Jakarta Memilih

Akhir – akhir ini, Jakarta yang memang tidak pernah mati, semakin disibukkan oleh persiapan event lima tahunan bernama Pilkada. Ya, Jakarta akan memilih pemimpin baru. Bisa jadi benar – benar baru, atau Gubernur lama yang dihasilkan oleh sebuah pemilihan umum yang baru.

Sebagai orang yang mencari hidup di Jakarta, sedikit banyak saya mengikuti hingar – bingar jelang pemilihan yang atmosfirnya kadang panas dingin , penuh intrik, saling serang bahkan tak jarang disertai hujatan ala suporter sepakbola terhadap keseblasan lawan. Maklum sajalah, itulah demokrasi kita, itulah Indonesia.

Sengaja atau tidak sengaja, sebagai penghuni ibu kota, kerapkali saya menyaksikan fenomena menarik yang kadang memancing bibir saya untuk sedikit tersenyum, menciptakan kerutan spontan di kening dan dahi saya yang memang sudah berkerut atau membuat hati nurani saya sedikit berontak.

Betapa tidak, beragam pola tingkah kandidat atau pendukung mereka, mewarnai ruang publik jakarta. Mulai dari spanduk dukungan yang terpasang di pinggir kali, sampai iklan kandidat bernilai milyaran rupiah yang wara – wiri di layar kaca. semunya mengundang animo dan perhatian kita. Ya, karena pesan itu memang sengaja dibuat untuk menarik perhatian dengan harapan meningkatkan aksepsibilitas, popularitas  dan elektabilitas calon pemimpin, tentu dengan biaya yang menguras isi tas🙂. Tidak  salah jika pesannya kadang nyeleneh, sedikit menohok atau malah dibuat sevulgar mungkin.

Simak saja slogan salah satu pasangan kandidat dengan bunyi ” Jangan Biarkan Jakarta Berkumis lagi, Berkumis ( Berantakan, kumuh dan miskin )”. Tanpa bermaksud menuduh, ada pesan tersirat dalam slogan itu yang jelas – jelas ditujukan ke kandidat incumbent Fauzi Bowo ( saran saya, foke segera potong kumis deh😀 )

Pada sebuah debat kandidat di salah satu Tv swasta, salah satu pasangan calon pemimpin jakarta tak pernah berhenti menghujat pasangan incumbent dengan berbagai cara. Hal itu dilakukannya sepanjang debat berlangsung, sampai saya yang kebetulan nonton, tidak mendapatkan referensi sedikitpun tentang apa saja hal – hal positif yang pernah dilakukannya. Tidak ada yang salah dengan kritik dan hujatan, toh itu tidak dilarang dalam aturan formal, pun mungkin dalam etika berdemokrasi kita.

Tanpa bermaksud membela siapa – siapa, menghujat mungkin harus disertai dengan solusi alternatif dan kalau bisa prestasi yang sudah pernah kita raih sebagai pengkritik. Karena jika tidak, kita akan terjebak dalam pribadi yang sedang berusaha meninggikan posisi kita dengan cara merendahkan posisi orang lain.

Dalam konteks Pilkada, pemilih akan lebih terkesan dengan pretasi yang pernah kita raih ketimbang sikap kita yang terus – terusan menyerang kandidat lain. Pertanyaanya adalah, ketika kandidat yang kita serang tidak dipilih karena hujatan kita, apa otomatis sang voters akan beralih mendukung kita ?  i don’t think so.. saya yakin setiap pribadi punya cara sendiri menilai sosok pemimpin yang baik.

Di tempat kita beraktivitas, dilingkungan pergaulan dan dimana saja, akan sering kita temui pribadi dengan karakter serupa. Bukan hanya tidak elegan, tapi kita tentu sepakat kalau cara – cara seperti itu, tidaklah bisa disebut terhormat. Selamat memilih, Jakarta !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s