Para Pengamen dan Kita

Pertanyaan Penyiar Radio Rase FM Bandung pagi ini, membuat nurani saya tergelitik. “Seberapa seringkah anda memberi duit untuk pengamen ?”. Ketika saya mengikuti beberapa komentar tweeps yang menjadi follower akun twitter radio tersebut, jawabannyapun sangat beragam. Ada yang menjawab sekenanya, ada yang serius dan beberapa diantaranya menimpali pertanyaan tersebut dengan guyonan.

Saya sendiri termasuk pengguna jalan yang kalau bisa diklasifikasikan, mungkin masuk kategori  “sering”. Tapi kebiasaan ini hanya saya lakukan untuk pengamen, bukan pengemis. ( pengecualian untuk pengemis yang memang dalam kondisi tak berdaya secara fisik ). Menurut saya, kerja pengamen itu lebih ril dan tidak berharap belas kasihan semata, meski sebenarnya banyak pengamen yang nyanyi sekenanya aja, tanpa penghayatan apalagi memperhatikan pitch control he.he.he..

Tapi benar juga, setiap saya memberi recehan atau lembaran rupiah untuk mereka, Jumlahnya kadang tergantung seberapa nyaman saya menikmati lagu yang mereka bawakan. Bagaimanapun, setiap pekerjaan termasuk mengamen, juga mengandung unsur service ( pelayanan ). Dalam ilmu bisnis, satisfaction akan melahirkan feedback yang baik dari penerima layanan ( costumer ). Oh ya.. Saya sering ngasi jumlah paling sedikit untuk pengamen yang membawakan lagu tentang perselingkuhan, karena perselingkuhan itulah yang menghancurkan hidup kita.. hmmm

Saat saya mencoba melihat kembali jawaban – jawaban di akun twitter radio kesayangan saya itu ( hallahh.. ). Lebih banyak jawaban pendengar memang mengerucut pada satu poin “kalau lagunya enak mah, gua pasti ngasihhh “. Nilai “enak” mungkin relatiflah ya, karena semua orang memiliki selera musik masing – masing. Namun enak secara general, dapat diartikan bahwa sang penyanyi membawakan lagunya dengan baik, soulful dan penuh penghayatan. Semangatnya adalah sang pengamen bernyanyi dengan sungguh – sungguh. Dan ternyata kesungguhan itu, meskipun mungkin suaranya gak bagus – bagus banget, membuat saya dan banyak orang ( setidaknya para pendengar radio itu ) tergerak untuk tidak segan – segan berbagi.

Ya karena kesungguhan itu menunjukkan keikhlasan dalam melakukan aktivitas apapun. Keikhlasan dalam bekerja dan berbuat, Insya Allah akan berujung berkah. Meskipun Berkah tak harus diukur dari hasil yang terlihat, tapi pengamen – pengamen yang mampu menghibur itu telah membuktikannya.  Selamat hari jumat kawan !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s