DAVID BECKHAM DAN ABRAHAM SAMAD

Dua persitiwa akbar yang sama – sama  mendapat perhatian khalayak, baru saja kita lewati. Yang Pertama, kehadiran salah seorang pesohor dari dunia olahraga, Bintang sepak bola David Beckham di Senayan Jakarta. Yang Kedua, terpilihnya Penggiat Anti korupsi asal Sulawesi Selatan Abraham Samad. Mungkin terlalu naif menghubung – hubungkan kedua momentum tersebut, namun tak berlebihan jika sosok keduanya dianggap sebagai the right man at the right time. Abraham Samad dan David Beckham oleh banyak kalangan, dinilai hadir di  disaat yang tepat, meski mungkin tidak bisa menjadi dewa penyelamat dalam waktu singkat. Apapun itu, semoga kedua momen itu bisa menggugah kesadaran kolektif , bahwa di negeri kita ini terlalu banyak persoalan yang harus kita selesaikan bersama.

Ya. Gaung pemberantasan korupsi dan Dunia sepakbola kita saat ini sama – sama sedang berada pada kondisi tanpa gairah jika tak boleh disebut sekarat. Awal 2011, Survei Lembaga Survei Indonesia ( LSI ) menyebutkan, betapa rendahnya persepsi publik terhadap kinerja pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Penelitian Lembaga itu mengungkapkan, Pada tahun 2009, persepsi terhadap kinerja pemerintah dalam memberantas korupsi bisa mencapai 84 persen, namun pada Desember 2010 hanya mencapai 51 persen. Bahkan, pada Oktober 2010 tingkat persepsi publik terhadap pemberantasan korupsi mencapai titik terendah yaitu 45 persen. Sejumlah kasus korupsi berskala besar yang belum terselesaikan dan rentetan kasus – kasus baru yang bermunculan, menambah suram wajah penegakan hukum kita dalam beberpa tahun terakhir.

Pun, sepak bola Indonesia sedang dalam kondisi carut – marut saat bintang  LA Galaxy dan mantan punggawa Real Madrid, David Beckham menyambangi Indonesia dan bertanding melawan Timnas Indonesia Selection. Timnas Senior dan Pasukan Garuda Muda baru saja gagal di ajang berbeda. Sementara Kompetisi sepak bola Indonesia Premier League atau IPL, dalam kondisi gamang karena beberapa klub lebih memilih Kompetisi tandingan dengan label ISL ( Indonesia Super League ) yang sebelumnya menjadi pakem pelaksanaan Liga sepak bola tertinggi di tanah air.  Kehadiran suami Victoria itu diharapkan bisa memberi passion  terhadap sepak bola Indonesia yang sementara lesu darah tersebut. Kesuksesan Friendly Match Indonesia Selection dan LA Galaxy sekaligus diyakini akan membuka mata dunia bahwa Indonesia bisa menggelar pertandingan akbar level internasional.

Semestinya seluruh insan sepak bola indonesia berkaca dari kamsyhuran pesepakbola dengan nama asli David Robert Joseph Beckham itu. Mega bintang yang terlahir dengan bakat alam sepak bola yang kental dan kemudian terasah pada kompetisi yang sehat dan profesional. Fakta itu seharusnya menyadarkan kita bahwa potensi talenta – talenta muda seperti Andik Vermansyah, Tibo dan Patrich Wanggai hanya bisa bemuara menjadi tim nasional yang mempuni jika kompetisinya berlangsung kondusif dan fair ?. Artinya Sepak bola harus dibangun dengan kebersamaan, ketulusan, plus kemauan menghilangkan ego dan nafsu kekuasaan yang terlanjur merasuki kepala para petinggi negeri ini, lalu berlomba – lomba merebut pengaruh dan simpati rakyat di sepak bola. Korupsi juga tak bisa diberantas serta merta dengan kehadiran figur muda nan enerjik seperti Abraham Samad jika para politisi, penegak hukum dan seluruh elemen bangsa ini, tidak ikhlas untuk bahu membahu mengikis perilaku korup yang sudah menggerogoti negeri kita berpulu – puluh tahun.

Kalau boleh sedikit apatis, Tuluskah para politisi senayan itu memilih Abraham samad demi pemberantasan korupsi ? Siapa yang bisa menyangkal bahwa pada lembaga legislatif kita bertebaran para pemburu rente yang tentu tak ingin kenyamanan mereka terganggu oleh kehadiran seorang pendekar pemberantas korupsi yang suatu waktu bisa menjadi bantu sandungan. Tuluskah para pemangku kepentingan negeri ini tingin bersama – sama dengan Abraham Samad menyembuhkan penyakit kronis bernama korupsi yang merusak sendi – sendi kehidupan bangsa dan Negara kita ?. Lalu Tuluskah para pemegang otoritas sepak bola kita mengelolah kompetisi yang sudah terlanjur terbelah itu, demi kemajuan sepak bola itu sendiri ?, bukan untuk menunggangi sepak bola demi kepentingan kekuasaan Ya .. memberantas korupsi dan mengelolah sepak bola kita, sama – sama butuh ketulusan, keuletan dan kesungguhan seluruh unsur yang terlibat di dalamnya.

Sejatinya kita bisa memetik pelajaran dari kebesaran hati  seorang mega bintang, David Beckham yang dengan ikhlas meminta maaf pada Andik Vermansyah usai melakukan tekel keras pada saat LA Galaxy bertanding melawan Indonesia Selection. Para pemegang otoritas persepakbolaan kita juga harusnya berbesar hati untuk meyelamatkan kompetisi kita. Melupakan ego demi  masa depan sepak bola Indonesia. Jika tidak, maka kedatangan Beckham hanya akan menjadi hiburan sesaat. Dan yang lebih beruntung tentu saja hanya Andik Vermansyah dengan selembar kaos asli sang super star dan penyanyi cantik Syahrini dengan tandatangan asli plus kesempatan berinteraksi langsung dengan mantan pemain andalan Manchester United itu.

Demikian pula, Kebesaran hati, konsistensi dan janji seorang  Abraham Samad semestinya menjadi komitmen seluruh Elemen bangsa ini. Abraham Samad bukan dewa yang bisa mengurai sendiri benang kusut persoalan korupsi dalam waktu singkat. Korupsi di Negara kita adalah sebuah kelaziman sistemik dan menjadi biang inefisiensi ekonomi, semakin tingginya jumlah pengangguran, kemiskinan, serta terus menurunnya daya saing kita di dunia internasional. Belum lagi citra buruk Negara berlimpah sumber daya alam ini akibat ulah para koruptor. Euforia terpilihnya Pimpinan KPK plus ketua yang baru akan berakhir anti klimaks jika sebagian pemangku kepentingan bangsa ini setengah hati melawan praktek korupsi itu sendiri.

Menyaksikan belum maksimalnya pemberantas korupsi, tidak salah jika banyak pengamat yang menyebut Tanah Air kita ini sebagai negeri para koruptor, Indonesia ini menjadi surga buat mereka. Seperti halnya gelar sebagai negeri Sepak Bola, di mana olah raga terpopuler sejagad raya tersebut menjadi Surga bagi seluruh anak negeri yang butuh hiburan ditengah himpitan persoalan hidup. Sepak Bola dan persoalan korupsi bangsa kita butuh dewa penyelamat. Dan dewanya tentu tidak berada ditangan orang – perorang. penangannanya tak boleh parsial. Keduanya butuh komitmen, ketulusan dan kemauan bersama. Dan Mari optimis, karena selalu ada pelangi setelah badai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s