Oleh – oleh dari Bandung

Kalau boleh berbangga sedikit, diantara sekian banyak orang yang masih mau berpikiran jernih, tak mengaitkan perilaku individu dengan suku, agama ataupun etnis tertentu, maka saya termasuk di dalamnya. Pun ketika saya mendapatkan perlakuan kurang simpatik dari seseorang yang kebetulan berasal dari etnis yang oleh sebagian kita, kerap diasosiasikan sebagai golongan yang eksklusif dan kerap berlaku sombong, sikap saya cenderung tidak berubah. Buat saya, berlaku baik atau buruk, bisa dilakukan oleh tiap – tiap orang, tanpa melihat asal muasal pribadi tersebut.

Kemarin, saat sedang melakukan tugas jurnalistik di Kota Kembang Bandung, kondisi tidak menyenangkan yang sebenarnya menjadi konsumsi sehari – hari para wartawan, kembali saya alami. Sekitar pukul 10 pagi, saya menyambangi sebuah outlet kerajinan tangan yang cukup tenar di kota berhawa sejuk itu. Lokasinya di Jalan Aceh, Kebon Sirih, Bandung. Melalui pegawainya, saya dipersilahkan untuk menunggu manajer outlet tersebut untuk melakukan wawancara terkait usaha mereka yang saya anggap unik dan bisa menjadi inspirasi untuk pembaca majalah, tempat saya bertugas sebagai jurnalis freelance.

Pukul 11 siang, sang manajer muncul, lalu kami berbicara soal maksud kedatangan saya. Dengan alasan biar value beritanya lebih kuat, saya kembali dipersilahkan menunggu sang owner untuk menjadi narasumber. Saya pun berinisiatif untuk jalan – jalan ke Bandung Indah Plaza yang tak begitu jauh dari lokasi outlet itu. Setelah melewatkan sholat Dzuhur di Jalan Wastukencana, saya pun bergegsa kembali ke tempat itu, berhubung waktu yang di janjikan sang manajer sudah mendekati.

Saat akan diperkenalkan dengan sang owner itulah, perlakuan kurang menyenangkan, saya dapati. “Majalah apa sih itu?” tanya sang owner dengan mimik muka datar. Sang Manajerpun memperlihatkan Majalah yang sudah saya berikan sebelumnya. ” diwawancaranya bayar ya ini ?” kembali sang owner bertanya, masih dengan ekspresi yang sama. Sang manajer dengan mimik muka bertanya, memandang saya yang berdiri di dekat mereka, saya menggelengkan kepala. ” Nggak bayar bu” sang manajer melanjutkan perbincangan kaku itu dengan bos nya. “tapi saya lagi sibuk nih” kata sang bos lagi, tanpa ada keinginan menyambut saya, sekedar nanya nama atau basa – basi sekalipun.

“Saya minta waktu sekitar 10 menit saja mbak” kataku sedikit memelas kepada sang manajer, berharap dia bisa menaklukkan hati sang bos yang kembali sibuk dengan aktifitasnya menata beberapa barang yang terpajang di display outlet mereka. Ketika dia bergegas menuju si bos untuk menyampaikan permintaan saya, penolakan kembali dilontarkan  perempuan berusia 40 tahunan tersebut. “gak bisa, saya benar – benar sibuk, minta aja datang setelah lebaran”😦, kata – katanya jelas saya dengar, meskipun saya berdiri agak menjauh dari mereka.

Saya bermaksud mendekati sang owner, sekedar menjelaskan maksud saya, sekaligus menyampaikan, betapa saya sudah menunggunya hampir lima jam dan harus tidur di mesjid, untuk melakukan wawancara itu. Tapi Bahasa tubuh kurang setuju dari sang manajer membuat niat saya batal, saya juga takut, sang manajer justru dapat masalah dengan kenekatan saya. Dalam kapasitas hubungan antara narasumber dan pewawancara, penolakan itu sah adanya, bahkan dijamin oleh undang – undang. Hanya saja, dalam konteks hubungan antara sesama manusia, perlakuan tersebut mambuat saya seperti lunglai.

Di bawah terik Matahari, saya pulang dengan langkah lemah. Mungkin saya salah tak meminta sang manajer menelpon sang owner untuk meminta pesetujuan sebelumnya. Tapi apapun itu, perlakuan kurang bersahabat dari perempuan yang fotonya terpampang bersama presiden SBY di salah satu sisi ruangan outletnya itu, membuat saya masygul seketika. Cobaan saat puasa yang cukup berat. Tapi saya berusaha ber positif thinking. Pun saya tak ingin ikut – ikutan mencap ibu yang kebetulan beretnis mata sipit itu sebagai personifikasi dari kalangan mereka.

Sekali lagi, berlaku baik atau kurang baik, bisa dilakukan oleh siapa saja. Sehari sebelumnya, dengan maksud yang sama, yakni melakukan wawancara jurnalistik, saya bertemu dengan narasumber yang kebetulan dari etnis yang sama, tapi saya mendapatkan perlakuan yang sangat kontras. Ibu Lany, pemilik Lavie Baby Shop di Jalan Imam Bonjol Bandung yang menjadi narasumber saya, menyambut dengan sangat ramah dan bersahabat ketika saya menemuinya. Sepanjang wawancara, perempuan bertubuh mungil itu, tak henti – hentinya menebar senyuman dan sesekali bercanda. Bahkan, saat akan pulang setelah melakukan interview, dirinya meminta sopir pribadinya untuk mengantar saya sampai kerumah. Saya menolak dengan alasan masih pengen main ke sebuah mall di Bandung. Tak lupa ibu dua orang anak itu, memberi saya bingkisan dan takjil untuk berbuka puasa dijalan.

Bukan karena tawaran dan pemberian bingkisan itu yang membuat saya kagum dengan Ibu Lany. Ketulusan, sikap bersahabat dan segala niat baiknyalah yang membuat saya bisa sangat akrab denganya dalam pertemuan pertama kami. Good luck dan terima kasih tak terhingga Bu Lany, orang – orang sepertimulah yang sengaja atau tidak, selalu menebar cinta di muka bumi dan pelan – pelan mengikis stereotype buruk yang terlanjur tertanam di benak sebagian besar orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s