Sudahlah Indonesia

Tak ada yang perlu disesali dari kekalahan Indonesia muda  atas Malaysia. Dari segi teknik, mental dan stamina, Tim Harimau Malaya memang lebih dominan. Beralapang dada itu lebih baik ketimbang terus mencaci dan meratap. Yang perlu dilakukan oleh pemegang otoritas persepakbolaan kita sekarang adalah belajar dari kekalahan untuk membentuk timnas sepak bola yang lebih baik di masa mendatang, minimal bisa berbicara di level  Asia Tenggara. Sudah terlalu lama jutaan rakyat Indonesia menahan dahaga gelar juara yang tak kunjung terpuasakan oleh timnas kita, Timnas senior ataupun tim U – 23 yang baru saja berlaga di SEA Games. Status sebagai tuan rumah, sejatinya menjadi  kesempatan berharga  untuk merebut  gelar tersebut setelah sempat kita raih tahun 1991 lalu. Tapi kenyataan berbicara lain. Terlepas dari faktor teknis, Indonesia memang belum beruntung !.

Sekarang saatnya kita menatap ke depan, kembali merancang sistem kompetisi yang lebih baik untuk menghasilkan Timnas yang dapat di andalkan pada event berikutnya, memperbaiki skema pembinaan yang selama ini menjadi kunci dalam keberhasilan sebuah tim sepak bola. Optimisme harus terus dibangun di tengah minimnnya prestasi Tim Nasional. Estimasi 240 juta penduduk tentunya bukan jumlah yang sedikit untuk mencari 11 orang pemain bertalenta demi  menuntaskan dahaga gelar seluruh pencinta sepakbola di tanah air.

Tapi masikah ada harapan itu saat kondisi persepakbolaan kita sedang carut marut seperti saat ini? di tengah pertanyaan banyak kalangan soal Liga Indonesi  yang sebentar lagi akan bergulir ? Sepak bola kita memang penuh ironi. Saat LSI ( Liga Super Indonesia ) berjalan, muncul liga tandingan bernama LPI ( Liga Primer Indonesia). saat LPI diadopsi dalam kompetisi kita, LSI jadi liga pelarian. Hingga beberapa hari jelang bergulirnya Liga Indonesia 2011 – 2012, belum ada kejelasan soal jumlah peserta kompetisi akibat beberap klub yang masih bimbang memilih dua liga yang akan bergulir. Jadwal pertandinganpun akhirnya jadi berantakan.

Sedikit melongok ke Negara seberang. Irak yang negaranya masih jatuh bangun pasca perang yang berkecamuk selama puluhan tahun, masih bisa berbangga karena prestasi timnas sepak bola nya. Negara – negara di Afrika yang kerap dilanda kelaparan dan perang saudara, masih bisa menegakkan kepala karena sepakbolanya bisa berbicara di level internasional. Indonesia yang Liganya bergulir reguler plus gelontoran dana APBD yang tidak sedikt, harus menelan pil pahit setiap Firman Utina dan kawan – kawan tertunduk lesu meninggalkan arena pertandingan. Kekecewaan atas kekalahan timnas tentu masih tertinggal dibenak kita ketika Malaysia mempecundangi Bambang Pamungkas dan kawan – kawan di piala AFF tahun 2010 lalu, bagaimana mereka terseok – seok di Pra Piala Dunia, dan yang terabaru adalah kekalahan Timnas U–23 lagi – lagi dari negara tetangga kita, Malaysia.

Prestasi memang tidak di raih dari sebuah proses yang instant. Malaysia yang baru saja memastikan gelar juara sepak bola di ajang SEA Games, telah melalui proses pembinaan dan uji coba yang terpola. Mereka melakukan uji tanding di Slovakia dan ikut serta dalam turnamen VFF Cup di Vietnam, Plus friendly match dengan klub Liga Inggris Chelsea yang berkesudahan dengan skor 0 – 1. Pemain – pemain yang berlaga di Senayan kemarin pun adalah talenta – talenta muda mereka yang ikut mengantarkan Malaysia meraih emas di SEA Games Laos 2009 lalu. Sementara pemain seperti Muslim, Mahali dan penjaga gawang Fahmi adalah bagian dari skuat Harimau Malaya di piala AFF 2010 kemarin.

Ketika bicara soal tangga mencapai pretasi tertinggi, kompetisi yang sistematis dan pembinaan yang skematik tentu menjadi jawabannya. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang sedang gamang dengan kompetisi sepakbolanya ?.  Saat kompetisi masih berjalan normal saja, Timnas kita selalu gagal mempersembahkan piala untuk rakyat Indonesia. Lalu apa yang bisa kita harapkan saat format kompetisi kita masih penuh tanda tanya seperti sekarang ?. Liga yang seharusnya menjadi kawah candradimuka sebuah Tim Nasional yang mempuni, tidak mampu kita gelar secara permanen dan terorganisir. Selalu ada nuansa lain yang mewarnai kompetisi dan dunia sepak bola kita yang kadang justru teramat jauh dari nilai – nilai dan substansi sepak bola itu sendiri. Kompetisi akhirnya menjadi kontra produktif

Ya,  Ancaman dualisme kompetisi akan kembali menjadi isu hangat pasca hingar bingar sepakbola Sea Games. Bagaimana talenta – talenta muda kita di timnas U–23 yang sudah menunjukkan performa yang menjanjikan itu bisa mendapatkan pembinaan yang maksimal jika kompetisi kita masih misorientasi. Taka urung, Kapten Timnas U–23 Egi Melgiansyah memberi komentar terkait persoalan ini. Pemain asal klub Pelita Jaya tersebut berharap konflik dualisme segera surut. Keprihatinan Egi yang disampaikan sebelum laga melawan Malaysia tentu mewakili suara hati jutaan rakyat Indonesia yang berharap kompetisi kita bisa melahirkan tim nasional yang lebih baik.

Dualisme penyelenggaraan liga juga berimbas pada klub sepakbola kita. Beberapa klub sepakbola professional di Indonesia terbelah karena persoalan dualisme tersebut. Persija Jakarta terpecah menjadi dua kubu, pun dengan Persebaya Surabaya. Kabar terakhir, pengelola Sriwijaya FC sedang bimbang dan menunggu titah dari Gubernur Sumatera Selatan sebelum menentukan kemana Laskar Wong Kito Galo akan berkiprah pada kompetisi musim ini. Klub terpecah, pendukung terbelah, dan tunggulah bagaimana sebagian media besar yang sudah terkoptasi dengan kepentingan pemilik yang “kebetulan” adalah petinggi partai politik, akan memainkan agenda setting sesuai kepentingan mereka masing – masing. Konten pemberitaan tidak lagi mengedepankan substansi. Semuanya ditujukan pada upaya mempengaruhi opini publik untuk mendukung atau menolak liga yang sedang bergulir.

Lalu kapan kita akan berbicara prestasi ?, Kapan kita merancang sebuah pola pembinaan yang sistematis dalam jangka panjang jika PSSI hanya sibuk melakukan pendekatan kepada klub yang sudah terlanjur tersekat – sekat ?. Sibuk melakukan konsolidasi internal karena perbedaan pendapat para petingginya terhadap hal – hal yang sangat fundamental dalam sebuah liga, Format dan jumlah peserta kompetisi. Kita masih terus berkutat dengan kongres, Munaslub, statuta FIFA, format kompetisi dan rapat Exco.

Yang kasian adalah supporter kita, masyarakat Indonesia yang sudah sangat lama merindukan tim sepak bola kita bisa berprestasi. Mereka yang menjadikan sepakbola sebagai hiburan ditengah berbagai himpitan ekonomi dan persoalan hidup. Mereka yang menemukan surga di sepakbola, Mereka yang harus berdesak desakan masuk kedalam stadion untuk sebuah fanatisme, bahkan harus mengorbankan nyawa mereka seperti dua orang penonton yang harus meregang nyawa sebelum Indonesia menghadapi Malaysia di Senayan. Haruskah ambisi politik dan kekuasaan sekelompok orang yang bermaksud menunggangi kompetisi sepakbola memupus harapan jutaan Indonesia yang sangat rindu prestasi timnas kita ?

Selama politik dan sepak bola belum bisa dipisahkan, yakinlah, prestasi Indonesia akan jauh api dari panggang. Meski sebenarnya Tali temali politik dan sepakbola sebenarnya bukanlah hal yang baru. Fernando Collor De Mello terpilih menjadi presiden di Brasil pada usia 40 tahun berkat pengaruhnya yang sangat kuat pada persepakbolaan di negeri itu. Pun Silvio Berlusconi, pemilik klub AC Milan dan mantan penguasa Italia telah membuktikannya. Tapi tentu lain di Italia dan Brasil, lain pula di Indonesia. Di Italia kawin mawin antara politik dan sepak bola bisa melahirkan prestasi karena sistem kompetisi mereka sudah sangat mapan bahkan sudah menjadi sebuah industri. Bukan hanya itu, Berlusconi dan Fernando memang menjiwai sepakbola dan bukan politisi yang latah mengurus sepakbola karena syahwat kekuasaan dan berusaha meraup dukungan dari olahraga sejuta penggemar itu.

Politisi mengurus sepakbola bukanlah sesuatu yang tabu. Tapi tidak berarti dengan uang dan power, dengan seenaknya mereka mengobok – obok sistem kompetisi. Mengacaukan pakem yang sudah ada karena ingin menjadikan sepak bola sebagai titian menuju kekuasaan. Menunggangi fanatisme dan soliditas dari olahraga terpopuler tersebut untuk melanggengkan tirai politik mereka. Kita tak akan pernah mengangkat trophy selama sepakbola masih menjadi ladang para pemangku kepentingan negeri ini menguatkan Hegemoni kekuasaanya. Apapun itu, mari kita tetap optimis ! Selalu ada pelangi setelah badai.

One thought on “Sudahlah Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s