KEHILANGAN

Kemarin rumah saya ( lebih tepatnya rumah kontrakan saya ) kemalingan. Ini kali ke tiga rumah mungil nan sederhana ( jika tak bisa disebut reot ) itu diobrak abrik si panjang tangan. Saat kecurian pertama, baju, HP sama sepatu saya melayang. Kemalingan kedua, sepeda kesayangan saya yang diembat, dan yang terakhir, ya yang kemarin itu. Kali ini malingnya rada aneh,  kamar saya dan kamar ponakan saya dibuat berantakan tapi yang dicuri justru barang – barang yang nggak banget, panci, kompor minyak ( kebetulan saya belum tersentuh program konversi minyak tanah ke gas, atau lebih tepatnya saya memang gak pernah masak ) dan satu lagi yang ikut di gondol, setrika. Alhasil baju yang harus saya pake hari ini, terpaksa disetrika di kantor.

Anda bertanya seperti apa perasaan saya kemalingan sampai tiga kali ? atau anda sama sekali tidak mau tau perasaan saya ? kalau iya, berarti anda tega sekali😀. Yang jelas pasti sedih, kecewa, kesal dan beribu perasaan tak menyenangkan lainnya. tapi apakah makian dan sumpah serapah saya punya arti dan bisa mengubah keadaan ?, mari kita sepakat bahwa caci maki hanya akan membuang energi saja. Yang bisa saya lakukan mungkin adalah lebih waspada dan instrospeksi diri. Jangan – jangan selama ini saya sudah makan harta yang gak benner. Dan untuk menebus dosa saya, salah satunya dengan kehilangan itu. Bisa jadi. ( sok wise dikit, biar kelihatan lebih cool🙂 )

Ponakan yang selama ini tinggal bersama saya dirumah kontrakan itu yang mengabari kejadian tersebut saat saya masih dikantor. Karena khawatir ada barang – barang penting yang di bawa kabur, sayapun bergegas pulang. Sesampai di kamar, yang pertama saya periksa adalah tas berisi ijazah saya ( Soalnya benda itu saja yang cukup berharga dikamar kumuh tak terurus itu😀😀 ). dan alhamdulillah yah, semua aman ditempatnya kecuali yang saya sebutkan tadi : panci, setrika dan kompor.

Lalu mulailah saya membereskan buku, pakaian kotor, CD dan berbagai isi kamar yang berantakan. Dan tanpa sengaja, sebuah buku berwarna biru muda, jatuh mengenai kaki kanan saya yang jarinya jempol semua. Saya kenal betul dengan buku itu ( ya iyalah, kan adanya dikamar saya ). Buku itu adalah pemberian mantan saya waktu kami masih mesra – mesranya. Hmmm

Ceritanya gini, Waktu itu karena kami sama sama sibuk, dia berinisiatif membeli dua buku dan memberikannya satu untuk saya, yang satunya untuk dia tentu saja. Buku itu berfungsi sebagai catatan apa – apa saja yang ingin kami sampaikan namun tak punya waktu untuk sekedar telponan ataupun ketemu langsung ( kebayang kan bagaimana sibuknya kami waktu itu ? ). Oh ya sebenarnya semua pemberian mantan saya, sudah saya museumkan dengan alasan yaaa.. adalah pokoknya. tapi entah karena saya lalai, buku itu lolos dari sortiran.

Sejurus kemudian, entah karena dapat bisikan dari mana, saya tergoda untuk membuka buku itu ( sumpah bukan buat berromantisme😦 ). membaca kalimat demi kalimat dari tiap lembar buku itu, kata demi kata, huruf demi huruf ( anak kelas 2 SD kalee mengeja huruf😀 ). dan saya terhenti pada sebuah kalimat di lembar ke tiga bagian paling bawah “My Perect Ten Guy,. kau yang terbaik yang pernah saya miliki. dan bila suatu waktu kita tak ditakdirkan bersama. yakinlah saya selalu bangga pernah memilikimu”. lama saya memandangi kalimat itu. bukan karena kata – katanya yang teramat – amat menyentuh, tapi karena waktu pacaranpun saya sepertinya tidak pernah membaca kalimat itu. ( maafkan saya mantanku, saya memang kelewat cuek dan suka membaca separoh saja dari tulisanmu, hiks.. )

Saya menutup buku itu. Bukan karena sedang terbawa perasaan, tapi selanjutnya saya sadar, tak ada gunanya menyelami masa lalu. Toh itu hanya milik masa lalu itu sendiri. Yang saya miliki sekarang ya hidup saya saat ini dan masa depan. Tapi keterlanjuran saya membuka buku tersebut membuat saya sadar, betapa saya pernah ada pada suatu masa dimana kebaikan seseorang kadang saya abaikan entah karena sibuk, terlalu menuruti sifat acuh tak acuh atau karena apa. Entahlah !.

Maling itu sudah membawa pergi beberapa isi rumah saya, tapi dia meinggalkan makna. betapa penting menghargai keberadaan dan kebaikan orang lain. Karena saat kita tersadar, semuanya menjadi sangat sia – sia. Berikutnya saya meraih buku yang sudah mulai berdebu itu, memasukkannya kedalam kotak tempat saya me”museum”kan beberapa pemberian sang mantan, menyimpannya diatas kalender 2012, souvenir yang saya peroleh saat menghadiri pesta pernikahannya tiga bulan lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s