Pamali

Beberapa hari ini saya dibuat stress oleh  gigi saya. Setiap saya terbangun di pagi hari, yang pertama saya pikirkan adalah gigi saya. Setelah itu saya akan ke depan cermin melihat – lihat gigi saya itu, berharap terjadi sebuah keajaiban, mukjizat atau apalah. Setiap terjaga di malam hari, saya berharap saya sedang bermimpi dan menemukan gigi saya tidak kenapa – kenapa saat tersadar. Tapi tidak, gigi saya memang sedang dalam masalah besar. Gigi saya terancam dicabut. Gigi depan pula. Oh My God !

Petugas di klinik gigi yang saya kunjungi, memvonis gigi saya harus di cabut dan diganti dengan gigi baru. Tinggal milih saja, mau metode yang bagus dengan biaya yang bagus pula, yang middle, atau yang murah dengan kualitas yang tentu dibawah rata – rata. Tidak ketiga – tiganya !, Saya mau gigi saya tidak diapa – apakan. Saya pulang dengan harapan gigi saya tidak harus dicabut..

Tapi kemudian saya sadar.. bagaimanapun saya harus realistis, berlapang dada dan ikhlas. Sepertinya hanya itu yang bisa saya lakukan. Berharap terjadi keajaiban, tentu bukan hal yang bisa diterima akal sehat. Bukankah apa yang ada pada diri kita, memang akan diambil satu persatu ? cuma soal waktu saja. Ya,. kecelakaan motor yang membuat gigi saya harus saya relakan itu, ternyata membawa kesadaran baru : Tuhan memberi kita sesuatu dan bisa saja diambil kapan saja dia mau.

Ibu saya bilang begini “gigi kamu masih bisa diganti, kamu harus bersyukur karena hanya gigi kamu yang rusak”. Ya, ibu saya betul, Tuhan bisa saja mengambil mata saya atau salah satu kaki saya atau bahkan nyawa saya. Everything is possible !. Ibu saya ikut membantu menyadarkan saya bahwa Tuhan masih sayang sama saya. Mungkin ada orang yang mengalami kemalangan lebih dari yang saya alami.

Ibu saya memang selalu bisa membuat saya tenang dan lebih kuat pada situasi tertentu. Dan lagi, dengan kondisi matanya yang tak bisa berfungsi sempurna, hal itu diterimanya sebagai sebuah takdir. Seharusnya saya bisa belajar dari keikhalasan Ibu saya. Mendengarkan nasihatnya dan belajar dari apa yang selalu dikatakannya. Termasuk soal Pamali !

Ya,. saya dan ibu saya sering berbeda pendapat soal pamali. Pamali itu, kadang menurut saya kurang logis. Misalnya gak bisa duduk ditangga saat sore hari,  gak boleh tengkurep dan gak boleh keluar rumah menjelang magrib, gak boleh makan saat matahari akan tenggelam. Saya sering nanya alasan ibu dengan segala larangannya itu, tapi ibu saya juga gak bisa menjawab dengan gamblang. Katanya itu larangan dari nenek. Ya udah, akhirnya saya banyak melanggar hal – hal yang dianggapnya pamali.  Menurut saya, itu hanya bisa – bisanya nenak saya saja, Namanya juga orang dulu. Begitu saya berpikir.

Mungkin karena ibu saya sering kecewa dengan sikap saya soal pamali, akhirnya saya ditegur oleh Tuhan. Tapi mungkin tidak sepenuhnya karena itu. Kecelakaan yang harus merenggut satu buah gigi saya itu membuat saya berpikir, mereka – reka dan mengingat kronologi serta situasi saat sebelum kejadian.

Waktu itu magrib akan menjelang. Saya nekad keluar rumah mengikuti ajakan teman saya. padahal saat magrib, semua orang serba terburu – buru ingin sampai kerumah. Sikap awas kita berkurang, sementara cahaya matahari yang tidak lagi bersinar sempurna membuat pandangan kita juga menjadi terbatas. Dan saya yakin, kondisi itulah yang membuat seorang bapak tanpa bisa kami duga menabrak kami dari belakang.

Hal – hal yang menurut ibu saya Pamali, terkadang memang kedengaraan tidak masuk akal. Tapi akhirnya saya jadi mencari – cari sebuah local wisdom yang mungkin terkandung dari apa yang diwariskan nenek saya dan mungkin orang – orang tua kita dulu itu. Kemarin saya mengantar sepupu saya ke dokter mata. Ternyata menurut dokter, matanya bermasalah dan salah satu penyebabnya karena dia sering tengkurap saat membaca. Saya jadi ingat dengan Ibu saya dan Pamali soal tengkurap itu.

Saya akhirnya benar – benar yakin kalau segala sesuatunya tidak harus dilihat dengan kacamata kuda. Ibu saya Betul dengan pamali – pamalinya meski mungkin tak bisa mengemukakan alasan yang logis soal itu.

2 thoughts on “Pamali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s