IBU

Apa pendapat anda tatkala seorang laki – laki menangis ? terlihat cengengkah ? lemah atau menurut anda wajar saja laki – laki meneteskan air mata ?. Apapun jawaban anda, saya harus jujur kalau saya baru saja menangis, ya menangis.

Gara – garanya adalah tayangan televisi bertajuk “Catatan Si Olga”, sebuah reality show yang dipandu artis yang lagi naik daun, Olga Syaputra. Dalam tayangan itu, Olga yang menjadi tokoh sentral, mewawancarai seorang Ibu berusia sekitar 70 tahun yang sehari – hari menjajakan dagangannya ke beberapa tempat di Jakarta. Ibu itu memiliki 3 orang buah hati dan semuanya meninggal ketika ketiganya masih anak – anak. Pun suaminya tak berumur panjang dan membuat perempuan bernama Sutinah itu tak memiliki keturunan dan tumpuan hidup di senja usianya.

Hidupnya bergantung pada keuntungan jualan yang kadang malah impas dan tak jarang merugi. Padahal setiap harinya, Ibu pedagang kue tradisional itu, harus berjalan berpuluh – puluh kilometer menembus keruwetan Jakarta, menerobos kepadatan lalu – lintas dan menyeberangi rel kereta api demi melawan kebringasan hidup ibu kota. Hasilnya tak sebanding, perempuan tua yang matanya sudah tak berfungsi maksimal itu, malah sering ngutang untuk makan dan membayar sewa kamar kontrakan bertarif 200 ribu plus 25 ribu rupiah untuk bayar listrik.

Tapi Ibu itu tak pernah mengeluh. Yang membuat dia menangis saat interview bukan karena kerasnya perjuangan yang dia hadapi sejak suaminya meninggal, tapi karena dia merasa hidupnya begitu sepi tanpa siapa – siapa. Mari melupakan fakta bahwa banyak reality show yang sebenarnya minim unsur “reality” nya ! Apapun itu, Tayangan tersebut, sesaat mencabik – cabik nurani kemanusiaan saya dan mungkin juga jutaan pasang mata yang menyaksikannya di waktu bersamaan.

Sungguh tayangan yang menyentuh dan mengingatkan saya pada satu kisah tentang seorang Ibu yang memiliki profesi sama sebagai pedagang kecil, bedanya Ibu kedua ini berjualannya di sebuah pasar. Tapi saat pembeli lagi sepi, dagangan itupun harus di bawa berkeliling kota atau dari kampung ke kampung untuk mencari sedikit untung, minimal tidak rugi. Sama dengan Ibu Sutinah, pedagang pasar itu juga memiliki penglihatan yang tak sepenuhnya berfungsi, tapi itu bukan kendala. Kedua Ibu itu memiliki semangat yang sama : hidup itu kerasa dan harus diperjuangkan.

Tak jarang Ibu kedua itu kembali kerumah dengan peluh disekujur tubuhnya atau kuyup saat hujan tak terhindarkan. Ibu kedua itu memang tak setua Ibu Sutinah di acara Catatan Si Olga. Dia pun beruntung masih memiliki empat orang anak dan suami yang seorang petani biasa. Kerja keras Pasangan petani dan pedagang kecil itu menghidupi dan menyekolahkan anak – anaknya yang selalu saya saksikan di masa kecil. Kenangan yang membuat saya terbawa perasaan dan tak sanggup membendung butiran bening yang tiba – tiba jatuh di sudut mata saya, karena mereka adalah orang tua yang melahirkan saya, Ibu kedua itu adalah Ibu saya !

2 thoughts on “IBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s