Cerita tentang Ferdi

Kalau anda pekerja kantoran, Di tempatnya pasti dong ada Office Boy . Di kantor – kantor besar biasanya mereka adalah pekerja yang memang di bawahi oleh perusahaan outsourching penyedia layanan cleaning service atau pekerjaan apapun yang oleh perusahaan bersangkutan kemudian diserahkan kepada pihak ketiga. Mungkin, agar produktivitas perusahaan bisa lebih baik karena tak lagi mengurusi persoalan di luar core business mereka, seperti membersihkan lantai, ruangan kantor dan hal – hal yang berbau tetek bengek.

Di kantor saya pun ada office boy (OB), Namanya Ferdi. Lengkapnya Ferdinandus Harto. Di Acoount Facebooknya tertulis nama Ferdinandus Gotzegooner. Belakangan saya tau kalau nama itu adalah kombinasi antara nama Ferdi dan nama Mario Gotze, Pemain Timnas Jerman dan Borussia Dortmun yang menjadi idolanya. Sementara Gooner adalah sebutan Fans Arsenal di seluruh dunia. Yaa.. Ferdi ini pecandu sepak bola sekaligus netizen sejati. Kegemarannya terhadap sepak bola dan dunia maya hanya sebagian kecil dari sisi – sisi menarik ( baca : unik ) dari seorang ferdi. Dia juga suka bikin status alay di facebook, teriak – teriak menyanyi lagu – lagu ST – 12 dan menonton sinetron Indosiar. Artis idolanya adalah Choky Andriano🙂 . itulah sederet Keunikan lain Ferdi yang tak hanya membuat seisi kantor kadang mengerenyitkan dahi atau geleng – geleng kepala, tapi juga kerap harus mengurut dada menahan kesal.

Di awal – awal dia diterima sebagai OB, untuk ukuran pekerja kantor ( meskipun berada di level low ), ferdi yang masih berstatus mahasiswa perguruan tinggi swasta ini, tak memiliki mapping yang baik terhadap pekerjaanya. Pun dari segi insiatif, dia tak bisa dikatakan memilki kemampuan memadai. Ferdi belum tau kapan harus mendahulukan hal yang lebih urgent disituasi tertentu. Contohnya : ketika sedang membersihkan lantai dan tiba – tiba ada tamu, dia memilih menyelesaikan pekerjaanya ketimbang menundanya untuk menyiapkan minuman buat tamu tersebut. Saya sendiri pernah dibuat geleng – geleng kepala ketika meminta membuka pintu salah satu ruangan dan hampir tak bisa menahan emosi ketika saya dapati dia berbaring di kamarnya. Alasannya :  lupa !, padahal dia hanya minta izin kekamar buat nyari kunci ruangan😀 .

Seorang rekan kerja pernah dibuat senewen karena disuguhi air putih hangat tanpa gula, padahal maksud permintaanya adalah Teh Hangat tanpa gula🙂 . Sederet kejadian – kejadian aneh itu juga sering dirasakan teman – teman sekantor saya yang lain. Penilaian umum yang berkembang, Ferdi ini terbiasa menunggu komando dan terkesan lambat loading alias. Malas, kurang cakap, suka mengeluh dan membantah serta  sejumlah predikat buruk yang melekat padanya. Alhasil dia menjadi bulan – bulanan seluruh penghuni kantor. Alih – alih berubah, Ferdi malah semakin menujukkan penurunan kinerja. Ujung – ujungnya, ketika persoalan ini sampai ke telinga pimpinan, wacana pemecatan tiba – tiba berhembus bersamaan dengan isu reshufle di kabinet Indonesia Bersatu II. Bedanya ketika beberapa menteri di copot, Ferdi aman setelah berjanji didepan pimpinan untuk berubah dan bisa bekerja lebih baik.

Pasca momen itu, saya berkesempatan berbincang empat mata dan dari hati ke hati dengan Ferdi. Sebagai sesama penggemar Arsenal yang kadang bertukar informasi, kami memang sedikit lebih dekat. Dan yang mambuat saya kaget, ketika dengan mimik serius dia mengajukan pertanyaan. “Apakah menurut mas, saya memang benar – benar buruk dalam bekerja?” saya sebenarnya tak siap menjawab pertanyaan itu. Dan tentu saya tak ingin meruntuhkan moralnya dengan mengatakan hal – hal yang dikeluhkan teman – teman saya. “Kamu itu sebenarnya tidak terlalu buruk fer, hanya saja perlu belajar lebih banyak untuk bisa lebih baik” Jawaban yang teramat garing dan terkesan mengambang, tapi dalam kondisi agak terdesak, itulah yang bisa saya katakan.

Sejurus kemudian meluncurlah pengakuan dosa dari mahasiswa calon sarjana ekonomi itu. Singkatnya mungkin seperti ini : saya sadar saya malas mas, itu karena dikeluarga saya, ibu dan bapak saya tidak membiasakan saya untuk bekerja. Soal membantah dan lupa, itu karena saya stress mengahadapi semua orang yang memarahi saya., padahal saya hanya ingin di tunjukkan saja mana yang harus saya kerjakan dan mana yang tidak, karena terus – terang saya sangat tidak biasa bekerja di rumah saya. Tapi saya mau berubah, buktinya pekerjaan ini saya terima meskipun ibu saya dikampung melarang bekerja karena takut saya tak bisa melakukan pekerjaan yang tidak pernah sekalipun saya lakukan dikampung. Saya juga bekerja karena ingin melanjutkan kuliah saya. Orang tua saya  tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliah saya.

Pengakuan laki – laki berambut ikal itu membuat tiba – tiba saya terharu sekaligus tersadar, kadang saya dan mungkin juga orang – orang dikantor ini, terbiasa melihat sisi buruk seseorang tanpa ada niat mendalami lebih jauh karakter dan sisi lain orang tersebut. Terlepas dari segala kekurangannya, sisi baik Ferdi, dia selalu ingin berubah dan mau di bimbing. Mungkin juga saya sangat jarang mau mengapresiasi hasil kerjanya dan terlalu fokus mengkritik semua kesalahannya. Ujung – ujungnya dia menjadi under pressure dan bukannya menjadi lebih baik.

Saya jadi teringat sama Ob yang dulu. Pernah suatu waktu ketika dia cuti dan mesin Air dikantor ngadat, kami semua terkena imbasnya. Mau BAB saja kami harus balik kerumah atau numpang di kantor sebelah kalau pengen berwudu’, padahal kalau dia ada dikantor, masalah itu akan selesai dalam hitungan menit. Saat dia libur tersebut, saya pribadi pernah kelimpungan karena tak bisa menggunakan printer yang sedang kehabisan tinta ( selama ini saya terbiasa minta tolong OB saat ingin mengisinya kembali ). finally, Siapapun dalam sebuah lingkungan kantor memiliki peran yang penting meski kerap kita nilai sepele. Dan lagi, setiap individu hadir dengan segala kelebihan, kekurangan, bakat dan sifatnya masing – masing, untuk saling melengkapi dengan orang lain di sekitarnya, itu teori tentang ilmu sosial yang pernah saya pelajari.

Bakat lain ferdi adalah : Jadi Model !

Sejak curhat colongan si Ferdi itu, setiap pagi saya akan menyapanya akrab “Wah lantainya bersih sekali setelah kamu pel, ruangan saya juga jadi harum. tapi kamu lupa ngelap kacanya ya ? teh nya juga belum siap”. Sejurus kemudian dengan senyum polosnya dia akan berujar. Siap Masss!!!. rupanya dia mulai belajar bekerja dengan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s