Senjakala Radio ?

Adalah data dari Perhimpunan Perusahaan Periklanan Indonesia ( P3I ) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2011, media radio hanya meraih 0,2 persen dari total budget iklan nasional yang mencapai 80 trilliun rupiah. Televisi masih menjadi jawara dengan serapan 60 persen dari total belanja iklan nasional selama 2011. Setelah media audiovisual yang mendominasi perolehan kue iklan, koran berada dibawahnya dengan serapan perolehan iklan sebesar 30 persen. Selanjutnya, belanja iklan di peroleh majalah dan tabloid, sebesar 2,7 persen. Data ini jelas menunjukkan adanya ketimpangan dalam perolehan iklan oleh media – media yang ada, terutama antara radio dan media konvensional lainnya. Dalam hal distribusi secara geografis, radio terutama stasiun radio di daerah, juga mengalamai nasib yang kurang menguntungkan. Iklan masih terkonsentrasi pada radio – radio yang berbasis di ibu kota dan daerah Jawa pada umumnya.

Data dari Perhimpunan Perusahaan Periklanan Indonesia ini, tentu menjadi kabar kurang sedap untuk segenap insan penyiaran radio yang sejauh ini tetap setiap di dunia cuap – cuap tersebut. Malah, masih menurut data P3I, perolehan kue iklan untuk radio ini diperkirakan akan menurun pada tahun – tahun selanjutnya. Tidak salah jika banyak media radio terutama di daerah yang diambang kegamangan. Meski demikian, Terlalu dini untuk mengatakan bahwa radio akan mati layaknya kepunahan komunikasi pager pasca kehadiran mobile phone, atau ditinggalkannya social media semacam friendster ketika facebook dan twitter muncul.

Radio masih terus eksis, namun berlebihan jika kita berharap siaran radio masih akan terus menjadi pilihan penikmat hiburan dan konsumen informasi. Secara global radio sedang berada pada situasi yang kurang menguntungkan. Why ? apalagi kalau bukan pergeseran pola konsumsi media khalayak yang terus bergerak seiring kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Sebuah fenomena yang meski tidak separah radio, tapi dampaknya sebenarnya juga dirasakan oleh Koran dan televisi.

Teknologi digital dan internet yang semakin marak telah membawa perubahan yang luar biasa pada pola perilaku umat manusia di planet ini. Dunia maya telah menjadi public sphere sekaligus melahirkan  life style baru , sebuah gaya hidup berbasis dunia maya. Pertumbuhan manufaktur dan elektronik di Asia Timur juga berkontribusi pada kondisi dimana siapapun dengan gampangnya memperoleh perangkat telekomunikasi canggih seperti smart phone dan semacamnya dengan lebih mudah dan murah tentu saja. Dalam waktu yang tidak terlalu lama,radio seperti terpinggirkan secara sosial dan bisnis.

Dalam hal memperoleh informasi, radio yang terkenal dengan aktualitasnya tak lagi menjadi satu – satunya alternatif. Masyarakat sedang disihir oleh kecanggihan teknologi yang bisa menghadirkan informasi terbaru bersifat data hanya dengan mengklik icon tertentu pada perangkat komunikasi yang mereka miliki.Google mampu memberi milyaran informasi dalam hitungan detik hanya dengan memasukkan kata kunci yang diinginkan. Belum lagi kalau kita bicara hiburan melalui musik, peran radio memiliki pesaing baru bernama mp3 player, ipod dan sejenisnya.

Ya,. radio memang tetap menjadi satu – satunya medium komunikasi massa yang mampu menemani audience sambil terus beraktivitas. Tak ada media massa lain yang bisa menjadi sahabat layaknya radio. Siaran radio dapat didengar sambil nyetir, mengerjakan pekerjaan kantor atau melakukan aktivitas keseharian lainnya. Fakta ini bisa jadi adalah jurus pamungkas radio jika tak boleh disebut sebagai romantisme. Ya, romantisme, karena mobilitas masyarakat yang terus meningkat membuat radio kadang tak berdaya untuk menjangkau audience.  Kondisi ini diperparah dengan maraknya program acara TV swasta yang ikut – ikutan menyita sebagian besar perhatian publik.

Terlalu dini untuk memvonis radio akan hilang dari peradaban. Namun jika menilik data dari beberapa lembaga survey yang menyebutkan betapa radio terus ditinggalkan oleh masyarakat, bukan tidak mungkin kotak kecil yang pernah digunakan oleh Bung Tomo untuk mengobarkan semangat perjuangan itu, akan hilang suatu saat kelak. Lalu apakah kita praktisi radio akan tinggal diam ?. Membangkitkan kembali gairah mendengarkan siaran radio bukan sesuatu yang mustahil. Salah satu kuncinya, ada di tangan para penggiat dan praktisi siaran radio itu sendiri. Banyak hal yang bisa dilakukan, namun pada akhirnya, Profesionalisme dan kreatifitas adalah faktor penting menjadikan radio tetap hadir dibenak masyarakat.

Di lingkup eksternal, kebijakan yang ada, juga harus menjamin terciptanya iklim usaha dan kompetisi yang sehat ditengah bertumbuhnya media saat ini. Antara radio pun harus ada garansi distribusi kue iklan yang lebih merata. Ini penting dilakukan ditengah keluhan stasiun radio didaerah, terutama yang tidak memiliki afiliasi atau bukan radio berjaringan, terkait perolehan iklan yang terus menurun dari tahun – ke tahun.Artinya Pemecahan masalahnya harus dilakukan dari hulu ke hilir. Mulai dari perbaikan kebijakan, upaya menciptakan iklim usaha dan kompetisi yang sehat sampai pada perlunya inovasi, kreatifitas dan profesionalisme seluruh praktisi siaran radio ditingkatkan.

Indonesian Radio Awards 2012

Menumbuhkan kreatifitas dan profesionalisme dapat dilakukan secara internal, namun sejatinya, juga menjadi tanggung jawab seluruh stake holder  dan pemangku kepentingan yang memiliki keterkaitan dengan siaran radio. Pemerintah, Komisi Penyiaran Indonesia ( KPI dan KPID ), PRSSNI, Institusi pendidikan dan NGO adalah elemen yang memiliki peran penting menyelamatkan radio dari keterpurukan. Kondisi inilah yang mendorong Lembaga bernama perhimpunan Pengembangan Media Nusantara ( PPMN ) memprakarsai Indonesian Radio Awards.

Indonesian Radio Awards ( IRA ) adalah program nasional satu-satunya dan pertama kali di Indonesia yang hadir memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi karya-karya terbaik khusus di dunia radio. Penghargaan ini dimaksudkan untuk mengangkat karir profesional di bidang radio menjadi semakin berkualitas dan makin diakui di tengah masyarakat luas. Reward untuk para insan radio dirasa penting karena, kreativitas dan profesionalisme yang menjadi semangat dalam pemberian penghargaan itulah yang sebenarnya menjadi kata kunci dalam mendekatakan kembali radio dan pendengarnya. Setidaknya mempertahankan keberadaan radio.

IRA pertama kali diadakan pada tahun 2009, dengan memperkenalkan dua jenis penghargaan, yaitu Jusuf Ronodipuro Award yang diberikan kepada jurnalis radio dan Ken Sudarto Award para kreatif iklan radio terbaik. Nama-nama ini diambil dari dua orang yang memberikan jasa sangat besar pada dunia radio. Kehidupan kedua mendiang tokoh nasional ini mencerminkan teladan dalam hal profesionalisme, semangat juang dan dedikasi yang tinggi pada dunia radio dan bangsa Indonesia yang harus diikuti oleh para profesional muda radio saat ini.

Pada penyelenggaraan IRA tahun 2010 yang kemudian menggandeng Aliansi Wartawan Radio Indonesia ( Alwari ) sebagai penyelenggara, IRA juga memberikan penghargaan karya drama radio terbaik dan penghargaan khusus yang disebut dengan Lifetime Achievement Award. Penghargaan ini diberikan kepada mendiang Ebet Kadarusman, atas pengabdian dan dedikasinya sebagai pembawa acara radio selama 50 tahun baik di dalam maupun di luar negeri. Selanjutnya dihadirkan pula penghargaan Inovasi Program yang bertujuan merangsang para praktisi siaran radio memunculkan ide – ide kreatif sehingga siaran radio memiliki daya tarik dan manfaat untuk pendengarnya.

Tahun ini Indonesian Radio Awards kembali digelar untuk keempat kalinya dan diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya karya – karya siaran radio berkualitas.  Adapun Hadiah yang diberikan kepada para pemenang IRA ditujukan untuk meningkatkan kualitas karya dan profesionalisme para pemenang dengan cara memberikan pengalaman profesional juga, yaitu dengan mengikut sertakan mereka dalam program kunjungan atau magang pada lembaga broadcasting internasional di luar negeri. Atau mengikutsertakan pemenang IRA di dalam event profesional regional / internasional yang berkaitan dengan radio. Informasi mengenai IRA 2012, selanjutnya dapat diakses di http://www.ppmn.or.id. ( ditulis untuk Kolom Opini Harian Tribun Timur )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s