Don’t be stupid please !

Pagi tadi saya sedang membaca berita tentang nasib  pemain Chelsea John Terry ketika seorang teman mengirimkan sebuah gambar di Group BBM. Foto yang dimaksudkan sebagai lolucon antara sesama anggota group. Dan seperti biasa, gambar – gambar seperti itu akan ramai di komentari sampai saya harus menset Mode suara handphone saya jadi Silent  lalu kembali membaca berita tentang bek tangguh keseblasan asal London tersebut.

Posisi John Terry di Timnas Inggris dan skuat utama The Blues terancam pasca dugaan tindakan rasis  yang dilakukannya kepada bek Queens Park Rangers, Anton Ferdinand. Saat Chelsea melawat ke Loftus Road, medio Oktober lalu, suami dari Toni Poole itu, tertangkap kamera mengucapkan kata – kata berbau rasis yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan publik sepak bola inggris bahkan dunia. Jika terbukti bersalah atau ditemukan indikasi adanya sikap yang mengarah ke tindakan rasis, jabatan kapten dan posisinya di The Three Lions bisa hilang.

Ini bukan kali pertama Inggris yang mengklaim diri sebagai nenek moyang olah raga sepak bola, di guncang oleh isu rasisme. Baru – baru ini Otoritas Tertinggi Sepak Bola Inggris ( FA ), memberi vonis kepada striker Liverpool, Luis Suarez, karena serangan verbal rasial terhadap pemain Manchester United, Patrice Evra pada saat Liverpool menghadapi Manchester United dalam Lanjutan EPL beberapa waktu lalu. Kasus yang menimpa Patrick Evra dan Anton Ferdinand hanyalah segelintir dari sederet persoalan rasisme yang masih melekat pada oleh raga terpopuler sejagad raya tersebut. Bintang muda asal brasil, Neymar, mantan pemain timnas Brasil Roberto Carlos, Mezut Ozil, Fredrick Kanoute, Samuel Etoo dan Mario Balotelli adalah sederet nama yang pernah menjadi korban perilaku rasis entah dari pemain atau pendukung tim lawan.

Suporter Juventus, Luis Suarez dan dan para penonton yang pernah melakukan perbuatan rasis mungkin telah mendapatkan ganjarannya. Tapi luka di hati Anton Ferdinand,  Patrick Evra, Balotelli dan sederet nama lain yang pernah mengalami perlakuan yang sama, tidak akan sembuh seketika dengan permintaan maaf di media dan interaksi individu antara kedua belah pihak . Pun dengan jabat tangan yang menurut Sepp Blatter, pimpinan tertinggi FIFA, cukup untuk menyelesaikan kasus rasis di lapangan hijau. Bukan hanya itu, para pelaku rasis spontan akan menjadi public enemy, bukan hanya oleh para pendukung tim lawan, lebih dari itu oleh seluruh penggila sepak bola, olah raga yang terkenal menjunjung tinggi sportifitas dan fair play.

Rasisme  menjadi musuh besar di sepakbola dan bisa berimplikasi ke berbagai hal, termasuk kepada pemain yang menjadi terduga. Hukuman sosial tentu menjadi vonis yang paling berat. Tengoklah bagaimana pemain besar sekelas Luis Suarez menjadi pesakitan meski telah menyangkal plus dukungan dan bantahan dari manajemen liverpool. Tak urung penampilan ciamik Luis Suarez di piala dunia lalu serta status pemain terbaik Copa America 2011 , tenggelam akibat ulahnya di lapangan hijau. Bukan hanya Suarez, Presiden FIFA juga menjadi  bulan – bulanan banyak kalangan karena pernyataannya yang dinilai, sama sekali tidak berpihak pada korban perilaku rasis di sepak bola. Betapa tindakan ini dianggap sebagai pengangkangan nilai – nilai kemanusiaan  yang harus dilawan.

Lalu bagaiamana dengan Sepak Bola Indonesia?. Tindakan rasis bukan tidak pernah terjadi seperti halnya  di benua Eropa sana, perilaku seperti itu juga sering ditunjukkan oleh  para pendukung tim sepakbola kita, entah dengan kata – kata, bahasa tubuh atau dengan simbol – simbol lain. tidak usah jauh – jauh, sebagai penonton setia pertandingan PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta Makassar, kejadian – kejadian itu beberapa kali saya temui. Tentu pemain asing asal Afrika dan pemain dari tanah Papua seperti Persiwa Wamena, Persipura dan Persidafon Dafonsoro, paling sering menjadi sasaran. Bedanya, karena otoritas sepak bola di negeri ini dan mungkin kita, menganggap persoalan ini sebagai sesuatu yang lumrah. atau belum ada keseriusan menanganinya karena masih sibuk dengan kompetisi yang terpecah dan sorotan atas keabsahan organisasi PSSI.  Tidak salah jika perilaku rasisme menjalar kemana – mana,  di ruang lain, nun jauh dari kerumunan penonton sepak bola, di sebuah public spare bernama dunia maya, di situs jejaring sosial dan social network semacam group BBM seperti yang baru saja saya terima.

Ironi, ketika Patrich Wanggai, Titus Bonai dan Octovianus Maniani kita elu – elukan karena mambawa harum nama indonesia, diwaktu bersamaan kita sedang memperolok – olek sebuah foto di group BBM, foto dari suku tertentu yang juga saudara kita, manusia yang harkat dan martabatnya sama di depan sang Pencipta. Kenapa kita hobby menjadikan keberadaan orang lain sebagai bahan lolucon ?

Negara – negara Eropa yang sangat liberal menjadikan perilaku rasis sebagai sebuah pelecehan nilai – nilai kemanusiaan yang teramat parah. Sementara kita, bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai – nilai norma dan etika, mengklaim diri sebagai bangsa yang beradat dan bertenggang rasa, bahkan harus disebut dalam butir – butir sila Pancasila, menjadikan tindakan rasis sebagai sesuatu yang biasa. Melakukannya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Mungkin tidak salah jika saudara – saudara kita di bumi cendrawasih sana kerap meminta untuk merdeka. Terlepas dari persoalan politik dan faktor sosial ekonomi, kita yang mengaku sebagai saudara sebangsa dan setanah air, selalu menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan lewat gambar – gambar di BBM, melecehkannya melalui cerita lucu yang teramat tidak lucu. Berhentilah, jika kita masih ingin disebut sebagai manusia ! karena nilai – nilai kemanusiaan kita, sesungguhnya diukur dari bagaimana kita memanusiakan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s