Most Wanted : Irwan

Seorang rekan saya pernah berucap seperti ini “tak usah khawatir kehilangan teman, mati satu tumbuh seribu”. Meski waktu itu saya tak menyanggah langsung, tapi dari dasar hati yang paling dalam, sejatinya saya kurang setuju. Setiap manusia memiliki keunikan karakter masing – masing. Ketika kita memiliki seorang sahabat, lantas kemudian berpisah, bisa jadi kita tak akan pernah lagi punya teman sepertinya, sampai kapanpun. Keunikan karakter seseorang, akan membentuk karakteristik hubungan yang unik pula.

Pernahkah anda punya seorang teman atau mungkin sahabat lalu berpisah dan kemudian tak pernah bertemu lagi sampai sekarang ? teman SD atau teman kerja mungkin ? Saya pernah mengalaminya. Dulu saya punya teman di Bandung, namanya Irwan. Saya kenal Irwan karena kebetulan kamar kami bersebelahan di sebuah rumah kost di bilangan Mekar Sari Bandung. Karena saya terbilang baru tinggal di Kota Kembang, jadilah Irwan ini tempat saya bertanya tentang berbagai hal, seperti nama jalan, tempat – tempat penting, jalur angkot, warteg sampai tempat nongkrong yang paling oke.

Belakangan kami semakin akrab dan menjadi sahabat dekat, teramat dekat. Jujur ketika itu Irwan sering memberikan pinjaman duit tatkala gaji belum diterima dan persediaan logistik semakin menipis. Pun sebaliknya, ketika saya sedang berkecukupan dan Irwan sedang butuh pertolongan dalam bentuk uang, saya kerap hadir sebagai donaturšŸ™‚. Kami juga sering share dalam berbagai hal, bercanda bahkan curhat soal pasangan masing – masing , chiyaileešŸ™‚ ).

Sampai suatu waktu, kami harus berpisah. Irwan menyelesaikan studinya di UPI bandung dan pulang kekampung halamannya di Garut, sayapun harus kembali ke Makassar karena suatu persoalan yang membuat saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di daerah asal saya tersebut. Saya masih ingat kata – kata yang diucapkan Irwan saat mengantar saya ke stasiun kereta api. ” ketika kamu sudah minum air dari tanah parahiyangan, kamu akan kembali lagi suatu saat nanti”. Saya tau teman saya itu sedang guyon, karena tentu tidak semua orang yang pernah datang ke Bandung, lantas kembali lagi pada suatu hari kelak.

Sejak perpisahan itu ( hiks,. ) dalam beberapa waktu kami masih sering ngobrol via telepon. Tapi pada suatu saat yang saya tidak ingat lagi momentumnya, kami lose contact. Sampai sekarang !.

Guyonan tentang air tanah Parahiyanagan, mungkin ada benarnya. Buktinya sekarang saya kembali berdomisili di kota berhawa sejuk ini. Bedanya,Ā  tanpa kehadiran seorang Irwan, seorang sahabat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Nomer telepon rumah dan telepon selulernya tak lagi saya miliki. Pun Irwan tentu sudah tak memiliki nomer handphone saya. Tapi saya yakin dia masih mengingat saya seperti saya terus mengingatnya sebagai seorang sahabat terbaik yang pernah saya punya. Tuhan selalu punya cerita untuk perjalanan anak manusia. Saya hanya berharap suatu waktu ketika saya sedang menyusuri jalan di ibu kota Jawa Barat ini, seorang laki – laki dengan penampilan parlente, turun dari sebuah mobil mewah lalu menyapa saya dengan sebuah sebutan yang tak akan pernah saya lupa, “ti mana wae atuh laki – laki pemakangĀ  ikangšŸ™‚ “ begitu Irwan sering menyapa dan meledek saya sebagai orang Makassar. Enam tahun bukan waktu yang pendek, dan saya berharap engkau sudah menjadi orang besar kawan !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s