Kita dan Afriyani Susanti

Selain Nunun Nurbaetie, M. Nazaruddin, Miranda Gultom, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin yang sedang digoyang oleh Komite penyelamat Sepakbola Indonesia dan saya yang tidak bisa pulang kampung karena sedang musim ombak. Afriyani Susanti, pelaku Tragedi Xenia itu, adalah orang yang sedang dalam kondisi sangat tertekan saat ini. Betapa tidak, perempuan tambun itu sedang menunggu detik – detik dimana dirinya akan menjadi salah seorang penghuni baru lembaga pemasyarakatan.

Tidak hanya itu, teror dari mereka yang tiba – tiba tercabik – cabik rasa kemanusiaannya, hingga hari ini terus berlangsung. Beruntunglah kita memiliki ruang bernama Social Media semacam Twitter dan Facebook untuk  menumpahkan caci maki, amarah, dendam dan seribu satu sebutan untuk  Afriayni. Tidak ada yang salah dengan apa yang sedang kita lakukan, menghilangkan 9 nyawa dalam waktu beberapa saat memang terdengar sangat tidak manusiawi jika tidak boleh disebut sadis.

Berada di jalan raya ( di Indonesia ) memang menhadirkan bermacam kengerian. Suatu waktu kita bisa menjadi korban, tapi dilain kesempatan, bisa jadi kita adalah pelaku kengerian itu, seperti yang dialami oleh Afriyani Susanti. Penekana kata Indonesia pada kalimat sebelumnya sangatlah penting, Ya.. karena dinegara kita ini, hak hidup dan hak – hak pribadi bahkan hak asasi manusia di jalan raya, bukanlah sesuatu yang urgent untuk diperbincangkan. Berlebihan memang jika kita menyebut hukum rimba lebih benyak diterapkan di jalanan, karena disetiap sudut jalan masih kerap kita temui aparat kepolisian yang berjaga.

Tapi tengoklah betapa kejamnya jalan raya kita. Seorang pengemudi dengan seenak udelnya menorobos lampu merah. Areal Pedestrian yang di buat untuk pejalan kaki, habis dirampas oleh pedagang kaki lima, tukang tempel ban sampai penanam modal sekelas pengusaha hotel yang menggunakannya sebagai lahan parkir. Alhasil, pejalan kaki seperti saya terpaksa menggunakan bahu jalan untuk menuju suatu tempat. Ketika kita melintasi jalur satu arahpun, belum tentu keselamatan kita benar – benar terjamin. Pengguna jalan yang tiba – tiba melawan arah adalah hal yang lazim. Lalu sudahkah peraturan lalu – lintas kita memberi hukuman berat kepada para pengemudi yang menyetir kendaraan dalam kondisi mabuk, atau bahkan baru saja menggunakan narkoba ? aturannya pasti ada, tapi apakah itu diterapkan ?

Kemudian, Apakah Pemerintah kota atau daerah pernah mempersoalkan areal pejalan kaki yang digunakan tidak lagi pada peruntukannya ? yang lebih banyak terjadi adalah pembiaran. Berapa Anggaran yang disiapkan pemerintah daerah untuk pengadaan areal pedestrian dan jembatan penyebrangan ? Jika pertanyaan – pertanyaan ini belum menemukan jawaban yang semestinya. Maka Tragedi Xenia suatu waktu masih bisa terjadi. Dan sekali lagi, korban atau pelakunya bisa saja salah seorang diantara kita.

Lalu untuk apa kita mencaci maki atau meminta Afriyani  dihukum gantung sekalipun ?. Sementara kita tak pernah mau menggugat mereka yang memberi andil terciptanya kengerian di jalan raya. Tak pernah sadar jika kebiasaan kita ber SMS diatas kendaraan adalah pemicu terciptanya tragedi baru di jalan raya.

Bukan ingin menciptakan pembenaran atas apa yang dilakukan Si Neng Afri, tapi rasanya sangat sia – sia seribu satu cercaan untuk pelaku tragedi di Tugu Tani itu jika persitiwa tersebut tidak menciptakan kesadaran baru di hati kita masing – masing. Dihati kita sebagai pengguna jalan, di hati pemerintah sebagai penyedia infrastruktur yang berpihak pada keselamatan pengguna jalan dan pada Pak Polisi yang harusnya memberi efek jera pada mereka yang melanggar peraturan lalu – lintas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s