With Trinity

Dua minggu lalu tepatnya pukul sembilan Malam saat pertandingan sepakbola antara Indonesia dan Malaysia masih berlangsung, Handphone saya bergetar. BBM dari seorang teman jauh!.

Biasanya kalau sudah bicara bola, jangan kata BBM, Jessica Alba lewat depan jidat  sekalipun, saya akan bergeming. Tapi karena yang kirim pesan adalah teman yang lama tak saya dengar kabarnya kecuali lewat status facebook dan timeline di account twitternya. Sayapun membalas ” kabar baik mbak Trinity”.  Ya, BBM itu dari Trinity Traveler. Nama aslinya Perucha Hutagaol.

Nggak tau siapa dia ?  Trinity adalah penulis beberapa judul buku Best Seller seperti seperti “The Naked Traveler”, “The Naked Traveler 2”, “The Naked Traveler 3”, graphic travelogue berjudul “Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium” dan anthology “The Journeys”.

20 Tahun lebih Trinity  menjelajah dunia dan menuliskan pengalaman jalan-jalannya pada sebuah blog dan diterbitkan melalui beberapa buku. Tulisannya terkenal informatif dan menghibur. Tidak salah jika kemudian dirinya dianugerahi Indonesia Travel & Tourism Awards 2010 sebagai Indonesia Leading Travel Writer dan Majalah JalanJalan menyebutnya sebagai Manusia Inspirasional yang Memberi Kontribusi bagi Dunia Pariwisata 2010. Belum ngeh juga ? berarti anda yang kurang gaul ! he he he..

Singkat cerita, ternyata teman baik saya ini ( ngakunya sih🙂 ) akan berkunjung ke Makassar dan minta bantuan  diantar mengelilingi pantai Losari untuk keperluan tulisan pada majalah travel bernama “Venture”, tempat dia menjadi Editor In Chief.

Tanpa ragu saya mengiyakan meski harus me reschedule beberapa agenda. Sebuah janji yang akhirnya mempertemukan kami dan seorang fotografer di keriauhan khas pantai losari saat minggu pagi, di itengah kerumunan pengunjung, sesaknya penjaja makanan, ramainya penjual obat dan deretan pedagang kaki lima sampai penjual hewan piaraan. Kondisi yang buat saya pribadi, tidak terlalu ideal untuk ditulis pada majalah sekelas Venture. tapi saya selalu yakin, dengan jam terbang yang dimilikinya, Trinity pasti bisa menemukan angle menarik ditengah situasi crowded sekalipun. Dan betul juga, kontes Ayam Ketawa menjadi targetnya.

Liputan selesai, Coto Makassar jadi sasaran untuk sarapan pagi setelah mengelilingi losari yang masih saja disesaki pengunjung meski jam sudah menujukkan pukul 8 pagi. Perbicangan kamipun mengalir soal makassar yang sudah terasa panas dipagi hari sekalipun dan berbagai obrolan ringan lainnya. Berusaha menjadi warga kota  yang baik, sayapun berinisiatif menceritakan sisi – sisi baik makassar yang kerap tertutupi oleh pemberitaan aksi demonstrasi di televisi, termasuk visi makassar menjadi Kota Dunia.

Saat hidangan coto Makassar belum juga tersaji, seorang pengamen yang usianya masih sekitar 10 tahunan muncul menyanyikan lagu yang nggak banget😦. Trinity menujukkan bahasa tubuh menolak kehadiran mereka, tapi pengamennya tak beranjak. Tak ingin suasana menjadi runyam, saya pun merogoh lembaran seribuan dari kantong celana. Urusan selesai ? sepertinya tidak. Hanya berselang beberapa menit, pengamen lain datang. Trinity mulai terlihat kurang nyaman, sayapun kembali menetralkan suasana lagi – lagi dengan selembar uang seribuan.

Sayapun mulai gerah ketika pengamen ketiga datang. “Nggak Dek” ucapku lantang dengan mimik muka segalak – galaknya. Saya menjadi malu sendiri telah menceritakan predikat Kota Dunia yang menjadi cita – cita pemerintah kota. Bukan apa – apa, saya tau betul reputasi teman saya yang telah mengunjungi 44 Negara dan pasti paham benar predikat kota Dunia yang sebenarnya.Kota yang tak hanya menyuguhkan kemewahan dengan gedung bertingkat nan menjulang, Fasilitas perbelanjaan dengan desain yang futuristik, Sarana dan prasarana kota yang mewah, tapi juga mampu menyiapkan space untuk warganya malakukan aktivitas dengan nyaman.

Kota dengan status Kota Dunia, adalah ruang dimana para pejalan kaki tak harus terganggu oleh pedagang kaki lima yang berderet serampangan. Pengguna sepeda tak harus bersaing dengan kendaraan becak motor yang memotong jalan seenaknya. Anak mudanya tak mesti menggunakan fly over untuk pacaran karena tak cukup tersedia taman – taman kota untuk mereka melewatkan waktu. Dan tentunya tak terganggu pengamen plus tingkah mereka yang kurang simpatik. Makassar masih sangat intim dengan fenomena – fenomena itu.

Trinity, Saya dan sebagian warga kota yang lain, mungkin akan takjub dengan dengan apa yang kasat mata terlihat di kota yang terus menggeliat ini. Namun jauh didalam hati seluruh warga kota, mereka hanya ingin diterima menjadi penghuni yang semestinya. Ketika beton terus tumbuh, saat akan buang hajat di tempat umum, kami juga ingin ada fasilitas yang dengan mudah kami akses.

Penduduk kota ini pasti tak sudi menjadi warga yang asing di kota mereka sendiri karena tiap sudut kota sudah menjadi milik pemodal dan investor. Selanjutnya, kami sebagai warga harus berebut kenyamanan dan eksistensi dengan pengamen, tukang bentor ( becak motor ) dan para PK Lima karena mereka mungkin tak memiliki ruang – ruang hidup dan arena mengaktualisasikan diri di tempat lain. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s