Remembering You Dad !

Entah karena sudah keranjingan atau karena tak banyak pilihan lain, soto ayam depan kantor selalu menjadi pilihan menu makan siang saya sejak bekerja di sebuah perusahaan di bilangan jalan utan kayu, Jakarta Timur. Hari ini, selepas melaksanakan sholat jumat, soto gerobak milik sepasang suami istri itupun, kembali menjadi sasaran.

Hanya sesaat setelah saya duduk, seorang bapak datang bersama seorang anaknya yang ( maaf ) sepertinya cacat mental, mungkin juga autis atau bisa jadi mengalami gangguan kesehatan yang tak saya kenal. Yang jelasnya anak berusia sekitar 10 tahunan itu selalu menggerakkan beberapa anggota tubuhnya, seperti halnya tangan dan anggota badan lainnya, sehingga beberapa kali sendok yang dipegangnya hampir terlepas. Beberapa kali dia juga seperti berteriak.

Karena kondisi itu, Sang bapak harus selalu berada di sampingnya untuk mengawasi apa – apa saja yang mungkin akan dilakukan dan bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Entah gangguan kesehatan apa yang dideritanya, saya tak berani bertanya dan hanya sesekali bertukar senyum dengan sang bapak ketika anaknya mulai bertingkah aneh.

Saya tak sempat ngobrol dengan bapak itu, dan tak ada niat menanyakan perihal apa yang dialami anaknya, takut dia tersinggung dan kurang nyaman. Hanya saja sesaat saya berpikir, betapa sabarnya bapak itu. Saya yakin apa yang diderita anaknya merupakan bawaan lahir dan dia sudah pasti terus mendampingi sang anak setiap saat dan setiap hari, Sejak anaknya bisa beraktifitas seperti anak – anak lainnya.

Terlihat benar dimata bapak itu, raut wajah penuh kesebaran dan kasih sayang. Tak ada mimik muka kesal, setiap anaknya bertingkah aneh lagi. Entah karena sudah terbiasa, atau sang bapak memang telah melewati ujian kesabaran yang panjang dan sampai pada sebuah titik dimana kondisi itu diterimanya sebagai sebuah kelaziman. Sebuah Takdir.

Saya tiba – tiba teringat dengan Seorang bapak dengan tubuh ringkihnya yang tak bisa berbuat banyak lagi diusia tuanya. Aktivitasnya lebih banyak dilakukan dirumah, setelah bertahun – tahun terik matahari memanggang tubuhnya. Di sepanjang usianya, dia telah mencurahkan segala tenaga dan kasih sayang demi anak – anaknya menjadi orang yang lebih baik dimasa depan. Dia tak memiliki anak yang kurang normal. Tapi saya selalu yakin kesabaran dan kasih sayangnya, sama seperti yang ditunjukkan oleh bapak yang sedang menemani anaknya makan soto di tengah pengapnya udara jakarta itu, saya yakin betul. Karena kasih sayangnya telah saya rasakan. Dia adalah ayah saya. ( Miss You and pride of you Dad ! )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s