Demo atau demo ?

Ada yang berbeda ketika saya menginjakkan kaki di kantor hari ini. Sambutan teman – teman saya lain dari biasanya, lebih rame. Rupanya berita tentang aksi demonstrasi di Makassar, plus insiden bakar mobil coca – cola dan penjarahan tabung gas elpiji 3 kg sedang menjadi hot issue saat saya nongol. Kontan saya menjadi sasaran ledekan mereka. “Kampung kamu tuh rusuh meluluu, capek deh”.

Demo berujung rusuh tentu bukan kabar baru untuk saya yang paham betul karakter keras khas bugis makassar yang kerap berujung pada tindakan anarkis. Tapi tak urung berita penjarahan dan pembakaran mobil itu membuat saya sedikit shock. sesaat saya berpikir, mungkin saja aksi itu disusupi oleh “perampok” yang kemudian bergabung dengan mahasiswa, atau memang mahasiswa yang sedang melakukan aksi, lepas kontrol lalu bertindak laksana perampok. Saya hanya berharap semoga dugaan pertama saya yang benar.

Kembali ke soal demo. Tak ada yang salah dengan aksi itu. Sistem demokrasi yang kita anut, memberi garansi kepada setiap warga negara untuk berpendapat dan berekspresi dengan leluasa. Belum lagi kalau berpendapat itu dilakukan untuk membela kepentingan rakyat seperti pada isu kenaikan harga BBM. Tapi apakah membela kepentingan rakyat hanya bisa dilakukan untuk rencana kenaikan harga BBM ? Apakah nasib rakyat itu hanya persoalan BBM semata?

Saya teringat dengan tulisan dari sebuah buku yang mengungkapkan betapa aksi demonstrasi mahasiswa belum pernah berhasil mengubah kebijakan pemerintah dalam hal rencana kenaikan harga BBM. Sementara korban dari aksi itu mungkin juga tidak sedikit yang berasal dari rakyat yang mereka bela.Sorotan betapa aksi demonstrasi kerap malah merugikan rakyat ketimbang meringankan beban rakyat mungkin teramat klise dan kerap dilontarkan oleh siapapun ketika menanggapi aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa.

Saya hanya membayangkan ketika para mahasiswa itu rame – rame mendemo pemerintah di Provinsi Banten karena tak segera memperbaiki jembatan yang semestinya digunakan oleh anak – anak SD dan SMP di siswa sekolah dasar (SD) dan SMP di Kampung Ciwaru, Kabupaten Lebak, Banten ketika mereka harus kesekolah, dan kemudian mereka berhasil menggugah atau memaksa pemerintahnya untuk segera menyiapkan jembatan yang lebih safety, pastilah mereka akan menjadi pahlawan. Bukan hanya untuk anak – anak yang harus bergelantungan ketika ke sekolah itu. tetapi mereka adalah pahlawan kemanusiaan. Dan itu lebih bernilai. Atau memaksa pemerintah merevisi aturan tentang keberadaan minimarket dan berhasil melindungi nasib pedagang tradisional dipasar – pasar kecil. Saya yakin persentase keberhasilan tuntutannya akan lebih besar.

Mungkin para demosntran, saya dan kita yang pernah menjadi mahasiswa terlalu terobsesi untuk memperbaiki bangsa ini. Cita – cita itu adalah misi yang teramat mulia, bahkan harus dipupuk setiap saat. Namun berbuat sesuatu yang lebih realistis tentu perlu dipertimbangkan jika benar – benar ingin membela nasib rakyat. Saya takut, Cita – cita kita memperbaiki nasib rakyat kecil hanya berputar – putar di Isu kenaikan harga BBM, bakar ban, merusak pagar, bakar mobil, menjarah dan kemduian hilang dengan sendirinya. Kemudian kita muncul lagi beberapa tahun kemudian untuk membela rakyat ketika harga BBM akan dinaikkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s