BELAJARLAH DARI SUPORTER

Salut dan Luar Biasa, hanya kata itu yang bisa mewakili perasaan saya ketika melihat sebuah foto yang dikirimkan seorang teman di dinding facebook saya beberapa hari yang lalu. Fotonya biasa saja, gambar pendukung Persebaya Surabaya dan kelompok supporter The Macz Man asal Makassar, sedang bersalaman di pinggir lapangan Stadion Tambak Sari Surabaya. Gambar itu diambil sesaat sebelum Tim Juku Eja, PSM Makassar berlaga melawan Bajul Ijo, Persebaya Surabaya pada pentas Indonesia Primer League. Pemandangan yang menyejukkan di tengah cerita klasik persaingan abadi kedua kelompok suporter dan juga kedua klub di pentas sepak bola tanah air.

Tak hanya The Macz Man yang mendapatkan sambutan hangat dari Bonek, Jetmania dan Banaspati (suporter Persijap) juga mendapat perlakuan yang sama dari Boromania (suporter Persibo) jelang pertandingan Persibo melawan Persijap yang digelar di saat bersamaan. Sebelumnya  para Pasoepati terlihat berdampingan dengan Aremania saat penulis menyaksikan dari layar kaca, pertandingan Persija Vs Arema di Stadion Manahan Solo. Khusus untuk Islah supporter PSM Makassar dan Persebaya, Momentum itu seakan jadi titik kulminasi dari perseteruan kedua kelompok yang kerap kita temui ketika PSM Makassar dan Persebaya Surabaya bersua di lapangan hijau. Anda tentu masih ingat, bagaimana kedua kubu adu fisik di sekitar Gelora Bung Karno, di Pelabuhan Tanjung Priok, di stasiun kereta api dan dimana saja mereka kebetulan berinteraksi.

Menyaksikan kegilaan suporter, untuk Sebagian kita adalah perbuatan bodoh, Tapi bagi suporter fanatik, sepak bola adalah Dewa. Olahraga terpopuler di dunia itu adalah hidup mati mereka. Ketika sebagian besar orang berlomba mengejar kesuksesan karir dan berbuat baik demi kebahagiaan dan kemuliaan hidup, bagi supporter, mendukung keseblasan mereka dari pinggir lapangan adalah kebahagiaan dan kemuliaan yang tidak ternilai. Seorang supporter asal Makassar rela terlantar di atas kapal Pelni, terlunta – lunta di Jakarta dan menahan lapar disekitar stadion Gelora Bung Karno demi mendukung PSM Makassar berlaga di era perserikatan waktu itu.

Peristiwa Heysel menelan korban jiwa hingga 39 orang saat Final Liga Chmapions yang mempertemukan si nyonya tua Juventus dan Liverpool tahun 1985 lalu. Atas nama fanatisme dan kecintaan terhadap klub, mereka harus bersimbah darah ketika suporter The reds berusaha menerobos pembatas dan menyerbu pendukung La Vecchia Signora – Juventus. Tidak dieropa atau Indonesia, Seorang supporter sejati, rela mengorbankan segalanya bahkan mungkin nyawa mereka demi tim yang dibelanya. Sebuah bentuk fanatisme berlebihan, tapi demikianlah adanya.

Uniknya, ketika Timnas Indonesia sedang berlaga di Gelora Bung Karno, semua elemen suporter, bersatu padu mendukung Tim Merah Putih tanpa embel – embel warna dan kebesaran klub masing – masing. Terlepas dari fanatisme sektoral, nun jauh didasar hati para suporter, terdapat hasratyang sama untuk menggelorakan  sepakbola Indonesia. Mereka berseteru, saling caci dan saling benci, tapi dilain waktu mereka dipersatukan oleh sepak bola itu sendiri. Ketika bicara klub mari kita berseteru, tapi demi Indonesia mari kita tanggalkan ego masing – masing, mungkin seperti itu yang ada di benak mereka.

Perjanjian damai kelompok suporter akhir – akhir ini sering kita temui dari pemberitaan media – media lokal dan nasional. Iklim positif yang mulai terbangun ditengah minimnya prestasi sepak bola Tim Nasional Indonesia.  Diwaktu yang bersamaan PSSI sebagai otoritas tertinggi persepakbolaan tertinggi di Indonesia, justru tak berhenti berseteru. Yang terakhir adalah konflik PSSI dengan kelompok penuntut Kongres Luar Biasa ( KLB ), yang bergabung dalam Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Berita terakhir, Komite Eksekutif (Exco) PSSI menyatakan sepakat menolak permintaan Kongres Luar Biasa (KLB) yang digulirkan KPSI.

Dalam waktu bersamaan pula, Dua kompetisi sedang bergulir dan sama – sama mengklaim sebagai Kompetisi yang legal dan profesional. Indonesia Super League ( ISL ) yang ditayangkan ANTV dan Indonesia Promer Leagua ( IPL ) yang di back up MNC Group . Seorang penikmat sepak bola sebenarnya hanya ingin menikmati hiburan dari oleh raga terpopuler tersebut. Tak penting apakah berada dibawah naungan IPL atau ISL. Bahkan tanpa dinaungi oleh siapapun dan hanya dimainkan disebuah tanah kosong sebuah komplek perumahan, olah raga ini tetaplah sebuah tontonan menarik.

Hanya saja, bicara sepak bola, tak semata urusan hiburan. Ada bisnis ( baca : ekonomi ) yang bermain disana. Kompetisi yang baik dan terarah adalah sarana membentuk dan membina pemain untuk melahirkan Tim Nasional yang tangguh. Perpecahan ini jelas akan berdampak pada semakin terpuruknya sepak bola kita. Tidak usah bicara soal prestasi, lihatlah bagaimana display iklan di pinggir lapangan kosong melompong dari merek atau Logo Perusahaan – perusahaan besar, entah itu di IPL atau ISL. Ya, Ketidak pastian dalam dunia sepak bola kita hampir pasti berpengaruh pada animo dan minat sponsor untuk membiayai kompetisi kasta tertinggi di tanah air. Artinya, cita – cita menjadikan sepak bola kita sebagai sebuah industri kembali mundur beberapa langkah , kalau tak bisa dikatakan  jauh api dari panggang.

Belum lagi kalau kita bicara pembinaan usia dini dan pembentukan Tim Nasional yang bisa berbicara minimal di level Asia Tenggara. Jauh – jauh hari PSSI sudah memberi warning tidak akan memakai pemain yang berlaga pada kompetisi Indonesia Super League. Analogi sederhananya adalah, ketika Tim Nasional tampil dalam formasi lengkap hasil seleksi dari seluruh klub yang ada di Indonesia saja,  kita jarang menuai prestasi, Apalah lagi jika Tim Nasional tidak menyertakan pemain – pemain dari Klub ISL yang saat ini banyak diisi pemain – pemain timnas. Kondisi yang disebut – sebut menjadi penyebab utama pelatih Timnas U – 23, Rahmad Darmawan mundur dari jabatannya.

Nasi Sudah jadi bubur, Tak ada yang bisa menolong sepak bola kita saat ini, selain kemaun para pemangku kepentingan negeri ini belajar pada kerendahan hati para suporter, belajar melupakan kebencian di masa lalu, menanggalkan ego dan melupakan kepentingan politik dan golongan demi kemajuan sepak bola Indonesia. Suporter rela mengorbankan diri mereka demi kemajuan sepak bola, pengorbanan yang tulus tanpa pamrih, tanpa kepentingan. Karena bagi mereka, mendukung klub dan menggelorakan sepak bola tidak saja menjadi kebanggan tetapi juga menjadi hiburan ditengah himpitan kemiskinan dan kesulitan Ekonomi. Mungkin motivasinya berbeda dengan para petinggi yang sedang berseteru itu. Wallahualam.

2 thoughts on “BELAJARLAH DARI SUPORTER

  1. I was recommended this website by means of my cousin. I’m no
    longer positive whether or not this submit is written by
    way of him as nobody else understand such exact approximately my difficulty.
    You are amazing! Thank you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s