Ibu dan Jakarta

Mungkin seperti di kampung lainnya, di kampung saya, level kesuksesan seseorang kerap diukur dari kemampuan memberangkatkan orang tuanya ke Tanah Suci. Minimal satu orang diantara mereka. Di kampung saya, ukuran tak tertulis itu sudah berlaku turun temurun. Dan meskipun hanya sebuah dusun kecil, sudah banyak orang tua dikampung kami yang bergelar Haji berkat kesuksesan anak – anaknya.

Satu yang saya kagumi dari tempat kelahiran saya itu adalah fighting spirit para orang tua menyekolahkan anaknya meski mereka hanya bekerja sebagai petani, nelayan dan pandai besi. Orang tua saya pun demikian. Dengan susah payah, mereka menyekolahkanku hingga tingkat Perguruan Tinggi. Seperti orang tua kebanyakan di kampung, orang tua saya pun tentu bercita – cita ingin ke Tanah Suci. Beberapa kali hal itu disampaikan oleh Ibu saya dengan nada bercanda. Ya, bercanda, mungkin beliau tau, pekerjaan anaknya belum memungkinkan untuk membantu mewujudkan cita – citanya.

Suatu waktu ketika habis mudik dan akan kembali ke Makassar, Soal naik  haji kembali menjadi bahan becandaan. Ibu saya waktu itu bilang seperti ini ; kalau gak bisa Mekkah, Jakarta juga gak apa – apa, heheheehee,. saya tau beliau hanya guyon. Tapi cita – cita suatu waktu ibu saya bisa melihat gemerlap ibu kota, akhirnya terpatri di dada saya. `pasti bisa` gumamku waktu itu.

Dan Sekarang, cita – cita itu hampir pasti bisa saya wujudkan. Keangkuhan Jakarta telah saya kalahkan. Pekerjaan membuat saya bisa empat kali dalam sebulan menyambangi Kota sejuta impian ini. Jarak dari Kota Kembang Bandung tempat saya bermukim sekarang, tidaklah menjadi masalah untuk cita – cita terpendam itu.

Sayang, semuanya sudah terlambat. penyakit yang diderita Ibu saya membuat matanya tak lagi berfungsi normal. Sejak mudik itu, dia bahkan tak bisa lagi melihat kami anak – anaknya ketika memiliki waktu untuk pulang kampung. Becandaan tentang Jakarta itu rupanya saat terakhir kami bisa saling bertatap. `hari ini aku akan meeting bu, di Jakarta, tempat yang pernah ingin kau lihat`. Aku telah menaklukkannya untuk Ibu !! ( Catatan kecil sebelum berangkat kerja )

2 thoughts on “Ibu dan Jakarta

  1. jakarta ga sebagus yg dipikiran ibu kamu…mungkin jakarta memang ibu kota…tapi kalo dari segi kenyataannya jakarta ibarat ibu tiri kejjaaaamm!!!😀

    disini ga ada ketenangan seperti yang dirasain dikampung sana..bangun pagi disana mendengar suara kokok ayam tapi dijakarta suara knalpot kendaraan,disana melihat kabut pagi hari yang sejuk,disini kabut polusi,disana suara ombak pantai,disini suara gemuruh penggorengan dan panci ibu rumah tangga yang buru2 dikejar waktu antara keluarga dan kerja…ga ada enjoy..ga ada damai..but this is my home,however i love jekardah😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s