Memorabilia Malino

Untuk sebuah acara kantor, saya berkesempatan mengunjungi daerah Malino, sebuah wilayah ketinggian berjarak sekitar 70 kilometer dari kota Makassar. Mendatangi daerah ini, buat saya sama saja dengan pulang ke kampung sendiri. Betapa tidak, dua tahun lebih saya melewatkan masa kecil di daerah bersuhu dingin tersebut sebelum pindah lagi ke daerah lain karena ikut sodara pindah tugas. Rentang waktu yang menyisakan banyak cerita dan kenangan. Memori yang kadang bisa bikin senyum – senyum sendiri, membuat saya tiba – tiba sendu atau bahkan kadang larut dalam kesedihan.

Waktu itu 2o Tahun lalu, Saat saya masih sangat lugu, lucu dan cubby ( deskripsi yg gak penting bgt😀 ). Ya.. lugu karena bujuk rayu kakak sayalah yang membawa adi kecil sampai ke sebuah daerah terpencil yang teramat jauh dari kampung halaman saya di kabupaten Selayar ( yang nggak kalah terpencilnya🙂 ). Waktu itu saya masih ingat, sang kakak sulung yang berprofesi sebagai guru ingin saya tinggal bersamanya dengan iming – iming berbagai kesenangan yang untuk seorang anak kecil bisa membuat tiba – tiba jadi excited dan kehilangan keseimbangan diri. he he he.. mainan berlimpah, bisa nonton tivi sepuasnya, tiap bulan dibeliin baju baru dan katanya, teman – teman  yang menyenangkan. Lagipula bapak saya katanya akan tinggal bersama kami selama saya sekolah.

Bujuk rayu yang teramat ampuh.  Akhirnya saya benar – benar pergi bersma bapak dan kakak sulung saya yang datang menjemput. Waktu itu,  ibu tak nampak saat kami sedang menaiki kendaraan yang akan mengantar saya kesebuah daerah yang jauh, jauh dari teman – teman kecilku, jauh dari Ibu yang selama ini bersama saya, jauh dari Rambo, anjing peliharaan saya dan jauh dari kampung tempat saya dibesarkan. ( dari cerita ibu ketika saya dewasa, saat itu beliau sangat tidak tega dan tak mau melihat saya pergi lalu terpaksa mengungsi ke rumah tetangga untuk menyembunyikan kesedihannya, beliau tak ingin saya melihatnya menangis ). Saat ibu bercerita tentang itu, sayapun tak urung meneteskan air mata, apalagi setelah saya tau bahwa “penculikan” itu bukan tanpa alasan. Ekonomi keluarga yang serba sulit, membuat saya harus rela disekolahkan oleh sang kakak di SMP tempat dia ngajar, karena Ibu dan Bapak saya sendiri sudah kepayahan menanggung biaya hidup dan sekolah kakak saya yang lain yang seingat saya, waktu itu akan masuk SMU.

Di tempat tinggal yang baru, saya hidup bersama bapak dan keluarga sang kakak ( istrinya dan satu dua orang ponakan saya ). Melewatkan masa kanak – kanak di sebuah perumahan Sekolah yang sangat – sangat sederhana. beratap seng, berdinding kayu dan hanya memiliki dua kamar. lantainya terbuat dari tembok tanpa fasilitas kamar mandi. Pagi – pagi , saya harus ke  kekemar mandi sekolah untuk seluruh rutinitas dipagi hari ( BAB dan semacamnya ).

Ini dia Rumah tempat tinggal saya yang saya ambil fotonya kemaren. Meski sederhana, saya cukup senang, karena ada tivi ( dikampung saya waktu itu gak ada listrik malah hehehe ), ada mainan yang dijanjikan dan baju baru yang telah disiapkan, plus teman – teman baru saat hari pertama sekolah di SMP Negeri Malino. Tapi itu gak bertahan lama, Disuatu hari saya tak menemukan bapak berada dirumah, katanya sedang pergi. Tapi satu, dua sampai berhari – hari beliau gak muncul – muncul juga. Akhirnya kakak saya menceritakan bahwa bapak sudah kembali kekampung dan tidak akan balik lagi kerumah mereka. Saya menangis sejadi jadinya, sedih dan merasa ditipu. Saya meronta – ronta dan tiba – tiba ingat ibu saya, ingat rumah dan teman – teman  di kampung. Tak ada yang bisa menenangkan saya waktu itu. ( Maklum, sebagai anak bungsu, ini pengalaman pertama saya, jauh dari ibu dan rumah ). saya jadi tau kenapa ibu saya tak mau menyaksikan saya berangkat. Rupanya kesedihan yang sedang saya rasakan waktu itulah yang juga ia rasakan. Mungkin karena itu pula bapak saya tak berniat pamit  sebelum pulang, karena tak ingin saya sedih dan mungkin tak ingin menjukkan kesedihannya.

Akhirnya, bulan – bulan pertama adalah masa terberat saya ( untuk ukuran anak seusiaku ). Harus tidur sendiri, mengurus keperluan sekolah sendiri, mencuci pakaian sendiri plus membantu pekerjaan di rumah. menyapu, kadang memasak dan membersihkan halaman. Di beberapa kesempatan, saya malah harus kehilangan waktu bermain. Alhasil, istirahat siang selalu saya manfaatkan untuk kabur dari rumah dan bermain bersama teman – teman sekitar rumah. Pulangnya sudah pasti kena marah. Kondisi yang sangat tidak nyaman dan akhirnya membuat saya bersikeras untuk pulang saja kerumah ibu setelah enam bulan melewatkan waktu  bersama keluarga kakak saya. Tapi setiap saya meminta untuk pulang, setiap itu pula kakak saya menolak. Saya masih ingat, malam – malam kadang saya menangis karena  sangat rindu ibu, rindu ingin pulang.

Sekarang saya sudah dewasa dan cerita itu menjadi kenangan hidup yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Saya bersyukur, mungkin pengalaman masa kecil itu yang membuat mental saya bisa lebih strong. Lebih fight karena dari kecil tak lama menikmati masa bermanja – manja dengan orang tua. Ketika orang tua dan juga kakak saya tak mampu lagi meyekolahkan saya di tingkat perguruan tinggi, saya nekad saja untuk melanjutkan kuliah. Mungkin tak banyak yang pernah tau, saya pernah nyambi kerja di terminal, pernah jadi sopir dan kerja apa saja saat kuliah, bahkan pernah coba – coba cetak baju kaos dan bikin stiker untuk kemudian saya jual dikampus ( sampai sekarang masih banyak yang belum bayar .. heii teman – teman kuliahku, bayar utang dong😀😀 ).

Jika waktu itu saya bersikeras balik kekampung Ibu. Mungkin hati kakak saya akan luluh dan membiarkan saya pulang, tapi mungkin juga saya tidak akan seperti sekarang. Kalau saja saya menyerah pada rasa rindu dan kesedihan saya saat itu, bisa jadi saya juga akan menyerah saat orang tua kami tak mampu membiayai kuliah saya karena mental saya tidak akan cukup kuat untuk menghadapi tekanan kekurangan biaya itu. Pengalaman hidup itu cukup untuk membuat saya menjadi pribadi yang lebih punya fighting spirit diusia remaja dan dewasa. Kekayaan yang tak ternilai harganya dan harus disyukuri.

Sekarang mungkin saya tak sekaya Brian Tracy atau Merry Riana. Tak sesukses Bob Sadino atau siapapun yang memulai hidup dari nol hingga akhirnya jadi jutawan. Tapi saya punya kekayaan hati untuk menentang kerasnya hidup. Saya jadi ingat pepatah dari sebuah buku berjudul Reallionaire yang menceritakan tentang seorang anak bernama Farrah Gray. Remaja dari keluarga biasa – biasa saja  dan menjelma jadi jutawan muda di negara Paman Sam sana. Kata – katanya seperti ini.  “Saya tidak pernah miskin, Hanya tidak punya uang. Kemiskinan adalah kerangka berpikir. Sedangkan tidak punya uang hanya kondisi sementara”

Ini kelas saya dulu

Foto sekolah saya

Foto terakhir diatas adalah saya dan yunior – yunior saya ( jauh banget ya😀😀😀 ) asal tau saja ya, mereka ngajak foto bareng karena saya disangka pemain bola dari Timnas Indonesia, Diego Michiels. xixixixiiiii ( Bohong bgt🙂 )

2 thoughts on “Memorabilia Malino

  1. kereeeenn.. saya juga punya banyak tentang Malino.. bahkan ada 1 pohon yang pernah saya tanam di Passangrahan Malino 10 tahun lalu, waktu saya kelas 1 SMP dan di bawahnya saya tanam nama seseorang.. hahahaha.. sayangnya, saya sudah tidak ingat, pohonnya yang mana.. ^_^
    keep writing, kak adi.. semoga selalu menjadi inspirasi buat orang lain.. semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s