Ibu Euis

Setelah hunting dua hari, Akhirnya saya berhasil mendapatkan sebuah rumah kost di kawasan Dago Bandung. Tempatnya lumayan, harganya terjangkaušŸ˜€ dan mau kemana – mana gampang. Meskipun sebenarnya tempat baru saya itu terletak di pinggiran kota, bagian utara kota Bandung.

Dalam rangka pencarian tempat kost inilah, sehari sebelumnya saya berkesempatan mengunjungi daerah Mekar Sari. Tempat saya bermukim sekitar lima tahun lalu saat masih bekerja di Kota Kembang. Dengan maksud bernostalgia, sayapun menyambangi rumah kost yang Ā dulu saya tempati sambil harap – harap cemas masih ada kamar yang kosong. Sayang, semua kamarnya penuh. Setelah berbasa – basi dengan mantan ibu kost, sayapun bergegas.

Masih di dalam kompleks, saya kemudian menyinggahi sebuah warung kecil tempat kami anak – anak kost sekitar situ, dulu sering berbelanja tengah malam saat lapar mendera. maklum, si ibu Euis nama pemilik warung kecil yang sehari – hari jual rokok, mi instant, dan berbagai macamnya itu, kerap masih melek sampai jam satu dini hari. Sayang, ternyata warung kecil itu sudah tutup permanen meski saya masih mendapati Ibu Euis menyapu halam rumah yang memang berdekatan dengan warung tersebut.

“Ehhh, timana wae atuh kasep ?” Ini yang saya suka dari Ibu Euis, selalu memanggil saya dengan sebutan Kasep ( Ganteng )šŸ™‚ . Ā Meski belakangan saya tau, Semua anak – anak kost yang kerap belanja disitu, dipanggil dengan sebutan yang samašŸ˜¦ . Senang juga bisa ketemu sama ibu yang sangat ramah itu, meski kemudian perasaan saya berubah masygul mengetahui dia tutup warung sekitar dua tahun lalu dengan alasan jualannya kurang laris.

“Disini sudah banyak mart – mart itu lhoo ( maksudnya mungkin mini market ). Orang – orang sini lebih suka belanja disana, padahal bedanya cuma 100 perak”. Yaa.. sekarang ya begini ini. Nganggur aja sehari – harinya” Begitulah curhat Ibu Euis saat kami ngobrol didepan pagar. Sejurus kemudian saya tau kalau sebentar lagi ibu dua orang anak dan 5 orang cucu ini akan segera pindah ke Bekasi ikut salah seorang putranya yang kerja disana.

Ditempat lain, mungkin banyak Ibu Euis yang lain yang harus tergusur karena kehadiran Super market dan mini market yang bertebaran disudut – sudut kota. Beruntunglah, karena meskipun sudah ditinggal suami, anak – anak ibu Euis sudah berkeluarga sehingga dia Ā tidak lagi memiliki tanggungan hidup. Tapi bagaimana dengan pemiliki usaha kecil yang sama yang mungkin masih sangat bergantung pada warung kecil mereka. Berapa orang yang kembali menjadi pengangguran baru jika kemudian diantara mereka banyak yang bernasib sama dengan Ibu Euis ?. Berapa orang anak – anak yang terpaksa putus sekolah karena ibu atau bapak mereka tutup warung ? Semoga mereka tidak gelap mata lalu Ā menjadi pelaku kriminal, Semoga…

Betul bahwa kehadiran mini market, super market dan apapun namanya adalah bagian dari kemajuan peradaban yang harus diterima sebagai sebuah konsekwensi zaman. Tapi persoalan kompetisi antara pedagang kecil dan mini market bukan sesuatu yang tidak bisa diatur kan ?. Perdagangan bebas bukan berarti membiarkan para pedagang kecil itu head to head dengan pemilik modal besar, lalu mereka bertarung bak David dan Goliath.

Mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan, mungkin sesuatu yang sulit meski tidak bisa disebut mustahil. Tapi kan gak semua dari kita memiliki power untuk itu. Tapi yakinlah, kita masih bisa berbuat sesuatu untuk mereka dengan merelakan selisih harga warung kecil dan minimarket yang 100 perak itu lalu berbelanja di warung ibu – ibu euis yang lain.Ā itu masih lebih baik ketimbang semakin memperlebar kesenjangan dengan menyambangi mini market untuk memperoleh kebutuhan yang sebenarnya bisa diperoleh dekat rumah kita, di warung – warung kecil yang mungkin masih tersisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s