Confusion of a Shopaholic

Sesuai dengan judulnya yang diplesetkan dengan sangat tidak berperikemanusiaan, tulisan ini bukanlah cerita tentang akting Isla Fisher, Hugh Dancy dan Krysten Ritter. Saya malah sudah lupa dengan film yang pernah saya tonton beberapa tahun lalu itu. Satu – satunya yang saya ingat dari film dengan judul Confessions Of  Shopaholic  dan diangkat dari sebuah novel karya Sophia Kinsella tersebut, adalah : bahwa saya menontonnya bersama pacar  saya ( lebih tepatnya mantan ). Saya masih ingat, waktu kami nonton film itu,… ( sensor😀 ), .

Sebagai penggila film action, jujur waktu itu  saya tak terlalu menikmati, meski sebenarnya film bergenre drama karya sutradara P.J Hogan itu,  cukup menarik. Alur kisahnya ringan dan tidak membosankan. Dan katanya nih, film ini bisa memberi pembelajaran untuk penonton, terutama dalam dunia belanja belinji.. he he he.. Anda juga termasuk maniak shopping seperti para pemeran dalam Confessions Of  Shopaholic ? atau anda termasuk golongan konservatif yang cenderung tidak terbawa arus mode dan trend ? apapun itu, anda tentu punya pengalaman sendiri – sendiri soal berbelanja, termasuk saya. ( meskipun tidaklah segila Krysten Ritter dkk dalam membelanjakan uang saya yang memang tidak berlimpah itu🙂 ).

Sekali lagi, ini bukanlah cerita tentang psikologi manusia dalam hal berbelanja. Sekedar berbagai pengalaman. Kemarin itu saya habis belanja di sebuah gerai ternama yang sepengetahuan saya, memiliki cabang di  hampir seluruh kota besar dan menengah di Indonesia. Seingat saya, sejak dua tahun lalu, setiap selesai membayar, Petugas kasir di tempat itu akan bertanya ke costumer dengan pertanyaan singkat : Apakah kembaliannya akan didonasikan mas ? Suer saya tak ingin berbicara soal takaran sebuah keikhlasan, Saya hanya ingin Perusahaan sebesar itu lebih profesional menyebutkan peruntukan dana yang meskipun sedikit itu, untuk kegiatan amal apa ? lembaga apa dan untuk siapa ?.

Dan kalau mau sedikit lebih fair, mereka tak semestinya menjebak pelanggan dalam sebuah kondisi dimana kita tak mungkin menolak, apakah karena pertimbangan gak enak, malu atau memang karena ikhlas ( semoga saja ). Akhirnya mereka terkesan memanfaatkan situasi di tengah kerumunan yang tentu membuat siapapun berpikir seribu kali untuk tidak mengiyakan, apalagi berdebat. Belum lagi persoalannya “hanya” karena uang 400 perak, dan untuk tujuan “kemanusiaan” pula. Jangan – jangan, karena itu pula harga di pusat perbelanjaan itu sering aneh – aneh ( Rp, 125.400 atau Rp. 55.600 ), Entahlah.

Jadi ingat, Zaman kuliah dulu, saya sering dibuat senewen sama petugas wartel yang seenaknya mengembalikan duit enam ratus perak dalam bentuk permen. Logika sederhananya gini, besok – besok kalo kita nelpon, boleh dong bayarnya pake permen juga ? saya jamin mereka gak mau. Kenapa ya para pemilik usaha seperti wartel dan juga pusat perbelanjaan besar sekalipun kadang gak sadar, bahwa keluhan dan pertanyaan – pertanyaan kecil seperti itu bisa jadi bumerang dan pertimbangan seseorang untuk berkunjung lagi.

Teman belanja kemarin😀

Banyak lagi sebenarnya hal – hal kecil yang kerap membuat saya dan mungkin juga anda kurang nyaman saat belanja. Pernah gak anda diikuti kemana- mana sama SPG atau pramuniaga saat sedang liat – liat barang ? kalau saya sih kok agak kurang nyaman yaa, jadinya malah kikuk dan gak rilex. Meskipun saya tau maksud mereka sangat baik, untuk melayani pertanyaan yang mungkin kita ajukan. Dan yang paling parah, ketika suatu waktu saya mengunjungi sebuah outlet pakaian ternama dan saat sedang memperhatikan selembar pakaian, SPG yang sedari tadi mengekor di belakang saya, nyeletuk ” yang itu gak diskon mas, yang diskon sebelah sana” .  Hellooo,. maksud loo apa ?😦 *resiko tampang kere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s