Ayah dan Radio

Saat lulus SMP dan baru akan duduk di bangku SMU, saya pernah dijanjikan oleh ayah saya sebuah radio transistor ( jhiyaaaa, ketauan banget sekolahnya era tahun berapa😀 ). Sebenarnya gak tua – tua banget angkatannya. Hanya saja, saat SMU saya memang bermukim disebuah perkampungan terpencil yang kalau saya boleh bilang, saat itu masih agak jauh dari hingar bingar peradaban. Ditambah kondisi ekonomi keluarga yang pas – pasan, jadilah radio transistor sebagai barang yang cukup mewah waktu itu.

Oh ya, Janji ayah saya itu diucapkannya ketika suatu waktu kami berkunjung ke rumah seorang family dan didapatinya saya sedang asyik mendengarkan celotehan seorang penyiar dari sebuah stasiun radio yang waktu itu masih menggunakan frekwensi AM. “yang penting kamu belajarnya rajin” begitu dia berujar.

Tahun pertama di sekolah, janji itupun saya tagih ke ayah saya. Karena alasan belum punya uang, ayah berjanji menunaikan janjinya pada tahun ajaran berikutnya. Tapi lagi – lagi dengan alasan yang sama, radio idaman itu tak bisa juga saya peroleh saat saya kelas 2.

Menjelang penamatan, saya sudah tak berani menyinggung janji ayah tersebut. Tak tega rasanya melihat dia setiap hari pulang dengan peluh disekujur tubuhnya demi menghidupi kami sekeluarga. Janji itu mungkin hanya akan menambah bebannya sebagai kepala rumah tangga. hanya saja, gagal mendapat radio transistor itu tetap menyisakan kekecewaan, tapi bukan untuk ayah saya. Saya hanya sedikit kecewa dengan keadaan yang seperti tak pernah bersahabat dengan keluarga saya, pikirku waktu itu.

Entah kenapa, janji Ayah saya itu, kembali teringat pagi tadi, ketika akan memulai aktivitas siaran yang menjadi profesi saya ketika kelar menempuh perkuliahan di sebuah perguruan tinggi swasta. Kekecewaan itu sudah hilang, yang ada justru rasa bangga. Ayah saya tak pernah bisa menepati janjinya soal radio transistor itu, tapi dengan segala peluh dan keringatnya, sosok petani kecil dari sebuah perkampungan terpencil itu telah berhasil menjadikan saya lebih dari seorang pendengar didepan sebuah radio transistor.

Untuk sebagian orang, siaran di radio bukanlah sebuah impian, seperti halnya profesi dokter, pengacara ataupun pengusaha. tapi yang saya tau, ayah saya selalu bangga dengan aktivitas yang saya tekuni sekarang. Sama bangganya saya memiliki seorang ayah yang tanpa kenal lelah, siang dan malam membanting tulang, demi anak – anaknya menjadi manusia yang lebih bermanfaat di masa depan. Lebih dari itu, perjuangan seorang ayah membuat saya sadar, bahwa jika kedua orang tua kita tak mampu memberi yang kita inginkan, sesungguhnya mereka telah melakukan yang terbaik untuk anak – anaknya. Yakinlah !

2 thoughts on “Ayah dan Radio

  1. i’m very proud with you……..karena dengan perjuangan hidup di masa lalu tersebutlah kita bisa hidup lebih fight dalam menjalaninya………keep spirit yaa huy……. :* :* :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s