Abdul dan Zaenab

Ini bukan judul sebuah novel atau sinetron di televisi kita yang akan membawa anda pada sebuah kisah dengan ending mengharu – biru, ini real story tentang petemuan saya dengan dua anak manusia di hari yang sama. Mungkin keduanya bukanlah siapa – siapa, tapi dari mereka saya belajar banyak tentang bagaimana memandang hidup.

Sabtu akhir pekan lalu saat baru selesai mandi, pintu rumah saya diketuk ( lebih tepatnya digedoršŸ˜¦ ) oleh seseorang. Buru – buru saya bergegas membuka pintu lalu mendapati tiga orang berpakaian serba putih persis busana petugas medis. Belum sempat saya berkata apa – apa, seorang diantara mereka yang kelihatan berusia lebih tua memperkenalkan nama dan dua orang temannya yang lain. Saya masih ingat, namanya Zaenab, yang duanya lagi saya lupa.

Singkat cerita mereka mengeluarkan sebuah benda berbentuk bungkusan kecil, ya kira – kira sebesar kemasan kopi instan. “Ini adalah bubuk pembunuh jentik, silahkan anda menaburkannya di sumur atau ditempat – tempat yang digenangi air” begitu si zaenab itu berkata sambil menyodorkan benda berwarna putih itu.”Anda bertiga dari lembaga mana ?” saya bertanya balik sembari memperhatikan serbuk yang masih terbungkus rapi itu. Tak ada nomer seri produk, tak ada nomer register dari Depkes, BP POM atau lembaga apapun yang membuat saya bisa sedikit yakin dengan ketiga orang dari negeri antah berantah tersebut.

“Harga perbungkusnya tiga ribu rupiah, kalo ambil dua bayar saja lima ribu, bisa cepat mas.. kami buru – buru”.Ā  Saya memandangi ketiga orang itu sambil bergumam dalam hati ” hellooo, kanapa saya jadi dipaksa beli produk ini, sudah bendanya gak meyakinkan, mereka juga enggan menyebut asal instansi mereka, Aneh” Akhirnya saya menyerahkan kembali benda itu “gak deh, jual aja dirumah sebelah”. Ketiga orang itu tidak beranjak dan malah mengucapkan kalimat yang membuat saya semakin gusar “kalo begitu seribu saja satu mas, buat uang angkot”, Nah lho ini petugas kesehatan apa pengemis sih ? lagi – lagi saya bertanya dalam hati, tentu saja karena tak ingin berdebat dengan orang – orang aneh itu. ” Gak mbak” kataku memasang muka sedikit masem. Kata – kata berikut dari pemilik rambut sebahu itu membuat saya hampir tak bisa menahan emosi ” masa uang dua ribu aja gak ada”. Benar – benar bikin saya senewen, Kenapa jadi saya yang harus nanggung uang angkot mereka ? Huftt ! Untung ketiganya segera pergi meninggalkan saya yang dongkol setengah mati.

Saya jadi ingat cerita – cerita teman saya yang rada mirip dengan apa yang baru saja saya alami. Tentang mereka yang pura – pura jadi petugas pertaminaĀ  dan mengecek kondisi tabung gas lalu meminta imbalan jasa. Kasus penipuan di facebook, belum lagi SMS dari ibu palsu yang minta ditransferkan pulsa, petugas panti asuhan yang katanya berasal dari tangerang dan meminta donasi dari rumah ke rumah ( apa di tangerang sana sudah kehabisan stok manusia dermawan lalu mereka harus menyebrang pulau ?). Seorang Pengemis disebuah sudut jalan di kota Makassar yang setelah ditelusuri, ternyata pemilik dua petak rumah kos – kosan. Belum lagi fakta mengejutkan yang pernah dikemukakan oleh dinas sosial bahwa mereka yang beroperasi dijalan, tidak semua orang miskin. Mereka adalah warga yang sebenarnya mampu lalu berpura – pura tak berdaya dan meminta belas kasih orang lain. Ada yang berpura – pura buta, berpura – pura pincang. Belum lagi isi pemberitaan media soal meningkatnya jumlah penduduk miskin saat proses pendataan warga penerima subsidi kenaikan harga BBM.

Mengapa semakin banyak diantara kita yang berpura – pura miskin ? apakah persoalan hidup yang membuat kita semakin pragmatis ? menempuh segala cara untuk sebuah tujuan. Mengekploitasi ketidakberdayaan kita, membohongi diri sendiri dan orang lain untuk mendapatkan keuntungan materi.Ā Apakah keterbelakangan pendidikan dan faktor ekonomi yang kemudian membuat kita kehilangan daya Ā untuk berpikir lebih kreatif dan produktif ?. Jawabannya, tidak ! coba tengok beberapa ruas jalan yang dipenuhi oleh oknum berkostum almamater sebuah perguruan tinggi lalu menegadahkan kardus bertuliskan nama kegiatan mereka atau bencana alam yangĀ  membuat mereka harus turun kejalan meminta kerelaan orang lain menyerahkan lembaran rupiah.

Atau kalau anda berkeliling kota makassar di sabtu malam, di beberapa ruas jalan anda akan temui anak – anak SMU bergerombol memainkan gitar dan alat musik sedanya lalu mengetuk pintu mobil anda. Apapun kegiatan atau peristiwa yang membuat mereka harus ada kejalan, kita patut memberi apresiasi sebatas sebagai sebuah usaha. Tapi bukankah mereka adalah individu – individu terdidik yang bisa melakukan kegiatan apa saja yang tentu lebih kreatif untuk menghimpun dana dan anggaran yang mereka butuhkan ?. Saya juga tidak yakin, Zaenab dan kawan – kawan adalah manusia tak berkemampuan yang sudah tak memiliki ruang untuk mencari hidup dengan cara yang lebih elegan. Tapi sudahlah, saya tak berhasrat mengulas fenomena – fenomena yang kerap saya dan mungkin juga anda pernah dengar dan saksikan.

Saya hanya ingin bercerita bagaimana setelah Zaenab and the gank pergi, saya segera bergegas kesebuah pusat perbelanjuaan di Makassar untuk sebuah keperluan. Karena sedang hujan lebat, Sayapun segera memberi isyarat kepada seorang ojek payung yang memang banyak berada di mall tersebut setiap musim hujan. Abdul, demikian pemilik rambut kemerahan itu menyebut nama saat saya mengajaknya ngobrol ketika menyebrang jalan. Dan berikut perbicangan singkat saya dengan si abdul yang saat itu masih memakai seragam.

Tinggal Dimana : Di sekitar sini ji juga om

Kamu masih sekolah : iye ( iya ) om

Kelas berapa : kelas empat om

Bapak kamu kerja apa : tukang becak om, biasa juga jadi tukang ( mungkin maksudnya tukang batu )

Ibu kamu dimana : kata bapak saya pergi, tidak tau kemana, lamami ( sudah lama perginya) makanya bapakku suruhka kerja begini ( ojek payung ) biar bisa sekolah om.

Kalau lagi hujan begini biasanya dapat berapa : biasanya 10 ribu, biasa duapuluh ( 20 ribu rupiah )

Sesaat saya terharu mendengar pengakuan sikecil tanpa alas kaki itu. Untuk menetralkan perasaan,Ā  iseng saya bertanya lagi ketika mendekati pintu Mall. ” Oh, kenapa gak ngamen saja di perempatan dul, biar dapat banyak ?.

Abdul : tidak mauka om, dilarangka sama bapak ku. na(dia)bilang tidak baik meminta – minta. Katanya lugu dalam logat makassar yang kental.

Saya tersentak. Ditengah kenyataan pragmatisme menjadi kelaziman yang entah karena ketidakberdayaan atau justru karena keserakahan manusia, di antara kita masih terdapat manusia – manusia ( seperti abdul dan bapaknya ) yang menjunjung tinggi rasa malu, mau bekerja ulet dan memilih jalan yang halal untuk bertahan hidup ditengah kerasnya hidup. Saya jadi membayangkan bapak si abdul ini adalah orang yang memiliki pendirian teguh, moral yang kuat dan semangat yang tinggi untuk melihat abdul menjadi “orang” suatu saat nanti. Dan entah karena apa, saya tiba – tiba teringat sama mahasiswa dan para siswa SMU yang kerap saya temui di perempatan – perempatan jalan, teringat dengan Zaenab dan teman – temannya. Entahlah,..

Setiap pekan mungkin kita menghabiskan ratusan ribu dan berpuluh – puluh lembar rupiah untuk nongkrong di cafe, melewatkan waktu di dalam ruang bioskop yang sejuk.Ā  Bersama teman – teman menikmati kesenangan di tempat – tempat hiburan. Dan diluar sana ada sosok mungil dengan tatapan lugu yang harus menembus dinginnya terpaan hujan demi mengumpulkan lembar demi lembar uang ribuan. Bukan untuk kesenangan, tapi untuk bertahan hidup.

Saya bayar berapa dul ? tanyaku sebelum merogoh saku dan membuka dompet. Terserahji kita om. Jawaban yang membuat saya semakin takjub dan tanpa ragu menyerahkan selembar uang. Hal yang tidak saya lakukan ketika Zaenab dkk meminta saya memberinya uang angkot, Enak aja.. ( nilainya gak usah disebut yaa,.takut riyašŸ˜€ )

3 thoughts on “Abdul dan Zaenab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s