Bandung tea !

Bandung teaApa yang paling menarik dari kota kembang bandung ? Dago ? suasana kotanya yang sejuk ? bangunan – bangunan tua di kawasan Braga atau tempat belanjanya yang berjejer di sepanjang jalan Riau, atau mungkin cewek – ceweknya ? kalau jawaban anda yang terakhir, berarti anda mata keranjang😀

Anda yang pernah berkunjung ke kota dengan julukan Parisj Van Java itu, pasti selalu rindu ingin kembali lagi suatu waktu kelak, sayapun demikian. Dua Tahun bermukim di kota itu, terasa singkat untuk menikmati pesona dan daya tarik kota Bandung dengan suasana alam pegunungannya yang khas.  Bulan depan saya berencana mengunjungi kota itu lagi. bukan untuk berbelanja atau menikmati wisata kulinernya yang memberikan panyak alternatif, tapi untuk menghadiri pesta pernikahan seorang teman, Namanya Aprie.

Aprie ini orangnya baik ( dan cantik xixixixiii ), Suatu waktu saat saya sedang sakit, dia dengan setia mengantarku ke rumah sakit. Diawal – awal bermukim di bandung, aprie pulalah yang selalu memberi informasi jalur angkot ke tempat – tempat yang akan saya kunjungi, termasuk mengajari saya sedikit – sedikit tentang budaya dan bahasa sunda. Yang paling saya ingat ketika dia ngerjain saya dengan memanggi dengan tambahan kata AWON di belakangan nama Adi. Belakangan saya tau, awon itu artinya jelekk !!!

Waktu itu saya memang agak kesulitan, karena di bandung hampir semua orang menggunakan bahasa sunda untuk berkomunikasi. Di kantor, di angkot dan ditempat – tempat umum lainnya. Tapi akhirnya saya jadi kagum, Bandung mungkin satu di antara sekian banyak kota yang bahasa daerahnya masih sangat lestari. Bahkan, bahasa sunda digunakan sebagai bahasa pergaulan anak mudanya yang selalu tampil modis itu. Radio Gaul di bandungpun tak urung memutar lagu – lagu sunda di beberapa program acara. bandingkan dengan daerah lain ( makassar misalnya ) yang bahasa daerahnya cenderung sudah dilupakan ( kalau tak bisa dikatakan punah ). dan jangan coba – coba mendengarkan lagu daerah makassar kalau anda tak ingin disebut kampungan dan kuno, Miriss !!!

Sampai sekarangpun saya masih suka menemui teman – teman saya di Bandung menuliskan status di facebook atau berkomunikasi didunia maya semacam twitter dengan bahasa sunda. “Urang sunda kamarana pami teu dianggo basa sundana mah” ( orang sunda pada ke mana kalau tak menggunakan bahasa sunda nya ? ). mungkin itu yang menjadi prinsip mereka. Dengan budaya menggunakan bahasa daerah yang masih kental saja, pemerintah Jawa Barat sudah membuat terobosan dengan mewajibkan bahasa daerah diajarkan mulai dari level SD hingga SMU. Beberapa Majalah diterbitkan menggunakan bahasa sunda, termasuk upaya beberapa LSM membuat data base bahasa, literatur dan budaya sunda. Semangatnya adalah mempertahakan identitas dan kearifan lokal ( Media Indonesia, 13 November 2011 )

Jadi ingat, waktu pulang kampung beberapa bulan lalau, saya dibuat kaget oleh panggilan  anak dari sepupu saya yang tiba – tiba mencopy paste sederet nama yang kerap wara – wiri di layar kaca : Nadya, Naura, Delon, Maudy dan Chelsea. Sepupu – sepupu saya juga lebih membiasakan mereka berbahasa indonesia ketimbang bahasa daerah kami. Saya jadi khawatir aja, mereka dengan nama – nama foto copy an dari sinetron itu, kelak tak mau dan tak mahir lagi menggunakan bahasa daerah kami yang saat ini masih menjadi bahasa sehari – hari ketika berkomunikasi ( semoga saja tidak ).

Meski tidak mudah mempopulerkan bahasa makassar karena bahasa daerah kita di sulsel yang sangat beragam ( beda dengan jawa barat yang hampir diseluruh wilayahnya hanya menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa daerah ). Tapi sejatinya saya juga sangat rindu bahasa Makassar menjadi bahasa sehari – hari. Bukannya menolak peradaban, tapi yakinlah, pada bahasa ibu kita, terdapat local wisdom, nilai – nilai budaya, etika dan moral yang tak akan didapati pada bahasa indonesia. untuk kata iya saja yang pada bahasa makassar disebut iye’ tentu akan sangat beda makananya ketika digunakan. iye itu cenderung lebih sopan dan mengandung nilai – nilai penghormatan untuk orang lain. Dan mungkin banyak lagi kata – kata lain yang value nya tidak bisa di wakili oleh kata – kata dalam bahasa indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s