naudzubillah ).

Saat semakin dalam tenggelam pada aktivitas keradioan, semakin saya menyadari, betapa profesi ini bukan sekedar hobby atau pengisi waktu orang – orang yang ada didalamnya. Butuh kretivitas, wawasan, keuletan, dan ada sentuhan etika serta manajemen. “meskipun hanya” berbicara dan memperdengarkan lagu, tapi disaat bersamaan, suara kita sedang didengarkan oleh banyak sekali pasang telinga. Sehingga kita layaknya sedang berceramah didepan banyak orang. Tentu, ketika kita dalam posisi sentral seperti itu, omongan kita haruslah bernilai dan bukan omongan biasa. Selayaknya memberi inspirasi atau paling tidak mampu menghibur.

Ternyata suara penyiar yang saya dengar selama ini, diatur oleh orang pihak lain bernama program director, musik yang saya dengar dikontrol oleh seseorang bernama music director. Sebuah lagu yang terputar, harus disesuaikan dengan waktu, karakter dan keinginan pendengar serta berbagai pertimbangan lain. Kita diintervensi oleh kepentingan pengiklan dan berbagai tetek bengek yang tidak pernah saya pikirkan saat jadi pendengar. Barulah saya tersadarkan, betapa tak semua orang bisa seperti saya. Barulah saya merasa bangga !

Betapa pentingnya profesi ini. Sampai ada undang – undang yang mangatur tentang radio, ada lembaga khusus seperti KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ) yang menjadi lembaga pengawas keberadaan Radio. Akhirnya radio memang tak lagi sekedar ngomong dan memperdengarkan lagu, banyak hal diluar yang kita tau dan berada dibelakang bilik siar.

Anyway, Orang – orang yang terlanjur berkecimpung didunia radiopun, tentu hadir dengan orientasinya masing – masing. Ada yang menjadikan dunia siaran sebagai batu loncatan untuk mendapatkan bidang pekerjaan yang lebih menjanjikan, adapula yang stay focus di radio meskipun mendapatkan banyak tawaran dan kemungkinan lain diluar sana. Tapi tak ada yang salah dengan sikap bertahan atau meninggalkan radio. Itu sekedar pilihan saja. Bukankah hidup memang  persoalan pilihan ?.

Pun jika bicara peruntungan . ada yang dari radio, bisa menuai kesuksesan karena profesinya sebagai penyiar dengan side job yang didapatkannya karena berstatus broadcaster. Tapi tidak sedikit yang mau tak mau, menerima “nasib” menjadi “sekedar” penyiar saja. Maaf ! tanda kutip itu penting, karena jujur jika ingin mendapat kehidupan ekonomi yang lebih baik, mungkin bukan di radio tempatnya. Jika ingat kondisi ini, saya kadang sedih, menjadi orang “penting” sebagai penyiar radio ternyata tak selamanya mendapat nominal seperti layaknya orang penting. Salah siapa ? I Don’t know..

Tapi yakinlah, segalanya mungkin dari biliki siar itu..karena sejatinya radio itu menjadi laboratorium hidup yang sangat unik dan bisa melahirkan manusia – manusia fight dan kreatif ketika berada diluar bilik siar. Saya tak perlu mengemis agar profesi saya ini dihargai. Karena apresiasi akan datang dengan sendirinya dengan berusaha menjadi yang terbaik pada bidang pekerjaan apapun yang kita lakoni. Saya Penyiar dan saya Bangga !!!

4 thoughts on “Hari Radio ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s